Ilustrasi rokok. Foto:Dakwatuna.com

KBR, Jakarta - Puasa sudah dua minggu nih, gak terasa ya. Makan enggak, minum ditahan, merokok pun, ya seharusnya disingkirkan juga. Nah, kalau selama puasa kita bisa menahan untuk tidak merokok, kenapa setelah Ramadan tak dilanjutkan ?

Tak mudah memang, tapi, kan bisa berangsur-angsur.

Nah, mumpung ramadhan, kita manfaatkan moment ini untuk berhenti merokok. Apalagi, zat zat yang terkandung pada rokok bisa mengakibatkan banyak penyakit, seperti stroke, kanker pita suara, paru-paru, jantung, kulit, lambung dan sebagainya.

Menurut ketua Pusat Kajian Ekonomi dan Kebijakan Kesehatan Universitas Indonesia, Prof. Hasbullah Thabrany, semua orang yang kecanduan rokok bisa diobati, yang penting motivasi dan niat yang kuat. Apalagi, selama bulan puasa umumnya para perokok, tak merokok pada siang hari. Kesempatan ini, harusnya bisa dijadikan momentum untuk berhenti.

“Harus disadari, bahwa merokok itu saudaranya setan. Mubazir! Menghisap rokok itu tak ada manfaatnya dan merusak diri. Untuk itu, para ulama mengatakan kalau merokok itu haram. Kalau kita yakin bahwa itu haram, kita harus berhenti dengan tekad. Memang harus secara pelan-pelan tak bisa sekaligus,” ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program KliniK KBR, Selasa (30/06/2015).

Ia menambahkan, bagi yang tak memiliki tekad kuat, bisa dibantu dengan obat atau melakukan terapi di klinik tempat penyembuhan orang yang kecanduan rokok. Treatment yang dilakukan adalah penyinaran pada kepala. Namun, tentu saja terapi ini mahal. Jika ingin murah, ya, memberikan support kepada suami atau keluarga yang merokok. Selain itu, hindari bergaul dengan orang–orang yang merokok, karena bisa mempengaruhi seseorang.

dr. Diah Evasari Husnulkhotimah, MPH, Media Officer Center for Health Economics and Policy Studies CHEPS, juga menyarankan, setiap hari pecandu rokok harusnya bisa mengurangi jumlah rokok. Bila perlu tulis di papan, berapa batang rokok yang sudah dikurangi setiap harinya, sampai akhirnya berhenti. 

“Satu hari dikurangi satu batang. Misal, jika 4 jam sekali merokok, bisa dipanjangkan rentang waktunya menjadi 5-6 jam sekali,” kata Eva.

Ia menegaskan, bagi orang yang kecanduan rokok, semakin cepat diakhiri semakin baik. Sebab resiko penyakit karena rokok, baru akan turun atau muncul setelah 10 tahun berhenti merokok. 

“Membeli rokok sama dengan membuang duit, dan uang tersebut tentu lebih baik  digunakan untuk keperluan anak-anak atau keluarga,” pungkasnya. 


Dengarkan audionya...  


Editor : Sasmito

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!