Ilustrasi Tidur (foto : Antara)

KBR, Jakarta _ Anda susah tidur? Kalau dibiarkan, akan merugikan fisik dan kesehatan, lho. Jadi harus dicari tau penyebabnya.

Menurut Psikolog, Widya Cynthia Sari, arti insomnia secara umum adalah susah tidur. Tapi, secara ilmiah, insomnia adalah kondisi dimana seseorang merasakan kurangnya kualitas tidur. Misalnya, susah menjaga agar tetap tertidur, atau tidur bangun, tidur bangun, tak nyenyak. Bahkan, ada yang terlalu cepat bangunnya, tidur cuma satu jam, lantas terbangun.

“Dikatakan seseorang menderita insomnia, jika dia mengalami hal-hal tersebut dan sudah terjadi sebulan terakhir. Gejala-gejala tadi, dalam seminggu munculnya bisa 3 kali, tak harus setiap hari. Kalau sudah menderita insomnia, seseorang akan kelelahan, terganggu konsentrasi dan suasana hati atau emosi. Bahkan, insomnia jika sudah parah, akan muncul komplikasi lain seperti ke jantung,”  ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Klinik KBR, Selasa (25/8/2015).

Ia menambahkan, faktor pemicu insomnia bisa karena stres, cemas, atau bisa juga karena kondisi medis, seperti hormonal, kerusakan otak dan alzeimer. Bisa pula dipicu obat-obatan atau kafein yang terdapat pada  kopi. Nah, Anda yang sering mengalami perubahan aktifitas atau perubahan  jam kerja, kalau sulit beradapatasi, bisa juga lho memicu insomnia. Apalagi, kalau di kamar tidurnya ada suara TV dan lingkungannya ramai, bisa mengganggu waktu tidur juga.

“Insomnia tak hanya terjadi pada usia produktif atau dewasa, anak-anak bahkan orang yang sudah memasuki usia lanjut, serkitar 60 tahun ke atas pun, bisa terkena insomnia, ” katanya.

Berat atau tidaknya gangguan insomnia, kata Widya, tergantung dari ekspektasi seseorang. Misalnya, dampak yang ditimbulkan dirasakan ringan atau sudah sangat mengganggu. Widya menyarankan, meski seseorang menderita gangguan tidur, jangan minum obat tidur sembarangan, karena bisa terjadi penyalahgunaan obat dan ketergantungan. Kalau pun harus mengkonsumsi obat tidur, harus dengan resep dokter.

Makanan pun harus diperhatikan. Ada makanan yang katanya bisa membuat tidur nyaman, seperti susu atau makanan berserat lainnya, namun, kata Widya, makanan ini tak serta merta berdampak. Hindari pula cafein, makanan yang terlalu tinggi gulanya dan makan berat mendekati jam tidur. Karena, hal ini membuat tubuh akan bekerja extra dan malah membuat susah tidur.

Untuk  mensiati agar mudah tidur, berolahraga sebelum tidur bisa saja memberi kesempatan tubuh untuk melakukan metabolisme secara optimal, jadi siklus tubuh teratur. Tapi, Widya menyarankan agar jangan terlalu kelelahan. Selain itu, tidur siang pun dibatasi waktunya, supaya tak kesulitan ketika tidur di malam hari.

“Tidur  berlebihan juga tidak baik, 6-8 jam sudah cukup. Jika masih ngantuk, bisa jadi ada gangguan lain, apakah karena aktifitas sehari-hari yang berat sehingga harus istirahat yang lama atau stres ? So, jika ingin menjaga kualitas tidur yang baik, kita harus mengatur manajemen waktu dari aktivitas sehari-hari, agar aware/peduli terhadap reaksi tubuh,” pungkasnya.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!