KBR, Jakarta-  Setelah peristiwa 27 Juli 1996 hingga 1998, sejumlah aktivis ditangkap, diculik dan tak pernah kembali. Termasuk diantara mereka yang masih belum kembali adalah aktivis HAM Wiji Thukul. Istri Wiji, Sipon melaporkan hilangnya Wiji Thukul pada KONTRAS (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) tahun 2000.

Jauh sebelum dilaporkan hilang, Wiji Thukul diketahui hidup berpindah-pindah, dari satu kota ke kota lain, bersembunyi dari kejaran aparat.  Salah satunya ke Pontianak, Kalimantan Barat.  Penggalan hidup Wiji Thukul pada masa pelarian ini kemudian diangkat oleh Sutradara asal Yogyakarta, Yosep Anggi Noen dalam film biopik bertajuk "Istirahatlah Kata-kata" (Solo, Solitude). Kata Anggi, film berdurasi 97 menit itu adalah terjemahannya atas puisi-puisi Wiji.

"Puisi-puisi Wiji sebenarnya merupakan catatan harian. Puisi-puisinya sangat tajam, lugu, dan jujur. Ketika saya kembangkan naskah ini saya lebih banyak melihat pada puisi-puisinya,” ungkap Anggi dalam perbincangan Ruang Publik, Selasa (19/07/2016). 

Penyair Gunawan Maryanto pun dipilih untuk memerankan sosok Wiji Thukul. Kata Anggi, untuk memerankan Wiji dirinya membutuhkan sosok yang bisa menyampaikan pesan lewat kata-kata dengan spesifikasi peran sampai sangat rinci.


Bagi Anggi, film perjalanan Wiji Thukul merupakan bagian dari sejarah yang perlu diketahui dan diungkap. "Saya mencatat zaman dengan film-film. Yang dibicarakan Wiji di tahun 90-an itu masih sangat relevan hari ini. Ketika saya diberi kesempatan menampilkan sosok Wiji dalam sinema, saya ingin tunjukkan ini adalah karya yang langgeng," kata Anggi.

"Saya terinspirasi Wiji, seorang yang biasa sama seperti kita. Tapi dia sosok yang punya kecerdasan luar biasa untuk melihat persoalan dengan jujur, lugu dan kata-kata yang lugas. Orang muda yang harus punya keberanian untuk menggugat ketidakadilan dan mengungkap kebenaran," tegasnya.

Selain Gunawan Maryanto sebagai Wiji Thukul, aktris dan presenter, Marissa Anita terpilih memerankan istri Wiji Thukul, Sipon. Marissa mengaku awalnya ia ragu menerima peran itu. Menurut Marissa pada KBR, Sipon tidak boleh sembarang diperankan. Dia mengaku perlu pendalaman karakter yang detail meskipun ia tak sempat berbincang langsung dengan Sipon.

"Saya baca-baca buku kembali, tonton lagi wawancara Mbak Sipon dan anak-anaknya. I take it as a challenge, karena ini film penting. Saya bayangkan, ketika menjadi istri seorang Wiji Thukul dengan situasi yang seperti itu, dikuntit, dikejar, ketegangan pada waktu itu. Saya yang memerankan saja berat, saya tidak bisa bayangkan perasaan Mbak Sipon pada waktu itu dan perasaannya sekarang", ujar Marissa. 



Film ini akan tayang perdana di Locarno International Film Festival Ke-69 untuk kategori Concorso Cineasti del presente atau Filmmakers of the Present di Swiss pada 9 Agustus 2016 mendatang.

Produser film, Yulia Evina Bhara atau disapa Ebe optimis "Istirahatlah Kata-kata" bisa segera diputar di Indonesia, meski beberapa waktu belakangan ini,  karya kreatif yang dianggap mengangkat isu sensitif rentan dibubarkan ataupun tak boleh tayang, sebut saja film "Pulau Buru Tanah Air Beta", "Senyap", dsb. 

"Locarno adalah festival film terbesar dan tertua, tempat berkumpulnya pada pegiat film dari seluruh dunia. Lewat film ini diharapkan nantinya bisa diputarkan di tanah air," kata Ebe.

Lanjut Ebe, film ini dibuat khusus bagi generasi muda untuk mengetahui sejarah secara utuh. Riset untuk film ini sendiri dilakukan selama kurang lebih dua tahun.

"Kami menyusuri hidup Wiji, bertemu orang-orang yang kenal dia dan kami temukan bahwa di tahun 96, pertama kali Wiji Thukul dinyatakan sebagai tersangka dan lari ke Pontianak, itu adalah titik balik hidupnya. Ada ketakutan, tapi dia berani ambil resiko untuk kembali ke Jakarta dan berjuang bersama teman-temannya. Masa itulah kami lihat Wiji Thukul adalah sosok yang lengkap," tutupnya.(mlk)

Ruang Publik bisa disimak setiap Senin hingga Jumat pukul 9 WIB melalui streaming di radio-radio jaringan KBR di kota Anda atau streaming di www.kbr.id dan  zeemi.tv: KBR. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!