KBR, Jakarta- Berjalan kaki menjajakan kerupuk sepanjang Kalimalang, Jakarta Timur hingga Tebet, Jakarta Selatan yang berjarak lebih dari 10 kilometer adalah rutinitas harian yang dilakukan Widodo, seorang tunanetra. Siapa sangka, ia sudah terampil memijat dan menjadi terapis puluhan tahun. 

Bukan terapis asal-asalan, pria usia 40 tahun itu sudah bersertifikat lulus binaan Kementerian Sosial. Pada KBR, ia bercerita, "Sejak 1994 saya (mulai). Saya lulus akademis, ilmunya ya sama dengan kedokteran. Kenali anatomi dulu, neurologi dulu. Kenali patologi dulu, nah baru kita terjun di masyarakat," ujarnya.

Namun, Widodo terpaksa berjualan kerupuk demi memenuhi kebutuhan keluarganya, karena jasa terapi pijatnya semakin hari semakin sepi. "Sejak dollar mulai naik diatas 7 ribu itulah sudah mulai berkurang, terus tempat modern muncul seperti spa muncul itu. Kalau dulu sehari bisa 6-7 kali panggilan, sekarang 1 kali sehari saja susah. Kalau saja 3 kali sehari, sudah lumayan bisa cukup untuk kehidupan sederhana satu keluarga", katanya. 

Widodo tidak sendiri. Menurut Netra Philosophy Indonesia (Traphy Indonesia), ada lebih dari 2000 orang terapis tunanetra di Jakarta dan sekitarnya harus menerima kenyataan bahwa usaha mereka mengalami kebangkrutan. Kalah saing dengan spa dan salon yang menawarkan jasa serupa dengan kemasan lebih modern.

Dalam Ruang Publik pada Kamis (9/6) lalu, Founder Traphy Indonesia, Tarini, mengatakan penyandang tunanetra masih sulit mendapat pekerjaan yang layak. Hal itu mendorong ia dan rekannya, Meylisa menggagas Traphy Indonesia. Mereka ingin membuat klinik tunanetra modern pertama di Indonesia. 

"(Pijat terapi) itu keahlian mereka dan juga kebanggaan mereka. Mereka lebih bangga kerja sebagai terapis dibanding jualan kerupuk atau pulsa. Ada bentuk penghargaan dari konsumen, ilmu mereka terpakai. Tapi sekarang finansial mereka luar biasa kurang, karena banyaknya persaingan bisnis. Mereka terpinggirkan, jadi pengemis, pengamen, dll," kata dia. 

Saat ini sudah ada 30 orang terapis Traphy Indonesia yang berasal dari Jakarta, Tangerang Selatan, Depok, Pondok Gede dan Bojong Gede. Sayangnya, Traphy Indonesia belum ada tempat permanen untuk terapi. Oleh karena itu, Traphy Indonesia menggalang dana atau crowdfunding melalui  https://kitabisa.com/kliniktunanetra untuk membangun klinik tunanetra modern pertama di Indonesia. 

"Selama ini yang ada panti bukan klinik. Suasana tidak nyaman, ya pelanggan cari yang lebih nyaman. Mereka (terapis tunanetra) punya masalah modal juga. Kita butuh tempat untuk mereka, yang modern. Mereka punya keahlian bagus, kita kasih tempat yang bagus. Kebanyakan customer juga maunya datang langsung ke lokasi pijat (bukan didatangi ke rumah)," lanjut Tarini.

Kembali ke Widodo. Sejak bergabung dengan Traphy Indonesia pada Oktober 2015 lalu, meski tak besar namun peningkatan pendapatan sudah mulai terlihat. Ia bahkan sudah punya pelanggan tetap tiap bulannya. "Dari Traphy Indonesia kita dapat 80-85 persen. Ya lebih profesional," tutupnya. 

Editor: Malika

Ruang Publik dapat disimak setiap Senin hingga Jumat pada pukul 9 WIB melalui radio-radio jaringan atau streaming di www.kbr.id dan zeemi.tv: KBR 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!