KBR, Jakarta- Namanya Atun. Pria paruh baya itu berperawakan tegap dan tinggi besar. Sehari-hari ia berprofesi sebagai seorang sales marketing. Ia terlihat begitu bersemangat. Dibalik penampilan fisiknya, siapa yang mengira Atun adalah seorang penyintas kanker nasofaring stadium 4 yang divonis dokter hidupnya tak bakal lama lagi. Kanker Nasofaring adalah jenis kanker yang tumbuh di rongga belakang hidung dan belakang langit-langit rongga mulut.

Dalam Ruang Publik pada Selasa (26/07/2017) pagi, Atun berbagi pengalamannya berjuang melawan kanker ganas itu selama hampir 7 tahun. Kata dia, awalnya tidak ada gejala khas yang ia rasakan. Saat itu ia merasakan telinga sering berdengung, sakit kepala dan hidung yang kerap mengeluarkan darah (mimisan) berminggu-minggu. Atun beberapa kali memeriksakan diri ke dokter THT (telinga, hidung, dan tenggorokan) namun gejalanya tak kunjung membaik. Ia pun memutuskan untuk pemeriksaan lebih lanjut. 

"Informasi seputar kanker nasofaring sangat minim, akhirnya pada 2009 saya divonis terkena kanker nasofaring,"ujar Atun.

Berbagai pengobatan alternatif dijalani, namun bukan kesembuhan yang Atun terima malah sebaliknya. "Minum obat alternatif itu darah yang keluar itu malah makin deras, seperti buka keran air. Setahun waktu saya untuk bolak balik pengobatan hingga akhirnya balik ke pengobatan dokter. Saya tidak bisa nafas dari hidung, kepala sangat sakit tidak tertahankan. Dokter bilang saya naik kelas. Penyakit saya naik ke stadium 4", ujar Atun.

Pengeluaran yang Atun keluarkan pun tidak sedikit. "Dulu kan tidak ada BPJS. Saya keluar biaya total 200-300 juta rupiah. Waktu itu saya kemoterapi 7 kali, dan 35 kali disinar (radioterapi). Belum check-up, dll," pungkasnya. Namun itu tetap ia jalani untuk tetap semangat melawan penyakit mematikan itu. 


"Ketika divonis kanker, saya langsung down sampai tidak sanggup mengemudikan mobil waktu itu. Tapi bagaimana kemudian kita bisa bangkit. Tidak ada alasan tidak beraktivitas meski kanker. Habis kemo saya tetap kerja. Saya hobi olahraga dan suka bertanding. Tidak selamanya kita menang. Tapi saya akan berjuang sampai akhir. Pun nanti jika saya kalah, anak saya mengenal papa-nya yang mau berjuang."

Atun adalah salah satu potret penyintas kanker nasofaring. Besok, 27 Juli diperingati sebagai hari kanker kepala dan leher sedunia. Jenis kanker ini bisa jadi tak sepopuler jenis kanker lainnya. Di Indonesia, ternyata kanker nasofaring termasuk jenis kanker yang paling sering ditemui. Data Rumah Sakit Pusat Kanker Nasional Dharmais tahun 2003-2007 menyebut kanker nasofaring merupakan tumor ganas terbanyak pertama yang kasusnya banyak di temukan pada laki-laki, dan tumor ganas terbanyak ke lima pada perempuan. 

Menurut dr. Daksa Gamapati dari divisi Radioterapi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RCSM), Jakarta Pusat, seperti kanker lainya, banyak pula faktor penyebab penyakit kanker nasofaring seperti polusi udara, gaya hidup tidak sehat seperti merokok dan konsumsi minuman beralkohol, faktor genetik, dan yang terutama adanya infeksi oleh virus epstein bar. 

"Meski tidak semua gejala seperti telinga berdengung, tergantung organ yang terlibat. Bisa juga gejal lendir bercampur darah, nyeri ketika menelan, atau ada benjolan di leher misalnya. Intinya, setiap gejala harus diwaspadai jika tidak kunjung sembuh dalam seminggu atau lebih segera periksa kan," kata dr. Daksa.

Masyarakat, kata dia, perlu wapada sebab gejala penyakit ini relatif tidak spesifik dan cenderung diabaikan oleh si penderita, sehingga seringkali terlambat ditangani hingga masuk stadium lanjut. Gaya hidup sehat, lanjut dr. Daksa, merupakan upaya yang perlu diterapkan untuk mencegah atau meminimalisir potensi munculnya penyakit kanker. 

Pun jika sudah terdiagnosa kanker, kata dr. Daksa, penderita janganlah patah semangat. "Faktor psikis adalah kunci untuk menjalankan kelanjutan terapi. Pertama, fase menerima keadaan. Selanjutnya tata laksana medis, kenapa psikis itu kunci, agar pasien siap mental pula dengan efek samping. Lainnya, adalah berbagi atau sharing dari sesama penderita dan penyintas. Itu dapat sangat membantu," ujarnya.

Kembali ke Atun. Meski dinyatakan tak ditemukan lagi sel kanker, Atun diwajibkan rutin pemeriksaan sekali setahun. Kini Atun aktif dalam Cancer Information and Support Center (CISC) untuk memberikan dukungan pada sesama penderita dan penyintas kanker. 

"Dalam diri kita harus tanamkan, "Saya Bisa!". Berapa banyak orang yang survive, berarti saya juga bisa survive. Harus bisa berpikir positif, dan selain itu berobatlah yang tepat ke dokter, bukan ke pengobatan alternatif yang belum terbukti," tutupnya.(mlk)


Ruang Publik bisa disimak setiap Senin hingga Jumat pukul 9 WIB melalui streaming di radio-radio jaringan KBR di kota Anda atau streaming di www.kbr.id dan zeemi.tv: KBR. 

Cancer Information and Support Center (CISC) adalah wadah komunitas kanker non-profit lintas agama, budaya, sosial. Dibentuk th 2003 oleh Aryanthi Baramuli Putri dan Yuniko Deviana, keduanya pernah terkena kanker payudara, bersama  survivor kanker lainnya. CISC bekerja sama dengan berbagai rumah sakit untuk pengobatan kanker dan menyediakan tiga rumah singgah bagi pasien kanker tidak mampu. Informasi lebih lanjut, bisa kunjungi www.cancerclubcisc.wordpress.com. atau FB : CISC Indonesia dan twitter @cancerclubcisc.


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!