Iwan Fals, Winning Eleven

Dalam satu sesi debat capres, terlontar “perdebatan” soal koperasi. Kata ini membawa kita ke nama salah satu tokoh proklamasi, yang juga dikenal sebagai tokoh koperasi Indonesia yaitu Bung Hatta. Nama ini pula yang dijadikan lagu oleh Iwan Fals, legenda hidup musik Indonesia yang akrab disapa dengan nama Tanto. 


Selain sebagai proklamator, Bung Hatta juga dikenal sebagai bapak koperasi Indonesia. Pikiran-pikiran Bung Hatta mengenai koperasi sebagian dituangkan dalam bukunya yang berjudul “Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun” (1971). Tokoh yang akhirnya mengundurkan diri sebagai wakil presiden pada tahun 1956 itu digambarkan sebagai tokoh yang sangat dicintai bangsanya dalam lagu ‘Bung Hatta’. 


Hujan air mata dari pelosok negeri/Saat melepas engkau pergi/Berjuta kepala tertunduk haru/Terlintas nama seorang sahabat/ Yang tak lepas dari namamu


Lirik diatas cukup menggambarkan bagaimana Bung Hatta dicintai oleh bangsanya. Tidak ketinggalan pula catatan dari seorang anak Bung Hatta yang menyatakan bahwa jika beliau bepergian keluar kota bersama istrinya, beliau akan memperhatikan dimana letak sinar matahari itu bersinar.Jika letak matahari itu disebelah kanan, maka beliau akan meminta istrinya duduk disebelah kiri, begitupun sebaliknya. Hal mendetail semacam ini semakin menguatkan alasan mengapa ia sangat dicintai baik oleh keluarga dan bangsanya. Maka sangat pantas jika Iwan Fals memberi penghargaan berupa sebuah lagu kepada tokoh bangsa yang satu ini, melalui perannya sebagai musisi.


ILO mencatat, sampai Maret 2012, terdapat lebih dari 200.000 pekerja anak-anak usia 12 – 16 tahun. Sebuah data yang bisa jadi sangat memprihatinkan. Jauh sebelum data tersebut keluar pada tahun 1985 lewat album ‘Sore Tugu Pancoran’, Iwan Fals mengungkapkan keprihatinannya terhadap nasib anak -anak yang belum layak usia kerja namun harus mencari penghasilan untuk bertahan hidup dan mengenyam pendidikan lewat sebuah lagu dengan judul yang sama dengan albumnya. Di lagu itu Iwan Fals bercerita tentang Budi, seorang anak loper koran yang berjuang untuk hidupnya dan sekolahnya.


Sedikitnya lowongan pekerjaan membuat banyak pemuda dan pemudi menjadi pengangguran. Jika tidak mempunyai kenalan atau akses di suatu instansi tertentu, maka lulusan yang berkualitas sekalipun tidak dapat bekerja di tempat yang layak. Nepotisme masih sangat merajalela. Pemuda –-pemudi  berkualitas yang tulus ingin membangun negaranya dengan ilmu yang telah mereka dapatkan terhalang oleh faktor koneksi.  Kesimpulan seperti itulah yang kita dapatkan ketika mendengarkan lagu ‘Krisis Pemuda’ milik musisi yang pernah memenangkan lomba adzan se-DKI Jakarta ini di album KPJ (Kelompok Penyanyi Jalanan) pada tahun 1985. 


Dimana kusumbangkan tenaga, demi laju bangun negara/ Tapi tak sempat kuberbicara/ Lowongan kerja tak kudapatkan / Sistem Koneksi / Sistem Famili/ Merajalela di setiap instansi


Pada tahun 80-an, saat Indonesia mengorbitkan satelit Palapa, banyak orang yang berharap kemajuan teknologi informasi di Indonesia semakin pesat. Nama Satelit Palapa selalu menghiasi media massa di tahun 80-an. Iwan Fals adalah salah satu dari sekian banyak orang yang berharap kemajuan teknologi tersebut membawa dampak yang positif. Sebagai musisi ia juga merasa perlu menanggapi kemajuan itu secara kritis, oleh karena itu ia menciptakan lagu yang berjudul ‘Lancar’. Pesan yang dapat diambil dari lagu ini adalah dampak positif pembangunan hasilnya harus merata dan tidak boleh dinikmati oleh segelintir orang saja, dan tentu saja tidak membuat mandul hutan gundul.


Ini fenomena dunia. Pola komunikasi begitu cepat berubah.Sekarang ini berapa banyak orang yang hapal nomer telepon orang lain?Dulu ada orang yang bisa hafal lebih dari 1000 nomer telepon, tapi sekarang sayapun tak hapal nomer telepon sendiri. Zaman berubah dengan cepat, semoga ini berguna bagi hidup yang lebih bermutu lagi ke depan dan seterusnya lah.Kenapa Dajal? Karena saya liat ada kesamaannya dengan internet, HP, layar komputer dan sebagainya biasanya kan berlayar satu (Dajal pun bermata satu), walau mungkin ada yang banyak layar tapi yang diliat biasanya cuma satu. Mungkin inilah yang dimaksud dengan yang biasa kita dengar dari kisah - kisah ahli agama. 


Itu adalah penggalan tulisan tentang latar belakang lagu ‘dajal net’ di album terbaru mantan anggota band Babadotan (tanaman yang berbau tidak sedap yang sering ditemukan ketika mendaki gunung -red) ini. 


Pesan dari lagu tersebut sudah tergambar dari tulisan diatas, tetapi tidak ada salahnya untuk menyimak sebagian lirik jenaka sekaligus menyentil kita : 


Internet dekatkan yang jauh, Internet menjauhkan yang dekat

Otakku kutitipkan disitu, jadi malas mengingat malas belajar

Toh semuanya ada disitu, ayo mau tanya apa ayo

Tinggal klik, mbah google bisa menjawabnya

Sama seperti yang lain hobiku jadi suka nunduk

Di halte pasar, di rumah ibadah,di rumah sakit, disekolah

Bahkan di sidang parlemen pun orang-orang pada menunduk

Oh ilmu padi rupanya semakin berisi semakin merunduk

Program Winning Eleven Edisi Iwan Fals yang mengudara pada Jumat, 18 Juli 2014 pukul 11.00 WIB mengangkat soal Iwan Fals. 


Penulis MD Green radio dan penanggung jawab program


Simak program baru "Fals Mania" setiap Kamis mulai 7 Agustus 2014 pukul 19.00 - 21.00 WIB di Green Radio 89.2FM Jakarta. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!