kota tua, Boekhandel, toko buku, Gualtherus Johannes Cornelis Kolff, Candrian Attahiyyat

KBR, Jakarta - Tidak ada yang abadi di dunia ini. Kejayaan pun tak berkutik dengan waktu, terlebih jika tidak ada upaya menghidupkan makna kejayaan itu. 

Bangunan di ujung jalan dekat Kali Besar Timur kawasan Kota Tua adalah salah satu korban bergulirnya waktu. Terbengkalai selama puluhan tahun, bangunan ini terus kehilangan tubuhnya. Panas dan hujan merontokkan tubuhnya satu per satu. Kini dia tak beratap, setengah bangunannya sudah runtuh. Satu sisi tembok yang masih berdiri tegak dan dasar bangunan pun harus menopang sisa-sisa reruntuhan bangunan. Hanya bongkahan dan tanaman liar yang tersisa dari kejayaannya di masa lalu.

Padahal bangunan ini dulu adalah “Boekhandel”, toko buku paling terkenal di Batavia, terbesar di Asia Tenggara. Inilah salah satu peninggalan Belanda yang terabaikan di Kota Tua. Letaknya ada di belakang kantor pos Indonesia. Pedagang minuman yang sehari-hari berjualan di depannya pun tak tahu banyak soal bangunan ini. “Kantor biasa,” katanya, “Saya belum lahir juga sih.”

Identitas bangunan berupa ukiran “Boekhandel” yang berarti ‘toko buku’ sudah hilang tak berbekas…. seolah tak hanya bangunan fisik yang runtuh, tapi juga cerita sejarah yang dibawanya.

Toko buku

“Boekhandel” adalah toko buku sekaligus penerbit buku yang didirikan oleh pengusaha Belanda, Gualtherus Johannes Cornelis Kolff pada tahun 1860. Letaknya di Jalan Kali Besar Timur, Pinangsia, Taman Sari, Jakarta Barat.

Sebagai bagian dari pusat perdagangan internasional di masa itu, toko buku ini ramai dan laris manis didatangi warga. Tempat ini pun menerbitkan surat kabar ternama yaitu Java Bode dan Bataviaasch Nieuwsblad. Perusahaan ini berjaya hingga lebih dari satu abad. Namun, semua itu harus berakhir pasca kemerdekaan Indonesia.

Saat itu semua bisnis milik Belanda harus diserahkan kepada Pemerintah Indonesia. Toko buku ini pun dialihkan ke BUMN Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) pada 1948. Bangunan itu lantas berubah fungsi jadi kantor perdagangan. Ketika PPI bangkrut tahun 1998, seluruh aset bangunan termasuk buku-buku peninggalan Belanda diserahkan kepada negara sebagai jaminan.

Sejak itu pula buku-buku di dalamnya raib tanpa jejak, sesal pengamat sejarah Kota Tua, Candrian Attahiyyat.

“Pada saat Indonesia merdeka, daerah Kota Tua tidak menjanjikan secara ekonomi. Hanya digunakan sebagai perkantoran. Lalu benar-benar ditinggalkan tahun 1998 saaat Indonesia mengalami krisis nasional. Perusahaannya gulung tikar dan tidak buka usaha lagi di bangunan itu,” kata Candrian.

Selain toko buku, bangunan apa lagi yang akan dipugar?


Kota Tua Jakarta: Memberikan Jiwa Baru pada Raga yang Lama (2)


Simak galeri fotonya di sini


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!