kuliner, toge goreng, Bogor, makanan khas

Toge goreng adalah salah satu makanan khas yang banyak dicari orang kala berkunjung ke Bogor, Jawa Barat. Meski namanya toge goreng, sesungguhnya toge dalam sajian ini tidak betulan digoreng. Ia hanya direbus, dengan sedikit air. Biasanya wadah merebusnya adalah nampan bulat dari besi. Sampai sekarang saya tak tahu jelas, bagaimana sejarahnya setiap penjual toge goreng memilih menggunakan nampan yang kebanyakan bermotif bunga itu sebagai alat ”menggoreng” toge. Padahal bisa saja menggunakan penggorengan biasa atau malah panci buat merebus. Menyesal juga saya tidak tanyakan kepada Pak Adi, penjual toge goreng langganan saya.


Ya Pak Adi. Bagi yang melanggan dan jarang berbincang dengan si penjual mungkin tak tahu namanya Adi. Jualannya lebih dikenal dengan nama ”toge goreng Gang Mushola.” Dari namanya tentu sudah jelas dimana Pak Adi berjualan, dekat gang mushola, yang terletak di jalan Raya Baru Kemang, kelurahan Kedung Badak. Kalau dari arah Jakarta, Anda lebih mudah mencapainya dengan keluar jalan tol BORR (Bogor Outer Ring Road) menuju Jl. Baru, lalu di perempatan lampu merah Yasmin, belok ke kanan menuju arah Parung. Dia berjualan di kanan jalan, di bawah pohon Kersen atau talok (Muntingia calabura L.).  Tapi kalau dari arah Tangerang, maka susuri jalan Parung-Bogor, ia ada di kanan jalan beberapa ratus meter sebelum  kantor pos.


Kenapa toge goreng Gang Mushola ini demikian istimewa? Bagi warga sekitar dan beberapa pendatang baru di kawasan itu, atau pengunjung yang kerap menggunakan motor dari Tangerang ke Bogor, ini salah satu toge goreng yang paling enak di Bogor. Tentu klaim pelanggannya. Pak Adi memang punya pelanggan yang cukup banyak. ”Terkadang mereka menelpon dulu, tanya jualan apa tidak,” kata Pak Adi suatu pagi. Pelanggannya memang tak hanya di Bogor, tapi sampai Tangerang, Banten.

 
Pak Adi yang mengaku berjualan toge goreng sejak 30 tahun lalu ini tak pernah pelit bumbu tauco pada tiap porsi yang kita pesan. Bagi yang belum makan toge goreng, makanan ini terdiri dari lontong, mie kuning, toge rebus, oncom dan lalu disiram dengan bumbu tauco. Nah kelebihan Pak Adi adalah, ia tidak pelit itu tadi. Kebanyakan penjual toge goreng biasanya, sayang menaruh bumbu agak banyak.
Toge goreng Pak Adi akan terasa betul bumbunya, karena bumbunya banyak jadi agak basah. Pak Adi menyajikannya dengan ciri khas yang dipertahankannya sejak awal berjualan, toge goreng akan disajikan di atas daun Patat (Phrynium pubinerve Bl.). Nah kalau membeli untuk dibawa pulang, ia juga membungkusnya dengan daun yang sama, lalu mengikatnya dengan serutan bambu.


Pak Adi juga menyediakan sambal yang juga khas karena dilengkapi dengan bumbu irisan daun bawang. Tapi jangan terlalu berharap sambal ini akan pedas menggigit, karena pedasnya agak sayup-sayup, harus agak banyak menaruh sambalnya bisa ingin agak pedas. Tapi sambal ini, entah karena dibumbui, enak pula kita makan apa adanya.  Saya suka mencocol kerupuk pada sambal ini.


Pak Adi ini suka kalau diajak ngobrol. Saya yang agak kurang percaya dia sudah berjualan toge goreng 30 tahun dilayaninya saja saat ”diinterogasi” soal pengalaman jualannya itu. Wajahnya tampak awet muda. ”Saya jualan sejak umur 17 tahun, dulu sih keliling, baru 7 tahun terakhir menetap disini. Betulan, saya sudah 30 tahun jualan. Kelahiran 1961, barangkali ya” katanya menjelaskan. Untuk menyakinkan kalau ia sudah berumur, Pak Adi menunjuk seorang pemuda yang membantunya. ”Ini incuk (cucu) saya loh,” tutur Pak Adi sambil membetulkan kayu bakar yang digunakan menggoreng toge. 


Hari ini mungkin terakhir Pak Adi berjualan pada bulan ini. ”Saya tutup selama bulan puasa,” katannya menutup perbincangan.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!