Iwan Fals, lingkungan

KBR, Jakarta - Musisi yang terus gelisah, itulah Iwan Fals. Meski begitu kegelisahannya tak sekadar berbuah galau, tapi karya. Ada 63 album yang hadir dari pemikirannya soal apa yang terjadi di sekelilingnya. Iwan Fals bisa dihitung sebagai musisi paling produktif sejak era 1970-an. 


Iwan Fals dikenal dengan lagu-lagu kritik sosial, tapi sang legenda hidup ini pun punya catatan panjang soal lagu-lagu lingkungannya. 


Tahun 2006 misalnya, Iwan Fals menciptakan lagu “Tanam Siram Tanam” dan kampanye “Indonesia Menanam”. 


Tanam tanam tanam kita menanam/ Tanam pohon kehidupan/Kita tanam masa depan

Tanam tanam tanam kita menanam/ Jangan lupa disiram/ Yang sudah kita tanam

Siram siram siram yo kita siram/ Apa yang kita tanam/ Ya mesti kita siram 

 

Soal kerusakan lingkungan juga sejak lama jadi sorotan Iwan Fals. Ini bisa dilihat dari album Opini (1982). Lagu “Isi Rimba Tak Ada Tempat Berpijak Lagi” dan “Tak Biru Lagi Lautku” dengan jelas mengungkap kerusakan yang terjadi pada hutan dan laut di Indonesia. 


Semilir angin berhembus/bawa dendang unggas laut 

Seperti restui jala  nelayan 

Itu dulu / beberapa tahun yang lalu/ cerita orangtuaku

Sangat berbeda dengan apa yang ada 


Belakangan Iwan tak berhenti di menulis lagu soal isu sosial dan lingkungan, tapi turun tangan langsung dengan aksi. Salah satu kebiasaannya adalah turun bersama Orang Indonesia (OI) untuk menanam pohon setiap kali akan menggelar konser. Ini dilakukan misalnya saat konser di Boyolali, Subang dan Bali. 


“Alam sudah nggak ramah, dan saya kira dengan cara menanam pohon adalah salah satu jalan keluar,” jelas Iwan ketika menanam pohon untuk konser Peduli Lingkungan Iwan Fals ke Kampus, di Universitas Indonesia pada 2011 silam. 


Simak program baru "Fals Mania" setiap Kamis mulai 7 Agustus 2014 pukul 19.00 - 21.00 WIB di Green Radio 89.2FM Jakarta. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!