KBR - Sudah sekitar dua pekan anak-anak sekolah kembali beraktifitas di tahun ajaran baru. Kenaikan kelas biasanya berpengaruh pada tambahan mata pelajaran yang diikuti dengan tambahan beban buku-buku pelajaran. Ini berpengaruh pada beratnya beban tas ransel yang dibawa anak setiap harinya ke sekolah.

Menurut dokter Theresia Diah Arini, SpKFR Spesialis Rehabilitasi Medik, pembebanan pada bahu atau kepala akan mengubah postur tubuh, karena tubuh  menyesuaikan keseimbangan. Nah, kalau anak sering membawa tas ransel berat, selain badan akan membungkuk, berpengaruh pula pada pernafasan, lho.  Kenapa bisa begitu..?

Berikut penuturan Theresia Diah Arini saat berbincang bersama KBR pada program Klinik KBR, Selasa (11/08/2015).

“Pada saat memakai tas ransel, leher anak menjorok ke depan dan punggung atau bahu pun  akan membungkuk, berjalannya pun pelan, kalau dibiarkan posturnya akan menyesuaikan yaitu membungkuk. Yang jadi masalah adalah di dalam ruas tulang belakang ada syaraf yang mengatur gerakan tangan dan kaki. Kalau posisi tulangnya membungkuk lama,  lingkar dada akan menyempit. Kalau sudah begitu akan mempengaruhi pernafasan. Selain itu, otot yang menegang juga bisa menekan syaraf yang bisa membuat anak kesemutan dan nyeri di lengan,” ujarnya.

Dokter yang akrab disapa Ririn ini menambahkan, beban berat tas ransel yang dipanggul anak, sebaiknya maksimal 10 % dari berat badan. Misalkan, berat badan anak 25 kg berarti berat ransel jangan lebih 2,5 kg. Jika beratnya berlebihan, akan mengakibatkan  perubahan postur dan tulang punggung.

Efek nyeri, cepat dirasakan oleh anak. Menurut Ririn, dalam dua  minggu anak sudah mengeluh nyeri. Jika dibiarkan selama 6 minggu saja, sudah kelihatan posturnya miring ke kanan/ kiri bahkan membungkuk.

“Usia 5-6 tahun sudah aman untuk memanggul tas ransel, karena diusia itu tinggi anak sudah mencapai sekitar 100-110 cm, jadi sudah bisa menempatkan tas ransel  di antara  bahu dan pinggang, sebagai salah satu syarat tas ransel yang baik. Diusia ini juga, berat badan anak sudah 8-20 kg, jadi sudah bisa menjaga keseimbangan  saat membawa ransel, ” jelas dokter yang praktek di Rumah Sakit Siloam Jakarta Selatan ini.

Lama waktu untuk memanggul tas ransel, kata Ririn, cukup 30 menit. Karena  badan akan mengalami  penekanan pembuluh darah jika memanggul beban lebih dari satu jam.  Ririn mengibaratkan, jika kita duduk bersila saja, maka kaki akan kesemutan.

Nyeri, bisa disembuhkan jika kebiasaan membawa tas ransel yang berat dikurangi. Kalau rasa nyeri datang saat anak hendak berangkat ke sekolah, misalnya, langkah pertama yang dilakukan bisa dengan memberikan obat anti nyeri. Kalau rasa nyeri sudah parah, harus dikonsultasikan ke rehabilitasi medis untuk menentukan tindakan selanjutnya.

Bagaimana dengan dipijat? Bolehkah?

“Dipijat boleh saja. Namun gerakan pemijatan harus dengan lembut dan gerakannya melingkar, jangan ditekan. Karena kalau sudah nyeri karena dibebani ransel, jika  diurut dengan cara ditekan, bahu atau punggung akan bertambah cedera. Nah, kalau sudah dipijat namun belum ada perubahan bisa dikonsultasikan ke dokter, ” paparnya.

Untuk menghidari cedera pada anak, Ririn menyarankan, para orangtua jeli  memilihkan jenis tas ransel yang cocok untuk anaknya, agar tidak mengakibatkan pembebanan yang berlebihan.

Menurut Ririn, tas ransel yang baik adalah bahannya tidak berat, talinya lebar dan ada busa pada bagian tali bahu dan sisi ransel,  supaya empuk dan tak menekan tubuh. Tinggi ransel tak melebihi jarak antara bahu ke pinggang. Tali bahu, jangan dibiarkan panjang agar pas menempel di tubuh. Tas ransel yang ada tali di pinggang, juga pilihan baik, karena talinya bisa diikatkan  ke pinggang.

Walaupun disarankan idealnya anak cukup membawa beban 2 kg saja, namun jika memang harus membawa barang atau buku yang banyak, kata Ririn, bisa disiasati dengan tas ransel yang memakai roda.

“Untuk itu orangtua harus rajin mengecek tas anak, misal, besok akan membawa buku apa, maka buku atau barang yang tidak terpakai harus dikeluarkan dulu. Bawalah barang secukupnya. Jangan lupa, ajak anak untuk berolah raga,  supaya otot tulang sendinya berkembang dan kuat,” pungkasnya. 

Editor: Malika

 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!