Didik Nini Thowok (foto: Antara)

Kesenian Indonesia yang terbentang dari Sabang sampai Merauke menyimpan ribuan kekayaan kreatifitas. Mulai dari kreatifitas keragaman lagu daerah, tarian, busana hingga elemen-elemen budaya lain

Namun, sayang, menurut Maestro Seni Tari Indonesia, Didik Nini Thowok banyak pejabat yang memanipulasi dengan mengubah budaya karena ditunggangi kepentingan politik.

“Kenapa  tradisi budaya yang sudah ratusan tahun diubah oleh pejabat berwenang di daerahnya? Itu yang sebenarnya merusak,” ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Daerah Bicara, Rabu, (26/8/2015).

Didik mengaku, ia  melacak hal ini saat ada orang asing yang meneliti seni budaya Indonesia, yang mempertanyakan budaya di suatu daerah ada yang diubah. Dari hasil penelusurannya, rupanya, sang bupati setempat yang mengubah budayanya untuk tujuan politik tertentu.  Namun, Didik tak mau menjelaskan daerah mana dan apa  yang diubah dari budayanya itu.

Tak hanya itu kekecewaannya.

Didik bercerita, beberapa tahun lalu, saat ia  membuka website tentang pakaian adat Indonesia,  yang muncul hanya beberapa keterangan saja, tidak detail. Tetapi saat ia membuka website Malaysia,  justru keterangan yang diberikan website budaya tersebut sangat lengkap.

“Waduh, luar biasa, detil sekali informasi websitenya. Dari detail  kostum, tariannya berasal dari mana, fotonya juga profesional. Padahal budaya kita lebih kaya dari Malaysia, lho. Harusnya kita bisa melakukannya, karena kita  punya banyak orang yang ahli,” ujarnya.  

Untuk itu, Didik menyarankan agar Indonesia memiliki data base budaya nasional, seperti tarian dan alat musik tradisional, berikut penjelasan kostumnya. Karena dibalik sentuhan seni/budaya, ada pemahaman dan filosofi yang menarik.

“Tiap-tiap daerah harusnya dihidupkan data lengkap tarian di daerah masing-masing, disertai dengan foto dan deskripsinya, agar memudahkan bagi orang-orang yang ingin belajar seni budaya,“ paparnya.

Didik pun berharap agar kesenian dan budaya daerah wajib diajarkan di sekolah-sekolah atau dimasukkan ke dalam kurikulum. Tujuannya untuk pelestarian dan mengenalkan budaya sejak dini  kepada anak-anak.

Dengarkan audionya >>> disini

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!