Biji Kopi Arabica

Biji Kopi Arabica

KBR, Serpong - Harum kafein meruar dari lorong-lorong. Hinggap di penciuman pecinta kopi yang berkerumun di terik gerai berjejer. Para penjaja memamerkan produk yang sama: kopi. Kalaupun beda, hanya jenis - arabica atau robusta - dan daerah tempat kopi itu ditanam, yang jadi penanda. Selama tiga hari, pecandu kopi dimanjakan dengan berbagai pilihan. Sebuah festival menikmati kopi,  Festival Kopi Tanah Air Kita, digelar 29-31 Mei, di dBreeze, Bumi Serpong Damai, pinggir kota Jakarta.

“Mampir Pak, ini kopi dari Sigi,” ajak seorang penjaga gerai.

Sigi, sebuah kabupaten di Sulawesi, mungkin tak terlalu menonjol dalam peta perkopian.  Kalau mendengar kopi Sulawesi, biasanya orang langsung teringat kopi Toraja. Tapi ini beda. Toraja terkenal dengan kopi Arabica. Kopi dari Sigi dominan robusta. Lebih hitam. Lebih tinggi derajat kafeinnya. Tapi tanpa rasa asam, yang biasa menyertai rasa arabica. Penggemar kopi robusta, sangat disarankan mencoba kopi dari Sulawesi Tengah ini. Kafeinnya nendang. Pahitnya terkenang. Dan Pemda Sigi, tampak bersungguh mengundang investor buka kebun kopi di daerahnya.

Saat ini, di Kabupaten Sigi terdapat kebun kopi rakyat seluas hampir 5.000 ha. Jarang sekali kebun kopi yang dikelola perusahaan. Dengan produksi biji kopi per tahun sebesar 2.000 ton. Maka rata-rata produksi kebun kopi rakyat itu hanya sekitar 400 kg/ha per tahun. Tingkat produktivitas ini masih lebih rendah dibanding rata-rata produktivitas kebun kopi di Indonesia. Dari luasan kebun yang aktif hampir satu juta hektar, Indonesia hanya mampu memproduksi 748 ribu ton pada 2012. Atau rata-rata hanya 748 kg biji kopi/ha per tahun. Capaian Indonesia itu, jauh lebih rendah dibanding kebun kopi Vietnam yang mampu mencatat produktivitas 2 ton/ha per tahun.

Rendahnya produktivitas kebun kopi kita mencemaskan. Dan sayangnya, hal ini juga luput dari perhatian Festival Kopi Tanah Air. Kita asyik mencicipi berbagai jenis kopi. Tapi tak sempat bertanya, kenapa kebun-kebun kita menghasilkan biji kopi begitu sedikit?

Salah satu sebab rendahnya produktivitas adalah umur tanaman kopi yang terlalu tua. Banyak pohon kopi, terutama di Sumatera yang sudah berumur 30 tahun dan belum diremajakan. Lampung, salah satu sentra kopi terpenting di Indonesia, punya problem serius dalam peremajaan ini. Pohon kopi yang terlalu tua, tentu tak menghasilkan banyak biji lagi. Usia optimum untuk kopi berproduksi adalah 5 hingga 20 tahun. Jadi, pada usia ke-17, semestinya pohon kopi sudah disiapkan penggantinya yang baru. Supaya, keberlanjutan produksi dapat terjaga.

Selain itu, di kebun rakyat, “kebun kopi banyak dicampur dengan tanaman lain. Terlalu rapat, sehingga produktivitas tak dapat dipacu,” kata Darno, seorang pendamping petani kopi di Kulon Progo. Kepada KBR ia menjelaskan, dalam satu meter persegi kebun di Kulon Progo, pohon kopi kadang harus bersaing dengan puluhan jenis tanaman lain. Ada kunyit, jahe, kapulaga. Juga tanaman buah seperti nangka dan pisang. Dengan pemilikan tanah rata-rata hanya 0,2 ha per keluarga tani, kebun memang tak mudah didedikasikan untuk kopi semata.

Kopi hanya berbuah empat bulan dalam setahun. Biasanya Juni-September. Delapan bulan sisanya, petani tak dapat berharap hasil dari kopi. Mereka yang hanya bergantung dari sepetak kebun itu, harus cari siasat supaya di luar musim panen kopi, tetap ada penghasilan. Jadilah, kebunnya dipadati aneka tanaman semusim. 

Menurut catatan AEKI, Asosiasi Eksportir Kopi Indonesia, kebun kopi swasta dan negara, hanya mengambil porsi 6% dari areal kopi Indonesia. Selebihnya, 94% adalah kebun-kebun rakyat yang terpencar-pencar. Luasnya sekira 0,2 hingga2 ha per petani. Ada 1,9 juta orang petani yang bergiat dalam perkebunan kopi. Tetapi hasilnya tidak optimal. Tidak mudah meningkatkan produktivitas kebun-kebun yang berserak, dan otonom pegelolaannya. Alhasil, produksi kopi Indonesia masih tertinggal dari Vietnam. Walau kebun mereka tak seluas kebun kopi kita.


Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!