dr. Muhammad Al Azhary

KBR, Jakarta - Apa yang Anda lakukan jika berada dalam situasi darurat dan bahkan jiwa Anda terancam? Jika kita awam pengalaman medis, barangkali kita akan panik dan pasrah. Dalam dunia medis ada program pelatihan yang disebut Bantuan Hidup Dasar (BHD), yang memungkinkan orang untuk melangsungkan hidup orang lain dalam keadaan darurat. Program pendidikan ini dilakukan dalam sehari dan bersertifikat.

Kita temui dr. Ary. Pria bernama lengkap Muhammad Al Azhary ini bertugas di Rumah Sakit Jantung Binawaluya, Jakarta. Menurut dr Ary, BHD adalah pertolongan pertama yang dilakukan pada korban henti jantung atau henti nafas. Hal pertama yang harus diketahui mengenai BHD pada keadaan darurat adalah Cardiopulmonary Resuscitation (CPR) atau dalam bahasa Indonesia berarti resusitasi jantung paru. CPR bertujuan untuk membuka kembali jalan napas yang menyempit atau tertutup sama sekali. CPR kita kerjakan kepada orang yang tiba-tiba tidak sadarkan diri.

"Untuk kasus tersedak kita bisa melakukan Heimlich Manuever. Sebelumnya kita tanya dulu apakah dia benar-benar tersedak. Kalau tersedaknya berat dia tidak akan bisa bicara dan akan membuat postur seperti mencekik leher sendiri. Kita berdiri di belakangnya, kita selipkan paha kaki di bagian tengah, kemudian kita rangkul, lalu tangan kanan kita kepalkan, kita taruh di sekitar pusar, di bawah tulang rusuk di daerah ulu hati. Kemudian tangan kita yang sebelah kiri membantu kepalan tersebut dihentakkan, sehingga diharapkan bisa keluar yang menyebabkannya tersedak," ujar dr. Ary.

Dalam perbincangan Perspektif Baru pada Sabtu (18/06/2016) pagi, dr. Ary bercerita pada Wimar Witoelar. Berikut selengkapnya:

Dari pengalaman institusi atau anda sendiri, apakah orang yang suka mendadak hilang kesadaran atau pingsan memang biasanya hanya orang tua atau bisa terjadi juga pada orang muda?

Rata-rata orang tua biasanya umur 40 tahun ke atas. 

Tadi sudah mulai untuk tindakan BHD yang pertama yaitu membangunkan dengan cara lembut tapi tegas. Apa lagi selanjutnya, Dok?

Kemudian memanggil bantuan atau meminta pertolongan.

Apa langkah berikutnya, Dok?

Langkah berikutnya kita memeriksa nadi. Jadi kita memegang nadi, sambil melihat pernapasan.

Apakah nadi yang diperiksa itu dari leher atau pergelangan tangan?

Dari leher. Bukan dari pergelangan tangan karena jaraknya terlalu jauh dengan jantung, dan yang paling dekat adalah leher. Kemudian sambil memeriksa nadi, kita melihat pergerakan pernapasan di dinding dada. Biasanya kalau orang awam agak susah memeriksa nadi. Jadi kalau dia sudah tidak bernapas, maka kita anggap dia sudah pasti jantungnya berhenti. 

Apa cara terbaik untuk mengecek pernapasannya masih jalan atau tidak?

Dilihat pergerakan dinding dada. Sebelum era sekarang ada tiga hal yang harus diperhatikan yaitu look, listen, feel. Jadi sambil melihat pergerakan dinding dada, telinga kita diletakkan  dekat mulut korban, sehingga kita sambil merasakan juga mendengarkan kalau dia bernapas. Namun untuk sekarang yang paling cepat hanya melihat pergerakan dinding dada karena itu cukup mudah dan pasti kelihatan.

Lalu, apa langkah yang keempat?

Langkah terakhir ini yang paling penting yaitu kita melakukan CPR. Jadi kita melakukan pompa jantung, yaitu dengan cara kompresi dada dan kita memberikan pernapasan buatan atau bantuan. Kompresi dada sebenarnya gampang-gampang susah, tapi dengan dilatih pasti bisa.

Apakah semua orang bisa diharapkan untuk bisa melakukan CPR?

Iya, semua orang pasti bisa asal dilatih karena saya juga sudah melatih semua staf di rumah sakit, dan kesimpulannya bisa.

Apakah pernah ada orang yang disalahkan karena memberikan CPR tapi gagal?

Kalau CPR gagal saya rasa tidak. Namun memang salah satu komplikasi dari CPR adalah jika kita tidak tepat melakukan kompresi dada, misalkan tidak tepat di garis tengah dinding tulang dada, hal itu bisa mengakibat tulang dada bisa retak karena di situ lemah. Hubungan antara tulang iga dengan tulang dada yang di tengah (sternum) kalau istilah kita adalah punctum-nya tulang rawan/tulang lunak yaitu semacam pengikat yang lemah saja. Bila kita salah melakukan bantuan maka tulangnya bisa retak atau patah (fraktur).

Pada umumnya orang yang terlibat emergency dan tidak biasa menghadapinya pasti akan panik.

Pasti panik. Saya mempunyai contoh kasus yang baru saja terjadi sekitar 1-2 minggu lalu ada pasien datang kita CPR tapi tidak tertolong, meninggal. Ternyata riwayat sebelumnya dia sedang meeting tiba-tiba tergeletak jatuh. Di perusahaan itu ada dokternya. Saat dokternya datang bukan menolong dengan CPT malah menyatakan, “Wah kayaknya sudah tidak ada nih, sudah dibawa saja dulu ke rumah sakit.” Akhirnya dibawa ke rumah sakit. Anggap saja, jarak rentang waktu  kantornya ke rumah sakit 10 menit. Sementara angka kehidupan setiap 1 menit turun 10%, turun terus sehingga lama-lama habis. Dokter tersebut bisa begitu mungkin karena panik.

Ada juga keluarga dokter umum menghadapi tiba-tiba orang tuanya tidak sadarkan diri, tapi dia tidak langsung melakukan CPR malah diangkat pelan-pelan, digotong, kemudian dibawa ke rumah sakit.

Apakah semua dokter mendapatkan pelatihan BHD, ataukah tetap ada yang masih bisa panik saat menghadapi emergency walaupun dokter?

Di Indonesia mungkin 90% ke atas dokter-dokter sudah mengikuti pelatihan Advanced Cardiac Life Support (ACLS) yaitu bagaimana dia membantu pasien dengan kondisi tidak sadarkan diri, bahkan pelatihan itu sudah di atas BHD. Kalau BHD adalah bantuan hidup dasar untuk orang awam. Kalau Basic Life Support biasanya untuk perawat. Sedangkan ACLS di atasnya. Cuma tidak serta merta saat sudah mengikuti pelatihan ACLS lantas langsung bisa segala-galanya. Ternyata itu juga perlu dilatih terus.

Seberapa besar kegunaannya kalau kita menguasai teknik-teknik CPR, Heimlich?

Kedua teknik tersebut amat sangat berguna. Saya ketemu pasien yang lima menit berhenti napas dan berhenti detak jantung, begitu tiba di rumah sakit berdetak kembali jantung. Semakin cepat kita memberikan bantuan, seperti pernapasan dengan kompresi dada 30:2, maka semakin besar angka untuk kemungkinan selamat.

Editor: Malika

Perspektif Baru dapat Anda simak setiap Sabtu pagi pukul 6.30 WIB melalui streaming kbr.id dan radio-radio jaringan KBR di kota Anda. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!