kota tua, Lorong Rupa, Komunitas Reggae Kota Tua, Kota To Art, Boekhandel

KBR, Jakarta - Kepedulian akan pelestarian budaya dan Kota Tua tak hanya datang dari Pemerintah, tapi juga dari kelompok seni rupa di lorong Jalan Kali Besar Utara, Kota Tua.

Mereka ikut memberikan jiwa baru pada kawasan Kota Tua dengan cara unik: memberikan air minum gratis bagi masyarakat umum. Setiap hari mereka menyediakan dua galon air minum yang dijajarkan di depan lokasi perkumpulan mereka.

“Semula kita kasih gelas juga, tapi lantas diambil anak-anak,” cerita pencetus gagasan ini, Egi dari kelompok Lorong Rupa.

Menurut Egi, ide awalnya berasal dari tradisi di desanya, di daerah Purworejo, Jawa Tengah.

“Negeri ini kan kaya dengan air tapi melihat kondisi nyatanya air sebotol itu mahal. Teman-teman berupaya untuk berbagi saja dengan masyarakat luas dalam air minum,” jelasnya. Di desanya setiap rumah menyediakan air minum di luar rumah, dan itu bisa dimanfaatkan oleh para petani yang melintas untuk pergi ke sawah.

Kelompok Lorong Rupa sudah berkarya di kawasan Kota Tua selama 5 tahun belakangan. Mereka berkontribusi dengan mengadakan pelatihan seni rupa membuat patung atau menggelar pertunjukan musik bersama Komunitas Reggae Kota Tua. Gerakan ini mereka satukan dalam payung “Kota To Art”.

Dengan kreasi mereka, Lorong Rupa ingin membangun masyarakat yang mandiri di bidang ekonomi kreatif.  Menurut Egi, warga tak mesti tergantung pada pihak lain untuk memajukan pariwisata.

“Kita menciptakan momen, bukan menunggu momen. Itulah salah satu kunci penarik pariwisata. Kalau kita menunggu saja, kapan lagi orang mau melihat kita?”

Sementara Lorong Rupa bergeliat dengan cara mereka, “Boekhandel” dan bangunan tua lainnya mesti menunggu pemerintah untuk bisa tampil baru, dengan suntikan jiwa yang baru pula.


Simak galeri fotonya di sini

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!