Candi Muara Takus, Riau

KBR68H, Riau - Jika Anda bertanya kepada warga Riau, pernahkah mereka ke Candi Muara Takus? Sebagian besar pasti menjawab belum pernah, namun nama candi peninggalan nenek moyang kita ini, akrab di telinga warga Riau.

Candi Muara Takus adalah sebuah Candi Budha yang terletak di Provinsi Riau. Kompleks Candi ini tepatnya terletak di desa Muara Takus, Kecamatan XIII Koto, Kabupaten Kampar.

Ada dua pendapat mengenai nama Muara Takus. Ada yang mengatakan nama Muara takus diambil dari nama sebuah anak sungai bernama Takus yang bermuara ke Sungai Kampar Kanan. Pendapat lain mengatakan  “Muara”. berarti sungai yang alirannya ke laut dan “Takus” berasal dari bahasa Cina, “Ta” berarti besar, “Ku” berarti tua, dan “Se” berarti candi atau kuil. Jadi arti kata Muara Takus adalah candi tua yang besar yang terletak di muara sungai.

Letak Candi Takus

Bagaimana jika Anda ingin mengunjuni candi ini? Jika dari kota Pekanbaru, ibukota Provinsi Riau, jaraknya kurang lebih 135 kilometer. Dari jalan yang menghubungkan Provinsi Riau dengan Provinsi Sumatera Barat ini, kita masih harus menempuh jalan desa sekitar 17 kilometer masuk ke dalam. Tak ada kendaraan umum seperti angkot untuk akses ke candi. Jalan satu satunya membawa sepeda motor atau kendaraan pribadi.

Sepanjang jalan 17 kilometer ini, saya menemukan jalan yang tak terurus; berlubang dan berkerikil. Selain itu, tak ada rambu rambu petunjuk menuju candi, hingga menemukan jembatan yang sudah terputus. Sehingga kendaraan harus hati hati dan mengemudikan kendaraan dengan kecepatan lambat.

Karena minimnya rambu petunjuk menuju Candi, untuk memastikan apakah jalan ini menuju candi, terpaksa saya berulangkali bertanya kepada pelajar yang tengah berangkat sekolah dengan berjalan kaki. Anak anak di daerah ini pergi sekolah ada yang berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor dengan penumpang lebih dari 1 orang.

Setelah setengah jam perjalanan dengan pemandangan hutan atau kebun sawit, sekitar 200 meter menuju candi,barulah terlihat penunjuk arah menuju candi yang sudah kabur tulisannya.

Jarak antara kompleks candi ini dengan pusat desa Muara Takus sekitar 2,5 kilometer dan tak jauh dari pinggir Sungai Kampar Kanan.

Setelah menghadapi jalan yang buruk, jembatan yang putus, dan minimnya petunjuk menuju Candi, sesampainya di candi, rasa prihatin semakin bertambah. Tak ada penjaga candi. Ruangan untuk penjaga candi tampak tak terurus. Tak ada harga tiket masuk yang lazimnya dipasang di kaca penjagaan. Petugasnya entah kemana. Candi pun tak pernah dikunci jika malam hari. Sehingga keamanan candi sangat rawan di rusak, dicuri dan disalahgunakan. Bahkan terlihat ada ternak warga berada di sekitar Candi dan kawanan anjing bermain main di atas candi.

Bangunan Candi

Kompleks Candi ini dikelilingi tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer yang mengelilingi kompleks ini sampai ke pinggir sungai Kampar Kanan.

Candi muara takus ini memiliki 4 bangunan: Candi Tuo, Candi Mahligai stupa, Candi Palangka, Candi Bungsu.

Pada tahun 1860, seorang arkeolog Belanda bernama Cornel de Groot berkunjung ke Muara Takus. Pada waktu itu di setiap sisi ia masih menemukan patung singa dalam posisi duduk. Kemudian Candi ini di pugar sekitar tahun 1980 secara berangsur-angsur hingga tahun 1993.

Saat saya mengunjungi candi ini, Juni Lalu, patung singa itu, sudah tidak ada bekasnya.

