Kopi Tanah Air Kita. Foto: Twitter GarudaPreneur

KBR, Jakarta- Kopi. Jika mendengar kata itu, pikiran kita langsung melayang pada minuman pekat beraroma khas yang membangkitkan semangat. Orang bilang, "mood booster". Minum kopi sudah jadi tradisi ratusan tahun di tanah air. 

Komunitas Kopi Tanah Air Kita menyebut ada lebih 100 varietas kopi di Indonesia. Itu menjadikan Indonesia bak surga kopi.  Sayangnya menurut gerakan masyarakat penikmat kopi ini, hanya beberapa saja yang populer di telinga masyakat, seperti kopi Gayo, kopi Toraja, kopi Lampung dan kopi Jawa.  Gerakan ini pun merasa terpanggil mempersatukan berbagai komunitas Kopi se Indonesia dalam konsep Baracik.

Dalam Ruang Publik KBR (11/7/2016), Rudi Ersan menjelaskan baracik adalah tradisi mengolah dan menyajikan kopi yang menjadi ciri khas tiap-tiap daerah di Indonesia. Tiap daerah menurutnya memiliki teknik berbeda dalam mengolah dan menyajikan kopi.

“Ada kopi tubruk, kopi tungkup, kopi tetes, kopi kukup yang disajikan dengan gelas terbalik, Kopi Siram, kopi press, dan masih banyak lagi,” jelas Rudi.



Komunitas ini berharap gagasan baracik yang mempopulerkan kearifan lokal dalam mengolah dan menyajikan kopi bisa menjadi identitas barista Indonesia sekaligus membuat kopi Indonesia ‘naik kelas’.  Terlebih, kata dia, serbuan brand kopi luar negeri yang menggunakan kopi impor dan teknik seduh mesin makin menjamur dalam bentuk gerai kopi waralaba.

“Ini penting agar kopi asli punya standar tersendiri di mata dunia. Bahwa kopi tubruk, kopi-kopi lainnya punya standar dalam cara pengolahannya. Ini perlu ada kompetensinya, jadi kita munculkan laskar-laskar baracik yang tersebar di seluruh negeri."

Cara seperti ini, lanjut Rudy, tak perlu menghabiskan modal besar. Cukup dengan standar yang baik, komunitas ini mendorong para penikmat dan pelaku usaha kopi membuka gerai-gerai kecil kopi nusantara. Karena menurut Rudi banyak sekali varietas kopi dihasilkan namun kurang dilirik. Kopi Toraja saja misalnya, bukan hanya 1 daerah saja penghasilnya.

"Di Baruppu (Toraja) misalnya. Kopi di-roasting manual dengan alat sederhana dan mereka nikmati sendiri. Kasihan, tapi mereka tetap tough (tangguh)." 


Sejak 2012 Komunitas Kopi Tanah Air Kita bekerjasama dengan Kementerian Desa untuk membina petani kopi di desa dan daerah terpencil melalui Sekolah Kopi Tanah Air Kita (Sekopi). Sekopi adalah pusat enterpreneur kopi dengan pendampingan dan pembinaan pada petani-petani kopi lokal. Kini Sekopi sudah bisa ditemukan di sentra penghasil kopi seperti Toraja (Sulawesi Selatan), Malabar (Jawa Barat), Jambi, hingga Lampung. 


Kata Rudi, masih banyak daerah yang menghasilkan kopi dengan kualitas baik namun tidak mampu berkembang.  "Di Gorontalo itu ada Kopi Pinogu. Sudah ada sejak tahun 1900-an itu sudah dibuat minum Ratu Wilhelmina. Tapi sekarang, kopi itu terasingkan. Bahkan pohon kopinya mau ditebang karena sudah tidak ada lagi nilai ekonomisnya.” 

Komunitas ini menargetkan bakal ada 2 juta social enterpreneur kopi pada 2022 demi menaikkan derajat kopi di tanah air.

"Kopi Vietnam ada, kenapa tidak ada kopi Indonesia?,"tutupnya. (mlk)



Selengkapnya soal gerakan Kopi Tanah Air Kita bisa anda buka di www.kopitanahairkita.net
Ruang Publik bisa Anda simak setiap Senin hingga Jumat pukul 9 WIB di 100 radio jaringan KBR di kota Anda atau melalui streaming di kbr.id dan zeemi.tv: KBR.  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!