KBR, Jakarta - Kosongkan jadwal Anda pada 6 dan 7 Juni 2015 ini ya. Akhir pekan ini, ada festival yang mengandalkan produk lokal dari berbagai deerah di Indonesia, di Lapangan Banteng, Jakarta Pusat.

Festival Panen Raya Nusantara 2015, namanya. Festival yang disingkat PARARA ini, mengusung tema “Menuju Ekonomi Komunitas yang Adil dan Lestari.”

Kepala Sekretariat PARARA, Jusupta Tarigan mengatakan banyak bahan baku produk komunitas terbuat dari bahan alami yang hanya terdapat di hutan. Sayangnya, keberadaan hutan tersebut ada yang terancam deforestasi dan ahli fungsi lahan.

Karenanya, festival ini menghadirkan ratusan produsen lokal berdaya dari seluruh Indonesia dengan ratusan jenis produk. Ada tenun ikat Kalimantan yang menggunakan pewarna alami dari hutan, madu hutan yang dikelola secara lestari, beras organik, dan berbagai jenis produk pangan lokal berbasis sagu.

Kerajinan Suku Boti

Salah satu peserta, ada yang datang dari Pulau Timor. Tepatnya di  Kecamatan Kie Kabupaten Timor Tengah Selatan, tempat Suku Boti bermukim. Alam adalah jantung kehidupan bagi suku Boti, sehingga segala macam aturan berkaitan erat dengan alam.

Nah, Suku Boti nanti akan datang ke Jakarta dengan produk tenun mereka. Liliane Amalo, pendamping Suku Boti dari Yayasan Tanpa Batas mengatakan, tenun yang mereka bawa berasal dari suku Botti, salah  satu  suku yang terisolir. 

Tenun mereka terbuat dari kapas asli dan pewarna dari batang dan akar pohon. Ada pula tenun yang terbuat dari benang. Selain aneka tenun, sarung dan selimut buatan suku Boti pun ikut dipajangkan.  

“Setiap wanita di Suku Boti, baru boleh menikah kalau gadis tersebut sudah bisa menenun. Jadi, wanita di sana sudah menenun sejak kecil. Kalau tidak bisa memenun, bagaimana mereka membuatkan pakaian untuk keluarganya?” ujar Liliane saat berbincang bersama KBR pada obrolan Bumi Kita, Kamis (4/6/2015).

“Warga Suku Boti hidup di alam dan lingkungan yang saling menghormati. Walau keadaan mereka terisolir, tapi mereka taat pada peraturan. Bukan peraturan tertulis, tapi peraturan alam,” tambahnya.

Lili menambahkan, warga selalu siap, kapan pun mereka diminta untuk membawa atau menunjukkan kerajian mereka.

Kerajinan Suku Dayak Benuaq.

Dari hasil kerajinan Pulau Timor, ada pula produk rotan dari Kalimantan Timur. Produk dari rotan ini dibuat oleh Kelompok Bina Usaha Rotan, suku Dayak Benuaq. Anggotanya sekitar 30 orang.  Suku ini, menggunakan rotan untuk kegiatan sehari-hari maupun pada upacara tradisional. Rotan adalah bagian hidup mereka.

Perwakilan Bina Usaha Rotan suku Dayak Benuaq, Anastasia Dewi mengatakan, barang yang mereka buat dari rotan adalah gelang, tas, brangga atau keranjang dan lain-lain. 

Ia menjelaskan, rotan yang sudah dipotong, akan dibersihkan selama seminggu, baru kemudian bisa dianyam. Setelah itu diberi pewarna alami dari bahan kayu.

“Saya menganyam rotan dari kelas 4 SD. Sejak kecil usaha orang tua dari rotan. Semenjak menikah pun saya sudah menamam rotan sendiri. Kita tanam rotan dipinggir sungai. Sekarang, saya dibantu suami untuk mencari bahan baku. Sedangkan Anak membantu membuat produknya,” ujar Anastasia. 

Ia menambahkan, harga produk yang dihasilkan terjangkau, dan dipasarkan dari rumah ke rumah.Tapi, barang-barang itu baru dibuat jika ada pesanan.

Kerajinan Pundi Sumatera

Perwakilan dari Komunitas Jambi, Pundi Sumatera, juga ikut memamerkan produknya di Panen Raya Nusantara 2015 ini. Mahendra Taher dari Pundi Sumatera mengatakan, pihaknya akan  membawa kulit manis atau kayu manis, karet dan kopi.

“Kulit manis, bisa digunakan banyak hal, mulai dari rempah-rempah dan minyaknya untuk parfum. Sedangkan, kopi khas Jambi adalah kopi robusta yang rasanya sangat pahit,” ujar Mahendra.

Ia menambahkan, produk yang dibawanya berasal dari masyarakat dampingan. Mereka tinggal di dataran tinggi Dangkat, sekitar 6-7 jam dari kota Jambi.

Selama ini, produk yang mereka jual berupa raw material tidak diberi akses untuk mendapatkan informasi. Misalnya,  seperti apa spesifikasi yang diinginkan pasar agar mendapat nilai ekonomi. Akhirnya, selama ini harga jual produk mereka tidak kompetitif. 

Mahendra berharap, salah satu produk yang dijajakan di festival ini, bisa diprospek pengunjung. Menurutnya banyak yang mencari produk yang mereka produksi, tapi tak bisa menemukannya.

Kuliner Papua

Nah, tak lengkap rasanya, kalau mengunjungi festival yang akan digelar 2 hari lagi ini,tapi tak mencicipi kuliner khas dari daerah.

Saudara-saudara kita dari Papua, ikut memamerkan masakan khasnya. Leonard Imbiri dari Yayasan YADUPA, mengatakan  bahan makanan yang ditampilkan di PARARA, diambil dari 3 kampung pendamping YADUPA yang ada di Papua.

“Ada pizza kare, singkong, keladi, kerang bumbu kare, papeda, cocktail dicampur es krim dan bola-bola ubi,cheese stick rumput laut, dan masih banyak lagi,“ ujar Leonard.

Ia menambahkan, warga di sana memang mengembangkan pangan lokal. Salah satunya dengan melestarikan kebun keladi. Awalnya, dari 25 kebun kini menjadi 30 sampai 60 kebun.

YADUPA, ikut membantu warga mengembangkan bahan keladi agar bernilai ekonomi. Salah satunya, warga dilatih membuat krupuk keladi dan makanan lainnya. 

Di festival ini, teman-teman dari Papua tak hanya menjajakan makanan khas daerahnya, tapi juga akan unjuk kebolehan menari, lho.

Festival ini diselenggarakan karena keprihatinan akan perhatian terhadap produk-produk komunitas yang masih termarjinalkan. Pasca festival, akan dibentuk forum komunikasi antara pekerja kreatif dan wirausahawan dari komunitas. Konsorsium festival diharapkan dapat memfasilitasi kebutuhan workshop lanjutan bersama ke depan secara berkala sebagai langkah memberikan kesempatan pengembangan pada produk yang akan dikembangkan, serta potensi pasar.

Jangan lewatkan Festival Panen Raya Nusantara 2015 ini ya!  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!