KBR, Jakarta - Kelak, penduduk Inggris bisa mengetahui tentang orientasi seksual dan identitas gender seseorang. Saat ini Lembaga Statistik Nasional tengah menilai tanggapan publik terkait berbagai pertanyaan seputar topik ini.

Pertanyaan soal orientasi seksual rencananya diberlakukan untuk kali pertama dalam sensus di Inggris dan Wales pada 2021 mendatang. Para ahli kependudukan menyebut, hal tersebut sangat mungkin diterapkan.

Lembaga Stasistik Nasional mengumumkan hasil konsultasi publik untuk melihat pandangan dari sebuah kuesioner sensus. Dalam pernyataan itu jelas disebutkan bahwa diperlukan informasi tambahan tentang identitas seksual. Para petugas sensus berencana menyertakan sejumlah pertanyaan dalam tes berskala besar dan mengukur dampak serta kualitas tanggapan.

Sementara ini, pertanyaan misalnya ditujukan untuk responden usia 16 tahun ke atas dengan lima pilihan. Diantaranya bagaimana dia berpikir tentang dirinya, apakah termasuk heteroseksual atau straigt; gay atau lesbian, biseksual, atau lainnya, atau bahkan memilih untuk tidak menjawab. Dengan begitu, Lembaga Statistik Nasional mampu mengukur kadar penerimaan publik terhadap warga dengan orientasi seksual tertentu.

Jika nantinya data statistik menyebutkan ada potensi dampak negatif untuk beberapa pertanyaan, maka lembaga itu tak akan memasukkannya dalam sensus mendatang. Semisal, untuk pilihan tidak menjawab orientasi seksual. Hal ini dimungkinkan membuat anggota keluarga lain curiga terhadap orientasi seksual responden. Apabila begitu, maka pilihan tersebut takkan dimasukkan. Namun jika sebaliknya, didapatkan dampak positif dari pertanyaan, maka petugas sensus akan mempertimbangkannya masuk dalam daftar pertanyaan sensus.

Identitas gender menjadi salah satu topik yang dipertimbangkan masuk dalam sensus mendatang, lantaran kekhawatiran minimnya data atas kelompok ini. Kampanye Stonewall baru-baru ini misalnya menyebutkan, berdasarkan pengalaman, angka diskriminasi terhadap kelompok transgender sangat tinggi. Meskipun, belum ada data akurat yang mendasari hal tersebut.

"Ketiadaan data inilah yang menjadi penghalang terbesar bagi peneliti, pembuat kebijakan dan komisi pengembangan serta pelayanan untuk komunitas transgender baik di tingkat lokal maupun skala nasional."

Menanggapi hal tersebut, pejabat pemerintah urusan kesetaraan gender menyatakan, kurang akuratnya basis data diakui menyebabkan kelompok transgender dan kelompok marginal lain mengalami kerugian baik dalam hal pengambilan kebijakan maupun perolehan dana publik.

Direktur Sensus 2021, Ian Cope mengatakan, para relawan tengah membahas kemungkinan memasukkan topik soal identitas seksual tersebut.

"Mengingat keunikan orientasi seksual sebagai bagian dari sensus, maka tak mengherankan jika memang topik itu dibutuhkan oleh pengguna dan ada permintaan baru. Kami akan mempertimbangkan kemungkinan memasukkan topik itu pada sensus mendatang," katanya.

Pihaknya bakal melanjutkan diskusi ini dengan para ahli dari berbagai latar. Sebab, data sensus penting untuk menentukan kebijakan dan keputusan bagi publik. Dia dan timnya juga akan mempelajari serta mencari sumber data administrasi lain agar pilihan pertanyaan yang dimasukkan tepat. (The Independent)

Editor: Sasmito Madrim

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!