Kecap Benteng, salah satu penanda sejarah lama Tangerang. (Foto: Luviana)

Kecap Benteng, salah satu penanda sejarah lama Tangerang. (Foto: Luviana)

KBR, Tangerang – Jejak makanan tak pernah lepas dari tempat di mana dia dibuat. Kota lama Tangerang juga menyimpan jejak masa lalu itu. Bangunannya yang kian renta menyimpan catatan kuliner dari masa ke masa di sana.

Mungkin Anda tak tahu kalau yang cukup ikonis dari Tangerang adalah kecap. Ada pabrik kecap Siong Hin dan pabrik kecap Benteng Teng Giok Seng yang sudah berdiri lebih dari seratus tahun. Mereka jadi penanda hiruk pikuk kota lama Tangerang. Kecap ini ikut menandai tumbuhnya geliat ekonomi warga China benteng di kota tersebut.

Kecap benteng Teng Giok Seng berdiri sejak tahun 1882, sementara kecap Siong Hin mulai diproduksi pada tahun 1920. Letak kedua pabrik hanya berselang 300 meter dan sama-sama berada di kawasan kota lama – di tengah hiruk pikuk pasar lama dan gedung-gedung tua. Tampilan kedua pabrik ini sekaligus menjelaskan dari zaman apa dia berasal.

Kecap Benteng yang Melegenda

Setiyardi sedang berkemas menutup gudang pabrik kecapnya. Dia adalah penjaga terakhir Kecap Benteng di sebuah gudang pabrik yang ukurannya kecil ini. Lebih mirip sebuah rumah ketimbang pabrik. Padahal di sinilah legenda kecap Tangerang bermula.

“Saya keturunan kelima keluarga ini. Dulu saya bekerja di perusahaan di Jakarta. Tapi ketika keluarga meminta saya mengurus pabrik, akhirnya saya mengurus di sini,” tutur Setiyardi.

Di dalam pabrik tampak beberapa tungku besar yang berisi olahan kedelai hitam yang hangat mengepul. Apinya baru saja mati dan ditinggalkan oleh para buruh pabrik kecap yang bekerja hingga siang hari. Wanginya masih menusuk hidung – bauran antara kedelai hitam dengan gula merah.

Ada juga perempuan paruh baya yang sedari tadi keluar masuk pabrik dengan membawa beberapa krat botol kecap. Siang hari adalah waktunya jual beli kecap. Para pedagang biasanya menyuruh becak untuk mengambil botol-botol kecap lama dan menukarnya dengan yang baru. Pabrik ini tak hanya melayani jual beli perlusin atau perkrat tapi juga perbotol.

Pabrik ini sudah berdiri sejak ia masih sekolah dulu. Yang ia tahu semasa kecil, ada banyak aktivitas di pabrik ini. Ada kakek neneknya yang membuat kecap, lantas dilanjutkan oleh generasi berikutnya – ayah, paman dan bibinya. Kecap Benteng milik Teng Hang Soey ini adalah milik keluarga kakek buyut Setiyardi yang didirikan pada tahun 1882.

“Dulu yang masak banyak sekali, sekarang tinggal enam orang. Sekarang juga makin banyak pesaing dan rata-rata menggunakan mesin untuk mengolahnya. Sementara kami hanya memakai tungku dan mengandalkan tangan untuk mengaduk. Jika rasanya berbeda, ini karena kami selalu setia pada cita rasa lama.”

Sementara kecap Siong Hin membawa cerita yang senada. Pabrik kecap ini berdiri pada tahun 1920 dan dirintis oleh Lo Tjit Siong. Tampilan pabriknya tak beda jauh dengan pabrik Kecap Benteng – penuh barang-barang lama. Truk berdatangan di pagi hari untuk mengambil kecap, pembeli pun tampak antre di sana. Tujuan akhir pengolahan kecap yang mereka lakukan tak beda dengan Kecap Benteng: mempertahankan rasa tempo dulu.

Rasa beda kecap lama

Harus diakui kalau rasa Kecap Benteng dan Kecap Siong Hin ini berbeda. Termasuk rasa manis kecap yang terasa berbeda di indera pencecap.

Sambil berseloroh, Setiyardi mengatakan,”Memasaknya biasa saja, tapi beda koki kan memang beda hasil masakan...”

Di Tangerang, kecap old style ini masih banyak dipakai restoran dan warung makan. Kecap Siong Hin lebih banyak dipakai untuk camilan, apalagi kalau dicampur dengan bakso, mie ayam atau bakwan dan gorengan lainnya. Banyak orang yang saat makan di restoran akan langsung mencari Kecap Siong Hin sebagai teman makan karena rasanya yang gurih dan manis.

Sementara untuk masak di dapur, Kecap Benteng yang lebih dicari. “Kurang sedap rasanya kalau tanpa Kecap Benteng,” begitu ungkap sejumlah pemilik restoran di Tangerang. Dari segi rasa, Kecap Benteng ini terasa lebih kental dan legit.

Geliat Ekonomi

Menurut para pemiliknya, Kecap Siong Hin dan Kecap Benteng hanya didistribusikan ke wilayah Tangerang dan Jakarta. Jika kemudian kecap ini tersebar sampai ke kota-kota lain, maka menurut mereka, distribusi ini bukan ditangani langsung olehpabrik.

“Sudah ada banyak kecap, banyak yang manis dan berbeda rasa,” kata Setiyardi beralasan.

“Jika ditanya kenapa bertahan, memang inilah usaha kami. Harus terus kami tekuni.”

Kecap Benteng dan Kecap Siong Hin dalam sehari bisa memproduksi 200-300 botol kecap. Harganya sangat terjangkau, yaitu antara Rp 7.000 sampa Rp 16.000 untuk botol besar. Saat pagi datang, banyak truk yang datang untuk mengambil dan mulai mendistribusikan kecap tersebut. Sementara di siang hari, lebih banyak becak yang hilir masuk keluar pabrik untuk mengambil beberapa krat kecap yang memenuhi becak mereka.

Merekalah para saksi sejarah ekonomi di kota lama Tangerang.

Geliat ekonomi di kota lama dimulai sejak tahun 1880. Saat itu ada banyak warga China Benteng yang tinggal di wilayah kota lama, karena letaknya yang dekat dengan Kali Cisadane. Mereka lah yang kemudian memulai usaha perdagangan di sana. Tak heran kalau banyak yang menyebut kota lama sebagai kawasan China Benteng. Sejak zaman VOC, sekitar tahun 1684, Belanda membangun banteng sebagai wilayah pertahanan Batavia dalam mempertahankan diri dari serangan Banten.

Mula-mula ada banyak warga China Benteng yang bekerja sebagai petani dan nelayan. Tapi oleh Pemerintah Kolonial Belanda, mereka dijadikan buruh. Ketekunan dan kerja keras mereka membantu mereka untuk mengubah nasib – dari buruh, jadi pedagang. Jadilah mereka menghidupi ekonomi keluarga, sekaligus keluarga sekitar.

Jadi kalau Anda berkunjung ke Tangerang, cobalah ikut mencicipi kecap khas Tangerang yang bisa membawa Anda seperti masuk ke mesin waktu kota ini.

Editor: Citra Dyah Prastuti  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!