Seperti lazimnya candi candi di Indonesia seperti Candi Sari, Candi Kalasan,Candi Gebang, Candi Sambisari, dll yang tak utuh lagi entah karena bencana atau tangan jahil manusia.

Tidak hanya itu, di dinding Candi terdapat banyak coretan coretan. Coretan terbanyak ditemukan di bangunan yang utama yang dinamai Candi Tua. Candi Tua ini berukuran sekitar 30 m x 20 m dan merupakan candi bangunan terbesar di antara bangunan yang ada.

Pada sisi sebelah timur dan barat terdapat tangga, yang menurut perkiraan aslinya dihiasi stupa,namun stupa saat ini sudah tidak ada lagi. Termasuk patung singa seperti kata arkelolog dari Belanda. Bagian puncaknya telah rusak dan batu-batunya telah banyak yang hilang. Lumut dimana mana.

Bahan bangunan Candi terdiri dari batu pasir, batu sungai dan batu bata. Sebagian besar candi terdiri dari batu bata. Batu bata untuk bangunan ini dibuat di Desa Pongkai, sebuah desa yang terletak di sebelah hilir kompleks Candi. Bekas galian tanah untuk batu bata itu sampai saat ini dianggap sebagai tempat yang sangat dihormati penduduk.

Di Candi Muara Takus ini, selain terdapat Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka, di dalam kompleks Candi ini ditemukan pula gundukan yang diperkirakan sebagai tempat pembakaran tulang manusia. Di luar kompleks ini terdapat pula bangunan-bangunan (bekas) yang terbuat dari batu bata, yang belum dapat dipastikan jenis bangunannya.

Candi yang bersifat Buddhis ini merupakan bukti pernahnya agama Budha berkembang di kawasan ini. Terlihat dari adanya stupa, yang merupakan lambang Buddha Gautama.

Kendatipun demikian, para pakar purbakala belum dapat menentukan secara pasti kapan candi ini didirikan. Ada yang mengatakan abad kesebelas, abad keempat, abad ketujuh, abad kesembilan dan sebagainya.

Pengelolaan Candi

Hampir setengah jam saya berkeliling Candi sambil mengambil foto, tiba-tiba datang pemuda menyodorkan tiket masuk seharga Rp 4000 dan biaya parkir Rp 5000 rupiah. Pemuda itu memaksa untuk segera membayar. Setelah saya bayar, ia langsung kabur entah kemana. Tak ada baju seragam, tak ada identitas layaknya petugas jaga di candi-candi.

Sampah pun bertebaran di candi dan halaman candi. Sekali lagi sungguh memprihatinkan. Ketika saya mengumpulkan sampah-sampah tersebut, pemuda yang meminta uang untuk masuk candi itupun melarang saya untuk memungutnya.

Sepuluh menit setelah pemuda yang menyodorkan karcis masuk candi pergi, datang seorang pria yang mondar-mandir di depan Candi. Kemudian ia melihat kendaraan saya terparkir. Mungkin pria ini ingin meminta uang masuk candi dan ongkos parkir lagi, pikir saya. Sungguh tidak nyaman, mengunjungi candi seperti dipalak dan dimata matai warga setempat.

Saya berusaha tak hiraukan pemuda setempat yang mondar-mandir memperhatikan saya yang tengah berada di candi. Saya terus mengamati candi yang sudah lama ingin saya kunjungi ini.

Tak terurusnya candi satu-satunya di Provinsi Riau ini dimungkinkan karena tak ada anggaran disertakan dalam APBD Provinsi Riau untuk pemeliharaan Candi Muara Takus sejak 2 tahun terakhir.

Padahal jika akses jalan diperbaiki, jembatan diperbaiki, candi terawat, dan SDM pengelolaan candi diperbaiki, maka candi ini bisa menjadi pilihan wisata dalam dan luar negeri. Apalagi, selama ini Candi Takus kerap dikunjungi wisatawan dari Thailand, Myanmar dan Malaysia. Selain itu, tahun ini Kemenko Kesra RI memasukkan Candi Muara Takus ini dalam daftar tunggu sebagai benda purbakala warisan dunia. Untuk itu, ayo segera perbaiki Candi Takus!

Editor: Anto Sidharta


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!