KBR, Jakarta- Dari segudang cita-cita semasa kecil, menjadi petani bisa jadi tidak pernah terpikirkan. Padahal jika tidak ada petani, dari manakah kita bisa mendapat bahan pangan? 

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian terus merosot tiap tahun. Dari sekitar 39 jutaan orang tahun 2013 menjadi 38 jutaan pada 2014. Jumlah itu turun lagi menjadi 37 jutaan orang tahun 2015 lalu. Dari angka itu mayoritas petani kini didominasi oleh usia tua. Ini akibat minimnya minat generasi muda untuk menjadi petani. Alasannya beragam mulai dari  pendapatan petani yang tak menarik hingga susutnya luas lahan yang bisa digarap oleh petani. Alhasil banyak anak petani di desa yang bermimpi bisa sukses di kota, tak jadi petani. 

Berangkat dari keprihatinan itulah kemudian International Association of Students in Agricultural and Related Sciences (IAAS), kelompok anak muda kuliahan yang peduli nasib petani, membuat program Youthagricareture. Mereka berharap proyek sosial ini bisa membantu masyarakat mengembangkan potensi yang dimiliki sehingga mampu meningkatkan taraf hidup.

Dalam Ruang Publik Selasa (7/6) lalu, Project Officer Youthagricareture sekaligus Vice Director of Project and Science Technology IAAS Indonesia, Anugrah Nurman Ibrahim berbagi cerita. Kata pemuda yang akrab dipanggil Uga ini, program Youthagricareture punya misi membangun Indonesia dari desa. Beserta rekannya Uga merancang sejumlah program yang menyasar anak usia dini hingga remaja. Program ini diharapkan mampu menginspirasi generasi muda di pedesaan untuk terus berkontribusi membangun desa.

"Untuk anak-anak ada Agrischool, kami koordinasi dengan pihak sekolah. Kegiatan dilakukan di luar jam sekolah, lebih ke games pertanian.  Kalau anak mudanya kami beri edukasi pertanian," tutur Uga.


Pelaksanaan Youthagricareture di masing-masing desa binaan, lanjut Uga, dilakukan dengan menyesuaikan kebutuhan dan potensi desa masing-masing. "Misalnya di desa Gemawang, Semarang kami kembangkan inovasi produk dari jahe. Kami buat coklat jahe. Ini diharapkan bisa memiliki nilai tambah dan meningkatkan pendapatan petani", kata anak muda yang kini kuliah semester 6 jurusan Kehutanan di Institut Pertanian Bogor (IPB) itu.

Pemberdayaan masyarakat desa lewat Youthagricareture kini telah dikembangkan di 8 desa yang berlokasi di wilayah Mataram (NTB), Malang  (Jawa Timur), Yogyakarta, Semarang, Solo, Banjarbaru (Kalimantan Selatan), Jatinangor, dan Bogor. 

Pemilihan desa binaan tersebut dilakukan setelah melakukan sejumlah riset ke kampus-kampus afiliasi IAAS. "Kami tanya ke pihak kampus. Desa mana yang kiranya berpotensi, bagaimana kondisi pertaniannya dan apa yang bisa dikembangkan di sana. Misalnya, mereka punya hasil pertanian bagus tapi bingung bagimana pengembangan untuk menghasilkan nilai tambah dari produk pertanian. Riset juga terkait jumlah anak muda yang bisa dilibatkan," lanjutnya.


Anda bisa mendukung kegiatannya IASS melalui www.kitabisa.com/youthagricareture. Selain itu, Anda bisa terlibat aktif bersuara bersama Uga dan rekan-rekannya melalui kampanye Finish your food #Snapfood. “Potret makanan sebelum dan sesudah habis dimakan. Itu kampanye sebagai tanda peduli pada jerih payah petani yang telah menanam sumber makanan kita.” Ujar Uga.

"Anak muda punya peran penting membangun desanya. Kalau sudah selesai kuliah, harapannya bisa balik ke desa, membangun daerahnya. Kalau bukan kita, siapa lagi?” pungkas Uga menutup perbincangan dengan KBR.


Editor: Malika


Ruang Publik dapat disimak setiap Senin hingga Jumat pukul 9 pagi WIB melalui zeemi.tv dan radio-radio jaringan KBR di kota Anda. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!