KBR, Jakarta- Selain nama tokoh pluralisme Indonesia, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) yang diusulkan menjadi pahlawan nasional, nama lain yang muncul adalah bekas Presiden Soeharto. Usulan nama yang kemudian memancing pro kontra di masyarakat ini dilontarkan kader partai politik Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa Golkar di Nusa Dua, Bali pada pertengahan bulan lalu.

Menteri Sosial, Khofifah Indar Parawansa mengatakan tim peneliti dan Pengkaji Gelar Daerah (TP2GD) sudah mengeluarkan satu paket surat yang di dalamnya tercantum usulan gelar pahlawan Gus Dur dan Soeharto. Proses pengusulan itu, kata dia, sudah selesai didiskusikan di tingkat kabupaten. Selanjutnya, tahapan seminar harus dilakukan di tingkat provinsi dan terakhir dibahas TP2GD tingkat pusat. Hasilnya nanti akan disampaikan kepada dewan gelar untuk kemudian diserahkan ke presiden.

Dalam program Perspektif Baru KBR pada Sabtu (11/06) pagi, jurnalis senior, Wimar Witoelar pun angkat bicara soal ini. Menurut dia, Soeharto tidak perlu menjadi pahlawan karena ia tidak membuat jasa yang besar secara keseluruhan untuk Indonesia. Namun Wimar menilai wajar usulan Golkar karena Soeharto yang membesarkan nama Golkar.

"Soeharto memiliki jasa yang besar pada 1966, tetapi kemudian terhapus oleh kerugian yang diakibatkannya kepada negara dan bangsa Indonesia. Jadi tidak perlu Soeharto mendapat gelar pahlawan. Mungkin saya bertanya kepada Anda dan diri kita masing-masing, apa betul Soeharto adalah pahlawan? Anak muda tidak banyak yang mengerti sosok Soeharto," ujar Wimar.


Berikut perbincangan selengkapnya.

Soeharto pernah dikenal sebagai Bapak Pembangunan, mungkin generasi sekarang belum terlalu paham dan mungkin malah tidak tahu sepak terjang Soeharto. Tolong Anda bisa ceritakan?

Soeharto bukan Bapak Pembangunan yang utuh. Soeharto adalah Bapak Pembangunan Infrastruktur, Bapak Pembangunan Ekonomi, tetapi bukan Bapak Pembangunan Indonesia.

Pada zaman Soekarno, Indonesia tidak terurus, hanya citra Indonesia di luar negeri yang dibangun. Sama seperti Donald Trump sekarang banyak bicara dan tidak ada yang dilakukan. Jadi Indonesia sudah mulai merosot pada 1964. Di zaman Soekarno pula inflasi mencapai 60%, harga naik hingga 60 kali. 

Soekarno jatuh karena ekonominya sudah terlalu buruk dan tidak dapat ditoleransi oleh rakyat, sehingga akhirnya jatuh. Rakyat menuntut turunnya harga, bubarkan kabinet, bubarkan PKI. Nah, itu semua yang dirasakan oleh rakyat dan tiga tuntutan rakyat tidak bisa di kabulkan. Kemudian yang terjadi adalah masuknya Soeharto untuk menggantikan pemerintah secara darurat melalui pemilihan umum (Pemilu).

Masuknya Soeharto untuk menggantikan keadaan Soekarno pada saat itu dirasakan sebagai angin segar. Perbaikan ekonomi yang dihasilkan dengan baik sekali pada tahun pertama kepemimpinan Soeharto dengan dasar yang diletakkan oleh Kabinet Teknokrat, pendidikan Barat, Semuanya menjadi Indonesia yang terbarukan. 

Istilah “Pahlawan” erat kaitannya dengan sifat berani dan pengorbanan. Apakah ada pengorbanan yang telah dilakukan Soeharto?

Tidak ada pengorbanannya, justru yang dikorbankan adalah masyarakat Indonesia. Dia naik pun tidak jelas, apa memang menyelamatkan atau skenario. Para pahlawan–pahlawan itu Rest In Peace, orang-orang yang kita muliakan. Sekarang hanya nama jalan saja. Dari mulai MT. Haryono, S. Parman, sampai Panjaitan adalah orang-orang yang meninggal pada waktu pemberontakan PKI. Tapi apa itu pemberontakan PKI? Apa benar ada atau tidak? Itu dipersoalkan sekarang. Katanya, tidak ada. 

Soeharto memang tidak terlibat apa-apa, dia serdadu, dia turun, dia mengambil alih, dan setelah itu hidup enak dan tentram, tidak ada pengorbanan. Jumlah korupsi Soeharto diperkirakan mencapai US$ 25 Milyar. Jadi dimana imajinasi kita harus dilarikan untuk membuat orang seperti itu menjadi pahlawan. Itu tidak masuk akal.

Banyak kontroversi dan pendapat yang menentang wacana ini, namun kita sebagai bangsa Indonesia yang patut mengingat sejarah. Bagaimana sebaiknya cara kita mengingat Soeharto?

Dengan suatu pengadilan sejarah dan rekonsiliasi, sayangnya sudah terlambat sekarang, yang bisa menunjukkan dimana kekurangan dan kelebihannya. Ketika kekurangannya sudah diakui, tinggal kebaikannya. Tapi sekarang kekurangannya belum diakui. Dia masih harus bertanggung jawab pada sejarah. Adili dulu baru kita selesaikan.

Bagaimana cara agar Soeharto bisa mempertanggungjawabkan yang sudah diperbuat?

Tentu tidak bisa karena sudah meninggal. Tapi bagaimana rakyat Indonesia bisa keluar dari stupidity sehingga percaya pada propaganda itu, dan melihat secara jernih apa yang telah dilakukan oleh rezim Soeharto. 

Jadi sekarang kita harus membangunkan diri kita dari keterlenaan, tertipu oleh sejarah. Karena kalau sejarah itu dibongkar, kalau Golkar mau membikin Soeharto menjadi Pahlawan dan membongkar sejarahnya, malah akan lebih hitam lagi. 

Secara netto, tidak ada jasa Soeharto untuk negara ini, kecuali yang saya katakan tadi pada lima tahun awal pemerintahannya. Dia mulai pembangunan. Orang menjadi rajin, pintar. Jadi ada orang bersekolah di luar negeri, tapi setelah pulang tidak dipakai oleh pemerintah Soeharto. Kalau yang kritis dibiarkan saja. Yang dipakai adalah orang-orang yang bisa menunjang sistem ekonomi Indonesia, melindungi anak-anaknya yang korupsi. 


Editor: Malika

Perspektif Baru mengudara setiap Sabtu pukul 06.30-07.00 WIB melalui radio-radio jaringan di kota Anda dan zeemi.tv. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!