Foto: Islamic Society of North America (Nana Firman)

KBR, Jakarta- Berbuka puasa bersama keluarga atau rekan sejawat selalu jadi momen seru yang ditunggu-tunggu. Apalagi pada bulan ramadan segala jenis makanan dan minuman jadi mudah didapat dan lebih beragam jenisnya. Tapi tahukah Anda disaat yang sama sampah kemasan jenis plastik dan styrofoam juga meningkat. Data Dinas Kebersihan sejumlah kota besar memperlihatkan peningkatan sampah kemasan 10-15 persen dari hari biasa.

Makan secukupnya merupakan salah satu teladan Rasulullah SAW yang diadopsi kampanye Green Ramadan.  Dalam program perbincangan Ruang Publik, Jumat (03/06), Nana Firman, salah seorang anggota Green Masjid Task Force di Islamic Society of North America menjelaskan, Kampanye Green Ramadan awalnya merupakan inisiatif yang diselenggarakan berbagai organisasi Islam di Amerika Serikat. Kepedulian akan lingkungan yang kian meningkat ini ditangkap oleh Islamic Society of North America (ISNA), organisasi payung Islam terbesar untuk Amerika Serikat dan Kanada.

“Kemudian Januari 2015 dibentuk Green Masjid Task Force yang beranggotakan para aktivis lingkungan, Green Ramadan menjadi kampanye pertama satuan tugas ini,” jelas Nana.


Green Task Force mengajak masjid-masjid di Amerika Serikat untuk memulai menerapkan lima prinsip ramah lingkungan, di antaranya, tidak membuang-buang makanan, pakai peralatan makan yang bisa dicuci, tidak memakai botol minum plastik, hemat energi dan meminta para imam dan khatib untuk berkhotbah dengan pesan ajakan untuk lebih ramah lingkungan.

Nana menuturkan, dalam hadits disebutkan Rasulullah SAW mencontohkan prinsip satu per tiga ketika makan, kapasitas lambung terbagi menjadi sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga lainnya untuk udara. Artinya konsumsi makanan harus diperhatikan juga, semakin sedikit konsumsi makanan berarti semakin sedikit jumlah sampah yang dihasilkan. 



Campaign and Mobilization Manager, WWF Indonesia, Dewi Satriani sependapat dengan Nana, konsumen harus kritis, biasakan bertanya kepada penjual mengenai produk yang dibeli. Tanyakan apakah produk yang dijual itu diproduksi dengan cara yang lebih ramah lingkungan. “Kita punya kampanye #Beliyangbaik, untum mendorong masyarakat agar lebih pintar dalam membeli produk-produk yang dikonsumsinya,” tambahnya.

Kampanye #BeliYangBaik sudah berlangsung sejak bulan Juni tahun 2015 lalu. Tujuan kampanye tersebut adalah meningkatkan kesadaran konsumen mengenai dampak konsumsi sehari-hari terhadap lingkungan dan mengedukasi perihal bentuk-bentuk konsumsi bertanggung jawab yang dapat dilakukan untuk mengurangi dampak lingkungan tersebut.

Dewi juga menjelaskan, konsumsi kita sangat mempengaruhi perubahan iklim. Misalnya emisi yang kita hasilkan ketika berkendara atau penggunaan listrik kita sehari-hari, yang bersumber dari batubara. Baik emisi maupun ekploitasi batubara itu berdampak langsung kepada alam dan menyebabkan perubahan iklim. 

Dalam Al Quran terdapat 600 hingga 700 ayat yang menyangkut tengtang lingkungan dan alam. “Tapi kalau mau melihat yang agak berat sedikit, dalam Islam kita mengenal dua jenis ayat. Satu, ayat Qauliyah, ayat-ayat difirmankan langsung, tertulis dalam AL Quran. Kedua, ayat kauniyah, yaitu semua yang diciptakan Allah berupa jagad raya ini. Jadi, kalau kita tidak menjaga kelestarian alam, sama saja kita menghapus keutuhan AL Quran. Sebaliknya, kalau menjaga bumi berarti kita menjaga firman Allah.” Tutup Nana.  

https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif

Editor: Malika

Ruang Publik bisa disimak Senin-Jumat jam 9 pagi di 100 radio jaringan KBR dan streaming di www.kbr.id atau zeemi.tv  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!