KBR, Jakarta- Harga kebutuhan pokok mulai merangkak naik menjelang bulan puasa. Kenaikan harga terjadi seiring meningkatnya permintaan konsumen. Sayangnya kerap kali kenaikan harga bahan pokok ini tak serta merta membuat petani senang karena meningkatnya pendapatan. Apalagi mengingat panjangnya rantai distribusi dari petani ke konsumen. 

Atas kondisi itu, sekelompok anak muda yang peduli pada nasib dan kesejahteraan petani menggagas sebuah platform bernama Limakilo. Walesa Danto, Lisa Ayu, dan Arif Setiawan hadir pada perbincangan Ruang Publik, Rabu (25/05) lalu. Mereka menjelaskan bagaimana platform tersebut didesain agar petani bisa langsung menangkap permintaan pasar. Mulai dari bawang merah, cabai merah, beras merah, hingga sayuran organik. 

Co-founder Limakilo, Lisa Ayu menjelaskan sebagai mediator antara petani dan konsumen, platform tersebut diharapkan bisa memberikan manfaat bagi keduanya.  "Petani bisa dapat untung lebih, konsumen juga dapat harga lebih murah. Konsumen jadi lebih tahu, siapa petaninya, lokasinya dimana, tahu kualitasnya juga. Bahkan bisa tahu, kapan panennya", kata Lisa. 

Melalui platform tersebut konsumen bisa langsung memesan komoditas bahan pokok ke petani secara online.  



Lantas, kenapa diberi nama Limakilo?

"Limakilo merupakan hitung-hitungan ekonomi. Jika sudah hitung dengan pengiriman dan sebagainya. Limakilo adalah ukuran paket yang ekonomis."ujar perempuan yang mengambil jurusan S2 Bisnis Manajemen.

Kondisi yang terjadi saat ini, kata Lisa, petani umumnya menjual dalam satuan ton, sedangkan kebutuhan rumah tangga hanya 1 kilogram untuk kebutuhan 1 minggu. Dengan pendekatan limakilo, petani akan menjual paket limakilo langsung kepada pembeli dalam jumlah massal.

Secara khusus platform yang menjuarai Hackathon Merdeka 2015 tersebut menyasar petani skala kecil dengan lahan dibawah 1 hektar. 

Sementara ini Limakilo sedang fokus pada penjualan bawang merah. Alasannya permintaan bawang merah saat ini merupakan yang ketiga terbesar setelah beras dan gula di Indonesia. Sementara harganya sering mengalami fluktuasi.  "Itu karena tidak adanya pemetaan rantai distribusi bawang yang panjang."jelasnya.

Limakilo telah memiliki 18 jaringan mitra petani mulai dari Brebes, Yogyakarta, hingga Bandung. Mereka berharap platform ini bisa meningkatkan kesejahteraan petani. Lisa berujar, "Kami ingin para petani melihat profesinya profesional. Bertani tak diakui sebagai profesi saat ini. Padahal kita negara agraris," 

"Kami ingin membangun konsep bertani bukan as usual tapi sustainable business. Bayangkan kalau petani malas bertani itu kebutuhan pokok. Jadi sebenarnya yang perlu kita sejahterakan dulu adalah petaninya," tutup Lisa.

Anda bisa menemukan kolaborasi petani dan programmer muda ini di situs www.limakilo.id 

 


Editor: Malika


Ruang Publik hadir setiap Senin hingga Jumat pukul 9 WIB melalui zeemi.tv dan radio-radio jaringan di kota Anda. Untuk interaktif bisa kirimkan SMS/WA ke 0812 118 8181 dan telp 021-22392424. 


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!