Kopi Emass dari Empat Lawang, Sumatera Selatan (Foto: Sindu Dharmawan)

Kopi Emass dari Empat Lawang, Sumatera Selatan (Foto: Sindu Dharmawan)

KBR, Jakarta - Jangan mengaku pecinta kopi jika belum pernah menyeruput kopi asal Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Kopi daerah ini jelas beda dengan kopi daerah lain yang kerap Anda minum. Sebab kopi di daerah ini bukanlah jenis robusta atau arabica, tapi perpaduan keduanya. Bukan karena bubuk kopi hasil gilingan keduanya dicampur, namun dalam tiap pohon kopi di sini, 70 persen batangnya menghasilkan biji kopi robusta, sementara 30 persen lainnya menghasilkan biji Arabica.

“Menurut riset terakhir yang saya ketahui. Diduga ini akibat persilangan pohon kopi yang dilakukan sejak zaman Belanda,” terang Anang Zahiri, petani setempat, Senin, (8/6/2015).

Aroma kopi Empat Lawang menyeruak usai diseduh, pun ketika dicium saat masih menjadi bubuk. Rasa pahitnya dominan, dengan rasa asam yang tipis ciri khas arabica. Jika Anda ingin bergadang mengerjakan tugas, sebaiknya ada secangkir kopi ini di meja Anda.

Untuk menunjukkan keunggulan kopinya, daerah ini bahkan berani menggunakan biji kopi sebagai maskot daerahnya. Data Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) tahun 2012 menyebut produksi kopi perkebunan rakyat Empat Lawang mencapai 28.672 ton per tahun, dengan luas lahan yang digunakan 61.978 hektare.

Anang Zahiri adalah petani lokal yang juga ketua Kelompok Tani Usaha Maju. Ia memiliki sekira 20 hektare tanaman kopi. Tak hanya menanam, pria 56 tahun ini juga memproses kopi-kopi itu menjadi kopi bubuk siap minum, atau dalam kemasan. Ada outlet kecil di depan rumahnya tempat ia menjajakan kopi produksinya. Sementara, ruang produksi ada di sebelah kiri kiosnya. Total ukuran kios berikut rumah dan ruang produksinya 20x15 meter.

Pria kelahiran Sumatera keturunan Jawa ini mengaku sudah 15 tahun berkecimpung di dunia kopi. Ia juga kerap mewakili Sumatera Selatan, jika ada pameran, atau sebagai duta kopi. Sertifikat dan berbagai piagam juga terpajang di tembok yang ada di tokonya. Jangan heran saat hendak menuju kiosnya, di Kelurahan Jaya Loka, Kecamatan Tebing. Karena, hampir di sepanjang jalan terdapat biji-biji kopi yang sengaja dijemur di tengah jalan beraspal. Biji-biji inipun jadi sasaran roda mobil atau kendaraan yang melintasi jalan tersebut, termasuk motor yang dikendarai KBR.

Sebelum terjun ke dunia perkopian, lelaki dua anak ini seorang kontraktor. Bisnis kopi ia mulai dengan menjual sekilo, dua kilo, dan kini sudah mencapai dua kwintal per harinya. “Awalnya coba-coba, tapi keterusan hingga sekarang. Bahkan sudah punya 15 pegawai,” kenangnya.


KBR diberi kesempatan menengok ruang produksi kopi dengan merek dagang EMASS, kepanjangan dari Ekonomi Maju Aman, Sehat dan Sejahtera. Ini juga merupakan slogan Pemkab Empat Lawang.

Sebelum jadi kopi siap seduh, biji kopi yang telah dikupas dicuci hingga bersih dan disortir, kemudian dijemur hingga kering. Setelah itu biji kopi akan melalui proses penggorengan. Untuk proses ini Anang Zahiri menggunakan dua tangki berukuran 30 kiloram yang diletakkan di atas api kayu, yang dimodifikasi dan dihubungkan dengan mesin genset, yang berfungsi memutar roda yang ada di ujung tangki. Modifikasi ini menghasilkan putaran tangki yang konstan. Dalam tiap tangki berisi 15 kilogram biji kopi, yang akan disangrai selama kurang lebih 2,5 jam. Kayu bakar yang digunakan pun bukan sembarang kayu, melainkan kayu karet. Ini dipercaya memengaruhi kualitas rasa dan aroma. Kopi yang masih panas usai digoreng, akan didinginkan, sebelum kemudian dimasukkan ke karung dan siap digiling menjadi bubuk kopi, dan dikemas.

“Semua alat produksi saya buat dan modifikasi sendiri,” jelas Anang, sembari mengantar KBR berkeliling ruang produksi kopinya.

Selain mengolah biji kopi hasil kebunnya sendiri, Anang juga membeli biji kopi milik masyarakat sekitar untuk diolah. Ia juga memiliki tanaman karet yang luas, melebihi luas tanaman kopinya. Jika disuruh memilih, ia lebih memilih usaha kebun karet, ketimbang kopi.

“Karena hasilnya setiap hari. Sementara kopi setahun sekali,” katanya.

Tak hanya itu, tanaman kopi juga membutuhkan perawatan yang ekstra dan mahal, beda dengan karet.

Salah seorang anaknya sekarang berkuliah di Universitas Gadja Mada, Yogyakarta. Ia berharap anaknya meneruskan usahanya dan mengembangkannya usai lulus kuliah. Di akhir perbincangan, KBR tak lupa membeli beberapa produk kopi milik Anang Zahiri, untuk dibawa ke Jakarta. Harganya tak semahal secangkir kopi racikan merek luar. 

Tak percaya, datanglah. 

Editor: Citra Dyah Prastuti 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!