Salah satu adegan dalam film Prenjak besutan sutradara muda Wregas Bhanuteja. Film berdurasi 12 menitan itu diganjar Leica Cine Discovery Prize. Foto: Semaine de La Critique

KBR, Sepertinya ada sesuatu yang mendesak ketika Diah mengajak rekan kerjanya, Jarwo, masuk ke sebuah gudang ketika mereka berdua rehat dari pekerjaan di sebuah restoran. Diah (Rosa Winenggar) meminta Jarwo (Yohanes Budyambara) dengan sedikit memaksa untuk membeli korek api yang ia jual seharga Rp10 ribu per batang.

Itu tadi adegan pembuka film Prenjak (In the Year of Monkey) besutan sutradara muda Wregas Bhanuteja. Film berdurasi 12 menitan itu diganjar Leica Cine Discovery Prize, satu penghargaan tertinggi untuk film pendek pada The 55th Semaine de la Critique 2016, Cannes, Perancis. La Semaine de La Critique merupakan  salah satu festival independen terpenting yang diselenggarakan berbarengan dengan Festival Cannes pada setiap bulan Mei.

Prenjak berhasil mengalahkan sembilan film lainnya: Arnie karya Rina B. Tsou (Taiwan - Filipina), Ascensão (Pedro Peralta, Portugal), Campo de víboras (Cristèle Alves Meira, Portugal), Delusion Is Redemption to Those in Distress (O Delírio é redenção dos aflitos, Fellipe Fernandes, Brasil), L’Enfance d’un chef (Antoine de Bary, Prancis), Limbo (Konstantina Kotzamani, Yunani) Oh what a wonderful feeling (François Jaros, KCanada), Le Soldat vierge (Erwan Le Duc, Prancis), dan Superbia (Luca Tóth, Hungaria).


Sak korek sewu

Transaksi seks intip kelamin ala Prenjak bukan barang baru dalam masyarakat Indonesia. Di Jawa Timur dikenal dengan istilah sak korek sewu (sebatang korek api seharga seribu) -meskipun dalam perkembangannya harganya bisa lebih dari seribu rupiah, konon masih bisa ditemukan di salah satu sudut kota Surabaya.

Fenomena intip kelamin atau ciblek korek, akronim untuk cilik-cilik betah melek (kecil-kecil doyan melek),  muncul para pertengahan 90-an. Istilah ini  kemudian mengalami pergeseran menjadi cilik-cilik iso digemblek (kecil-kecil bisa diselingkuhi).

Di Semarang Ciblek menjadi sebutan untuk pekerja seks di bawah umur. Sedangkan Prenjak, akronim dari perempuan nunggu diajak disandangkan pada pekerja seks dewasa. Sejatinya Ciblek atau Prenjak merupakan nama lokal dari Prinia Familiaris, burung yang lincah dan banyak berkicau.


Kicauan yang saru dan haru

Jika Garin Nugroho hanya menyampirkan adegan ciblek korek dalam dua filmnya, Daun di Atas Bantal dan Aach...Aku Jatuh Cinta!, Wregas Bhanuteja memajangnya sebagai hidangan utama dalam Prenjak.

Kompleksitas dan kedalaman palung tema mengenai seksualitas adalah wilayah wingit yang masih jarang dijamah sehingga Prenjak menjadi santapan yang menggoda karena berani memberi penerang meski hanya dengan korek api. Durasi yang singkat bukan berarti tidak memberikan pencerahan, paling tidak, penonton jadi mahfum bahwa di wilayah negara bernama Indonesia ini ada praktik intip kelamin.

Entah sadar atau tidak, Prenjak memposisikan penonton sebagai pengintip,pengintip transaksi seks yang terjadi sekaligus peristiwa intip mengintip itu sendiri, sebagian lagi menduduki posisi terintip. Lebih-lebih Prenjak juga secara jujur menampilkan kelamin apa adanya, jauh dari kesan erotis. Pada titik ini, ukuran perihal moralitas sebenarnya sudah tidak relevan digunakan. Dengan demikian, sang sutradara akan dengan bebas melucuti pisau moralitas yang biasa digunakan untuk menikam segala hal terkait seks hingga mati. 


Citra Perempuan Jawa dan Kuasa atas Tubuh

Wregas memberikan tawaran mengenai citra perempuan Jawa yang berbeda, selama ini perempuan Jawa banyak digambarkan berparas feminim atau paling tidak berkebaya serta santun. Dalam simena kita, Perempuan Jawa masih jarang digambarkan punya kemerdekaan untuk mengartikulasikan seksualitasnya.

Sosok Diah justru sebaliknya, tidak berkebaya, berambut pendek sehingga terkesan lebih maskulin. Perempuan dalam Prenjak punya ketegasan dan keberanian sehingga dia memilih untuk tidak hanya nerimo dengan keadaan. Melalui Diah, Wregas memberikan tawaran lain mengenai representasi perempuan dalam sinema. Perempuan yang berani mengartikulasikan seksualitasnya meski masih malu-malu, situasi jenaka dalam film yang secara nakal diselipkan sutradara. 

Dalam Prenjak, Diah menjual korek api lantaran alasan banal yaitu kebutuhan ekonomi. Meski terpaksa oleh keadaan, Diah masih punya kuasa atas tubuhnya karena hanya‘menjualnya’untuk untuk dilihat atau diintip. Lebih jauh, keberhasilan Diah untuk membujuk Jarwo membeli korek demi korek berikutnya, bisa dibaca sebagai bentuk keberhasilnya menguasai Jarwo.


Editor: Malika

  

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!