Kopi Gayo, kopi

Wahai Sengkewe


Kunikahkan dikau dengan angin


Air walimu tanah saksimu, matahari saksi kalammu


Rimbun lah daun, maraklah buah, kekarlah batang, kuatlah akar


Bangkitlah semangat… 


“Mantra kopi” diucapkan Fikar W. Eda (48) di hadapan penonton. Laki-laki berambut keriting panjang ini adalah seorang seniman, sekaligus anak petani kopi. Dengan baju khas bercorak, Fikar teurs mengucapkan kalimat demi kalimat itu sembari diiringi musik khas dari tanah Rencong. Penampilan ini dilakukan dalam acara “Kopi Gayo:  Dalam Musik, Puisi dan Tari” di Galeri Indonesia Kaya, Jakarta Pusat, Kamis (14/8). 


Ini bukan sembarang rangkaian kalimat. Ini adalah mantra yang biasa diucapkan petani kopi di dataran tinggi Gayo, Aceh Tengah. Pelafalan mantra ini dipercaya akan membuat tanaman kopi menjadi lebih subur serta menghasilkan biji kopi yang melimpah. Mantra pun mereda seiring berhentinya musik yang mengiringi penyair tersebut. 


Fikar mengatakan pertunjukkan seni secangkir kopi Gayo ini terinspirasi dari kebiasaan masyarakat Gayo dalam meminum kopi.


“Jadi di Gayo itu minum kopi itu bisa 20 cangkir satu hari,” kata seniman Gayo itu. “Misalnya kita bertamu, tanpa ditanya pun tuan rumah langsung nyodorin kopi, itu harus kita minum, kalau tidak minum kita dianggap tidak menghormati.”


Ia menyayangkan kopi Gayo yang belum banyak dikenal masyarakat Indonesia. Kopi Gayo justru lebih laris manis di pasaran ekspor karena punya nilai jual biji kopi Gayo yang tinggi, sehingga langsung berpindah tangan dari petani ke tengkulak besar untuk diekspor. 


“Dalam rangka mengkampanyekan komoditas kopi Gayo di Indonesia, para seniman peduli kopi Gayo berinisiatif untuk mengkampanyekan ini melalui media yang kita kuasai yaitu kesenian,” kata Fikar dan Komunitas Rangkaian Bunga Kopi. 


Pertunjukan yang digelar kurang lebih selama satu jam ini, tidak hanya menampilkan upacara mantra kopi. Ada juga berbagai pertunjukan lain salah satunya sebuku atau rintihan dalam bahasa Gayo yaitu lantunan sajak bernada lirih yang bercerita nasib rakyat yang miskin. 


Kehidupan petani kopi Gayo memang tidak sehebat kopinya. Petani kopi Gayo kerap terlilit hutang para tengkulak. Liter demi liter buah kopi panen petani jadi jaminan. Sementara satu liter biji kopi basah hanya dihargai Rp 9000,-. Mau tak mau, para petani tersebut terikat terhadap sistem ijon yang merugikan mereka. 


Padahal tengkulak menjual biji kopi seharga Rp 200.000,- per kilo. Dapat dibayangkan betapa menderitanya para petani kopi karena ulah tengkulak ini. Padahal di mancanegara, harga kopi ini juga dihargai mahal per cangkirnya.


“Kopi ini konon sangat dihormati di luar negeri, kopi Gayo menjadi suguhan utama di beberapa kedai kopi di Eropa dan Amerika, Jepang, dan Korea. Harga satu cangkirnya bisa sampai 20 dolar,” katanya. 


Kopi Gayo disukai lantaran rasanya yang tidak terlalu pahit, aroma yang harum dan khas menjadi keunggulan dari kopi ini. Kopi ini pun dijual berdasarkan grade, seperti grade 1, grade 2 dan grade 3, semuanya tergantung dari kualitasnya.


Untuk meminum kopi Gayo pun punya cara tersendiri. Caranya, kopi Gayo diminum terlebih dahulu setelah itu bisa memakan gula aren untuk mengurani rasa pahit. 


Di ujung acara, penonton disuguhi dengan kopi Gayo yang telah diseduh untuk dicicipi bersama. Anda berminat mencicipi kopi Gayo?



Simak galeri foto dari acara "Kopi Gayo:  Dalam Musik, Puisi dan Tari" di sini

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!