Capres pilihan iwan fals, Iwan fals pemilu presiden, Iwan Fals jokowi

KBR, Jakarta – Selama masa Pemilu Presiden 2014 lalu, penyanyi legendaris Iwan Fals tidak pernah mengungkapkan siapa calon presiden pilihannya. Ini langkah yang berbeda dengan yang dilakukan oleh Slank, Glenn Fredly atau yang lainnya yang secara terbuka mendukung calon presiden Joko Widodo. Atau Ahmad Dhani yang secara terbuka juga mendukung calon presiden Prabowo Subianto. 


“Saya coblos dua-duanya!” kata Iwan Fals ketika diwawancarai oleh KBR dan Green Radio di studio KBR, Jumat (8/8/2014). 


Iwan mengaku sudah membaca program dan rekam jejak kedua calon presiden, tapi tidak ingin mendeklarasikan siapa capres yang dia dukung. “Saya juga tidak pernah tahu karena saya mengurus gitar C, G bikin pusing kepala saya. Bukan saya tidak peduli tapi saya tidak paham.”


Salah satu pertimbangan Iwan untuk tidak mendeklarasikan pilihan politiknya adalah para fans. “Toh suara saya satu, apalah artinya suara saya,” katanya. 


Tanggal 1 November mendatang, Iwan Fals berencana menggelar konser Nyanyian Raya dengan target penonton sebanyak 4 juta orang di Monas. Konser ini dilakukan tak lama setelah waktu pelantikan Presiden tanggal 20 Oktober mendatang. Kebetulan? 


Berikut petikan wawancara dengan Iwan Fals usai bersiaran di KBR dan Green Radio. 


Ada kaitan dengan pemilihan presiden kemarin?


“Kebetulan. Kebetulan kemarin ada pemilihan itu baru berkelahi, mudah-mudahan dengan ada konser itu bisa lagi satu, bisa damai, bisa melupakan perbedaan-perbedaan kemarin. Karena intinya bahwa hidupa selanjutnya sebenarnya, itu cuma teknis bernegara cara hidup kita bersama. Tetapi bahwa yang melanjutkan kehidupan kan kita kita harus aman, damai, hidup secara wajar. Harapan saya dengan konser itu bisa melupakan itu semua.” 


Kenapa Anda begitu keras dengan pilihan yang mana Prabowo atau Jokowi waktu itu?


“Saya coblos dua-duanya.” 


Kenapa seperti itu?


“Karena saya tidak tahu. Saya baca program tapi tidak kenal benar dan saya juga tidak mau fans saya, pendengar lagu-lagu saya terpecah cuma gara-gara saya pilih A atau B. Nanti kalau saya pilih A yang B marah, bukannya tidak siap demokrasi tapi itulah kenyataan. Toh suara saya satu apalah artinya walaupun ada harapan tapi saya menempatkan diri saya seperti orang yang tidak berpihak dan ini bukan cuma kali ini. Dari zaman dulu tiga partai saya juga tidak berpihak karena saya tidak paham politik.”


Tapi Anda sendiri terkenal waktu zaman Soeharto Anda melawan otoriteriasnime. Terhadap Prabowo, banyak banyak yang khawatir bahwa dia akan bawa Indonesia kembali lagi ke zaman Soeharto. Anda tidak khawatir soal itu?


“Ada kekhawatiran itu, juga kekhawatiran apakah Jokowi benar atau tidak. Tapi saya tidak menguasai bidang itu. Saya juga tidak pernah tahu karena saya mengurus gitar C, G bikin pusing kepala saya. Bukan saya tidak peduli tapi saya tidak paham.”


Tapi tidak merasa khawatir? 


“Saya tidak merasa khawatir karena masih banyak orang pandai yang memikirkan ini. Orang-orang yang memang paham tentang bagaimana mensejahterakan hidup orang lain dan dia memperjuangkan itu. Saya dukung orang-orang seperti itu.” 


Tapi apakah soal kebebasan berekspresi masih penting? 


“Oh iya sangat penting tapi hukum juga penting. Kan yang menentukan semua hukum, kenapa bisa lolos menjadi calon presiden itu juga menjadi pertanyaan penting. Artinya baik orang itu buktinya lolos, sehat. Kalaupun ada kekhawatiran ada cerita-cerita itu ya wajar.” 


Nanti saat Konser Nyanyian Raya, Anda undang Jokowi? 


“Ya, saya mengundang.” 


Apakah ada pesan tertentu di balik itu... Jokowi diundang, sementara Prabowo tidak? 


“Semuanya (saya undang). Semakin banyak orang datang semakin senang. Saya mau Prabowo, Jokowi, Jokowow, Prabowi atau siapa ya monggo. Kita kumpul kita nyanyi bareng, kita nari, kita berdoa sama Tuhan moga-moga Indonesia lebih baik bisa menginspirasi dunia. Ini ada 250 juta orang ini lalu dunia ada 7 miliar, kalau memang hidup politik saja.” 


Tapi politik adalah hidup kan?


“Iya ada udara, politik adalah udara. Persoalannya kalau udara ini kotor bagaimana ya kita bersihkan. Saya lewat nyanyi, kerja saya nyanyi ya saya nyanyi saja siapa tahu bisa membersihkan udara yang kotor.” 


Sekarang merasa kalau politik itu kotor? 


“Iya saya merasa masih ada seperti itu. Tapi saya kembalikan lagi ke hukum, ada pengadilan. Pertanyaannya bagaimana kalau pengadilannya brengsek, kotor ya diadili juga. Lantas kalau brengsek lagi ya diadili lagi. Mending mana ayo hukum sekarang atau hukum rimba, saya pilih hukum sekarang walaupun dengan segala macam kelemahannya. Kalau hukum rimba seram.” 


Jadi Anda tunggu saja keputusan dari Mahkamah Konstitusi?


“Iya saya percaya itu. Jadi apapun yang diputuskan oleh hukum saya akan tunduk.”      


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!