ikan bakar trakulu, daun singkong rebus, balikpapan, samarinda

KBR68H, Balikpapan - Setelah hampir sejam cuma bisa melihat hamparan awan putih dari jendela, akhirnya pesawat menerobos turun mendekat landasan Bandara Sepinggan, Balikpapan. Laut sekitar bandara di sekitar pukul 09.00 masih belum beriak sehingga belahan airnya oleh beberapa kapal tongkang batubara jelas menggurat putih. Di sisi daratan, nampak atap permukiman yang acak. Dan semakin dekat roda pesawat ke landasan, rumput di areal bandara makin jelas pula hijaunya tak merata karena cukurannya tak rapi.

Usai pintu pesawat terbuka, semua penumpang bergegas turun. Di terminal kedatangan, saya dan rekan dari Jakarta, Nanda Hidayat hanya menunggu  tak lebih dari hisapan sebatang rokok sampai datangnya mobil jemputan yang akan mengantar ke Samarinda.

Beberapa saat keluar bandara, busyet, ternyata jalanan macet juga. Sungguh mengecewakan. Ini adalah kali pertama kami menginjak bumi Kalimantan. Bayangan khas Kalimantan selama ini seperti habis di pemandangan berseliwerannya kapal-kapal tongkang tadi. Jauh-jauh dari Jawa hanya untuk masuk ke kemacetan lalu lintas. Mana perjalanan ke Samarinda, jika lancar, masih lama. Sekitar 3 jam lagi. Apalagi saat berangkat dari Jakarta 03.00 ke Bandara Soekarno Hatta belum sempat sarapan. Belum lagi hujan saat berangkat, membuat perut terasa lebih cepat lapar.

Beruntung, reflek otak kala berada dalam tekanan lapar perut dan macet, masih bisa jalan. "Mas Jali, apa makanan enak sekitar sini?"

Jali, anak muda yang mengantar kami bilang, "Ada beberapa makanan pinggir jalan di depan." Jali baru lulus kuliah November tahun lalu. Sudah coba-coba wawancara, tapi kelihatannya belum ada yang nyangkut. Jadi dia mengisi harinya dengan merentalkan mobilnya. Dia sopiri sendiri.

Dari beberapa jenis makanan, kebanyakan menunya biasa saja alias itu juga banyak ada di daerah lain, seperti Jakarta. Pilihan akhirnya jatuh ke menu ikan bakar. Ikan Trakulu Bakar di Depot Melati. Letaknya sekitar 5 km dari Bandara Sepinggan menuju rute Samarinda.  Beberapa meter jelang RSUD Kanujoso Djatiwibowo di daerah Batu Ampar, mobil tumpangan kami keluar dari barisan mobil yang jalan tersendat. Lalu parkir di depan depot ikan itu.

Saat kami datang, warung makan ini belum siap saji. Aneka ikan, trakulu, kakap, patin dan beberapa jenis lainnya baru saja naik pertama ke pembakaran. Lainnya masih numpuk di baskom menunggu giliran. Beberapa orang di dapur masih sibuk membersihkan sisik dan memotong-motongnya.

Tak sampai 30 menit, pesanan datang. Ikan bakar trakulu, teh anget dan teh es.  Saat pesan tadi, Jali sempat bilang, kalau di Balikpapan, orang pesan minuman teh, sudah pasti manis. Kalau di Banjarmasin, masih suka ditanya, "Pakai gula apa tidak?" Jadi teringat pengalaman pertama di Jakarta sekitar 12 tahun silam. Saat pesan minum teh di sebuah warung, rasanya hambar. "Kok tawar, Bu?" Kan tadi pesannya cuma bilang teh anget."

Lupakan soal teh ini karena kami sudah tak sabar segera menyantap ikan bakar trakulu ini. Kuatir keburu dingin. Disajikan dengan sambal agak encer, ditemani lalapan daun singkong rebus dan seiris mentimun. Lalu ada semangkuk kecil sayur bening. Nasi putih pulen yang masih mengepul panas.  Sekali, dua kali dan tiga kali suapan diselingi tegukan teh anget manis,  sudah cukup untuk menutup mata, jika jalanan di depan masih macet.

Ada beberapa warung makan sejenis di daerah Batu Ampar. Rata-rata buka mulai pukul 10.00 dan baru tutup 24.00. Pengunjungnya banyak orang luar daerah yang mendarat di bandara dan hendak melanjutkan jalan darat menuju daerah lain, termasuk Samarinda.

Editor: Doddy Rosadi

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!