Indonesia, mural, grafiti, Kalimalang, Jakarta

Sudah lima hari belakangan ini Kampung Bayur, permukiman padat penduduk, di tepi Kalimalang, Jakarta Timur, kedatangan tamu.

Kali ini tamu mereka bukan banjir, yang setiap tahun menyambangi wilayah ini, melainkan dua seniman berambut coklat berkebangsaan Inggris dan Perancis. Datang dari Perancis, mereka berdua adalah seniman mural profesional yang pernah melukis tembok-tembok di berbagai kota, mulai dari Cina, Paraguay sampai Brasil.

Ketika didatangi, kedua seniman tengah melukis sebuah tembok rumah sekitar 6x4 m bertuliskan “Kalimalang” dengan huruf warna biru dan latar jingga. Mural ini dibuat di tembok rumah kontrakan setempat. Tembok lain bertuliskan ‘Bismillah’ dihiasi petal bunga menyerupai desain rumah mode Perancis, Louis Vuitton.

Tembok tersebut merupakan hasil karya dua seniman Perancis dan Inggris yang menamai diri mereka Outsiders Krew. Mereka adalah Seb Toussaint (25) and Spag (25) yang berasal dari Caen, Normandy, Perancis. 

“Semuanya adalah imajinasi saya. Saya berusaha membuat mural-mural ini ceria dan ramai,” ujar Sebastian yang merancang mural-mural tersebut.

“Kadang kami hanya menunjuk ke arah kepala ketika mereka penasaran apa yang akan kami gambar,” tambah Spag.

Kalimalang

Seb dan Spag datang ke Kalimalang pada 27 Juli silam dan sontak diteriaki warga,”Ada bule masuk kampung!” Warga tambah bingung ketika kedua seniman itu, dengan bahasa Indonesia terbata-bata, berupaya meminta izin untuk melukis mural di tembok rumah mereka. Untungnya ada beberapa warga yang mengerti bahasa Inggris.

Sebelum mulai melukis, kedua seniman ini bertanya kepada warga: satu kata apa yang ingin digambar di tembok. Seb lantas mengeluarkan buku sketsa berisi gambar-gambar mural terdahulunya sebagai contoh. Dalam buku sketsa itu juga ada beberapa frase percakapan Indonesia yang membantu Seb dan Spag berkomunikasi dengan warga.

Ibu Tuti (38) adalah orang pertama yang memberikan izin kepada Seb dan Spag untuk melukis tembok rumahnya. “Kebetulan dia datang, biar rapi saja,” ujar ibu rumah tangga yang tengah mengenakan daster hijau ini.

Setelah beberapa jam, tembok Yuni yang semula berwarna hijau, kini berhiaskan gambar kota di atas bukit dengan nuansa merah muda dan tulisan besar “Assalamualaikum”.

Dua Sahabat

Ini bukan kali pertama Seb dan Spag berkolaborasi dalam menciptakan karya seni.

Seb adalah seorang seniman mural, sementara Spag adalah seorang fotografer. Mereka sudah bersahabat sejak usia 12 tahun ini dan pernah menggambar graffiti di Chile, Paraguay, China, dan Brasil. Tahun 2011-2012 keduanya keliling dunia dengan sepeda, sembari berhenti di beberapa kota dan melukis di temboik setempat.

Jakarta adalah kota pertama yang disinggahi dengan tujuan khusus untuk melukis.

“Jakarta tepat untuk art project ini karena merupakan kota besar dan memiliki banyak bangunan dan tembok-tembok yang bisa dijadikan kanvas untuk melukis,” ujar Seb.

Filipina sempat masuk daftar tujuan, tapi karena di sana lebih sering hujan, tujuan pun tetap ke Jakarta.

“Kami tidak disponsori siapapun maka kami berusaha mencari tujuan yang bisa meminimalisasikan biaya,” ujar Seb. Selama di Jakarta pun mereka menginap di rumah salah satu anggota komunitas couchsurfing di daerah Pondok Bambu.

Dari situlah juga mereka menemukan lokasi di Kalimalang.

“Kami berjalan-jalan untuk beradaptasi dan berorientasi. Lalu kami menemui daerah ini. Daerahnya cocok untuk digambar. Rumah-rumah di sini juga unik dengan berbagai warna dan banyak tembok kosong,” ujar Seb.

Keramahan Warga

Ketika Seb dan Spag singgah di London, mereka sempat menggambar grafitti juga di salah satu tembok apartemen di tengah kota. Keesokan harinya, gambar mereka hilang disapu cat putih.

Dari situ, ditambah pengalaman mereka di berbagai negara, Seb yakin kalau warga di daerah yang tidak terbilang elit lebih terbuka terhadap seni mural atau graffiti.

“Mereka tidak segan memberi izin melukis. Di daerah atau negara tertentu warga lebih hati-hati dengan properti mereka. Penduduk di Kalimalang sangat baik dan kami makin kenal mereka setiap hari,” ujar Seb.

Sejauh ini sudah ada lima rumah warga yang dihias oleh pasangan seniman ini.

Setiap kali mereka melukis tembok, warga selalu berkerumun dengan penuh rasa ingin tahu. Ketika gambar “Kalimalang” selesai, anak-anak langsung mendekat dan menunjuk-nunjuk gambar rumah di sana... berebutan menunjuk seraya berkata,”Ini rumahku!”

“Awalnya anak-anak malu untuk diambil fotonya. Sekarang mereka sudah terbiasa dengan kamera,” ujar Spag yang mendokumentasikan seluruh aktivitas mural untuk dipamerkan di Eropa kelak.

Warga juga menyediakan bala bantuan berupa tangga, air dan ember untuk keperluan melukis. Juga makanan, minuman dan cemilan – meski warga sebetulnya tengah berpuasa. “Hari ini saya dibuatkan spageti oleh warga... tapi rasanya agak manis dan asam. Saya suka!” kata Seb.

Seni untuk Semua

Selama di Kalimalang, Seb dan Spag berencana membuat setidaknya 10 karya mural.

“Kami ingin meninggalkan sesuatu yang cukup besar dan bermakna,” kata Spag.

Sebagai seniman, keduanya ingin semua orang bisa menikmati karya seni – bahkan di tembok-tembok kusam dalam gang sempit sekalipun.

Mereka berharap bisa mengispirasi anak-anak di Kampung Bayur, Kalimalang untuk berkreasi dan melukis.

“Grafiti adalah media untuk berekspresi. Saya ingin anak-anak di sini melanjutkan mural ini. Saya senang jika orang-orang menginterpretasikan karya saya ini dengan berbagai cara. Ini bisa dianggap sebagai story telling dan pertukaran budaya,” ujar Seb.

Outsiders Krew akan kembali ke Perancis pertengahan Agustus ini. Dan tembok warga berhias mural kreatif ini telah mengubah wajah Kalimalang.

Mural-mural karya duo Seb dan Spag dapat Anda lihat di sini.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!