Foto: @hutanituid

KBR, Jakarta- Forest Watch Indonesia (FWI) menyebut pemanfaatan hutan Indonesia khususnya untuk memenuhi kebutuhan pasar telah  berdampak pada berkurangnya luas tutupan hutan (deforestasi). Pada periode 2009-2013, laju deforestasi rata-rata sebesar 1,13 juta hektare per tahun. Kondisi ini berdampak pada peningkatan emisi gas rumah kaca, kerawanan bencana,  hilangnya satwa liar dan habitatnya, dan konflik antara berbagai pemangku kepentingan.

Prihatin atas kondisi itu, ratusan pelari mendaftarkan diri dalam kegiatan #KuLarikeHutan, acara lari santai yang digagas gerakan Hutan itu Indonesia beserta sejumlah lembaga seperti WWF, Warsi, komunitas Fake Runners dan UNDP (United Nations Development Program). Mereka berlomba lomba mengadopsi pohon.

Untuk setiap 5 kilometer yang dicapai, setiap pelari akan mengadopsi satu pohon selama satu tahun. Pelari bisa mengadopsi sebanyak-banyaknya pohon dalam  batas waktu 2 jam.

Acara yang digelar bertepatan dengan peringatan Hari Lingkungan Hidup, 5 Juni 2016 lalu itu juga diikuti oleh sejumlah artis yang peduli pada nasib hutan seperti Dian Sastro, Adrian Maulana, Daniel Mananta, Hamish dan Nadine Candrawinata.

Dalam Ruang Publik Senin (6/6) lalu, Leoni Aurora, salah satu inisiator #KuLarikeHutan dari gerakan Hutan itu Indonesia mengingatkan pentingnya kelestarian hutan untuk keberlanjutan hidup manusia. "Ini bukan hanya penting untuk saudara-saudara kita yang tinggal dekat hutan saja. Jangan sampai kita tidak sadar, tahu-tahu hutan kita sudah hilang.” 

Ressy mewakili komunitas Fake Runners yang ikut serta dalam #KuLarikeHutan menimpali dengan penuh semangat. " Untuk hidup, kita butuh oksigen. Termasuk pelari. Kita bangkit dari kesadaran itu. Dalam komunitas ini kita punya core yang salah satunya, do good to others. Nggak hanya lari saja, tapi kita mau berbuat sesuatu kebaikan. Nggak nyangka juga dengan antusiasmenya (pelari) mengikuti acara ini," ujar Ressy.


(ki-ka : Leoni Aurora (Hutan itu Indonesia), Ressy (Fake Runners), dan Emmy Primadona (KKI Warsi)  

Hasilnya mencengangkan. Dari target awal sebanyak 300 pelari untuk mengadopsi 600 pohon, melonjak hingga lebih 600an pelari yang mendaftar. Ressy menambahkan para pelari juga sangat antusias hingga berhasil melewati lebih dari 1 sampai 5 putaran agar bisa mengadopsi lebih banyak pohon.  Total 1000 pohon berhasil diadopsi dari kegiatan tersebut.

Para pelari ini mengadopsi pohon-pohon yang tumbuh  di wilayah konservasi hutan binaan masyarakat. Lokasinya berada di Sumatera Barat, Jambi, dan Nusa Tenggara Barat, seperti di Hutan  Nagari Sirukam, Hutan Adat Serampas, Rantau Kermas Jambi, dan Taman Nasional Gunung Rinjani, bekerja sama dengan Komunitas  Konservasi Indonesia (KKI) Warsi dan WWF-Indonesia. 

Emmy Primadona, pegiat KKI Warsi menjelaskan alasan pemilihan lokasi adopsi pohon tersebut. "Pohon-pohon itu  berada di APL (Area Penggunaan Lain). Masyarakat tidak mau menebang itu, itu dinilai sebagai  hutan adat. Untuk mencegah tendensi menebang itulah makanya kita buat skema pohon asuh, sehingga ada insentif juga bagi  masyarakat untuk mengelola hutannya," kata Emmy.

Masyarakat adat yang tinggal di sekitar wilayah konservasi pun turut dilibatkan dalam program adopsi pohon. "Hutan yang dijaga oleh masyarakat cenderung lebih baik. Hutan dilihat bukan sekedar tegakan tapi ada hubungan tarik menarik, simbiosis mutualisme. Mereka sangat mengerti arti keberadaan hutan bagi keberlanjutan hidup.”jelasnya.

Melihat tingginya animo masyarakat mengadopsi pohon lewat kegiatan #KuLarikeHutan, Leoni Aurora dari Hutan itu Indonesia berencana membuat kegiatan lanjutan di kota lainnya.


Editor: Malika

Untuk mengetahui lebih jauh soal gerakan Hutan itu Indonesia, bisa Anda buka melalui http://hutanitu.id/ 


Simak Ruang Publik setiap Senin hingga Jumat pukul 9 WIB di radio-radio jaringan KBR di kota Anda atau melalui streaming di www.kbr.id dan zeemi.tv: KBR

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!