Mengenal Kopi Gayo

Pahit dan harum, bisa dinikmati dengan gula aren.

Jumat, 15 Agus 2014 19:13 WIB

Kopi Gayo, kopi

Kopi Gayo dipetik dari perkebunan kopi rakyat dataran tinggi Gayo, Provinsi Aceh, di ketinggian 1250-1550 m di atas permukaan laut. Masyarakat Gayo klasik menyebut kopi dengan istilah “Kewe”.  


Kopi Gayo unggul dalam aroma dan citarasa. Kopi spesies arabika ini tumbuh secara organik tanpa menggunakan pupuk dan dikenal sebagai biji hijau karena sifatnya yang ramah lingkungan. Kopi ini di berdayakan oleh masyarakat aceh di tiga wilayah yakni: Aceh Tengah, Bener Meriah dan Gayo Lues, dengan total luas perkebunan 94.500 hektar. 


Bentuk biji Kopi Gayo ini pipih dengan garis tengah berada ditengahnya. Kelemahan kopi ini rentan terhadap embun beku (emun), hama dan penyakit, sehingga kacang (biji kopi) lebih sulit untuk dilindungi hingga masa panen. Selain itu, Bijinya pun matang pada waktu yang berbeda, sehingga harus dipilih pada waktu tertentu. Kopi Gayo sendiri mengandung kafein yang rendah dengan jumlah kafein sebesar 0,8 sampai 1,4 persen.


Cara pembuatan


Proses perkembangan kopi Gayo dimulai dengan bunga pertama yang berwarwa putih dan kemudian menghasilkan “cherry” merah matang yang berisi dua biji (gelondong). Buah merah dengan dua biji ini kemudian dipetik. Proses ini biasa di sebut “ngutip kupi”. Setelah buah dipetik lantas diproses menjadi gabah dengan proses penggilingan. Gabah itu harus difermentasikan selama semalam. Kemudian gabah tersebut dicuci sampai bersih dan dijemur sampai kering di atas terik matahari.


Setelah itu gabah itu dikupas kulitnya dengan menggunakan mesin pengelupas kulit gabah. Setelah terkelupas, bijinya yang disebut “oros” ini dijemur sampai kering. Lamanya pengeringan tergantung pada kadar airnya. Setelah itu baru disortir lagi dalam kategori ringan, menengah ringan, menengah, menengah-gelap, gelap, atau sangat gelap. Kemudian mereka diurutkan dan diberi label sesuai dengan kualitas atau grade.


Ketika kopi Gayo ini ingin dinikmati maka proses selanjutnya adalah dipanggang  atau “sele” dalam bahasa Gayo. Selanjutnya biji kopi panggang ini dihaluskan menjadi tepung atau bubuk dan siap digunakan sebagai minuman. Sebatang tanaman kopi hanya akan memproduksi sekitar satu sampai tiga kilo biji (oros) kopi  Gayo dalam satu tahun sehingga tanaman harus dirawat dengan baik.


Simak galeri foto dari acara "Kopi Gayo:  Dalam Musik, Puisi dan Tari" di sini


Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Begini Kata Wapres JK soal Ricuh di Mako Brimob

  • Perlambat Izin Usaha, Jokowi Siap Hajar Petugas
  • Kasus Novel Jadi Ganjalan Jokowi pada Pemilu 2019
  • Jokowi Perintahkan Polisi Kejar MCA sampai Tuntas
  • MKD DPR: Kalau Ada yang Bilang 'DPR Rampok Semua', Bisa Kami Laporkan ke Polisi

152 Napiter Mako Brimob Ditempatkan di 3 Lapas Nusakambangan

  • Abu Afif, Napi Teroris dari Mako Brimob Dirawat di Ruang Khusus RS Polri
  • Erupsi Merapi, Sebagian Pengungsi Kembali ke Rumah
  • Jelang Ramadan, LPG 3 Kg Langka di Rembang

pernah melihat atau bahkan mengalami sendiri perlakuan diskriminatif / ujaran kebencian di ruang pendidikan, tempat kerja, lembaga pemerintahan, dan ruang publik lainnya tapi tidak tahu lapor kemana?