Seorang peselancar (surfer) menerbangkan papan luncurnya di atas ombak. Foto: Antara

KBR- Alih-alih menggunakan campuran antara karet dan platik seperti bahan poliuretan pada umumnya, sebuah papan selancar yang lebih ramah lingkungan kini hadir dengan bahan yang terbuat dari ganggang. Seperti halnya olahraga luar ruangan lainnya, selancar masih bergantung pada bahan berbasis minyak bumi untuk sebagian besar peralatannya. Ini menjadi ironis, mengingat begitu sebagian besar peselancar adalah pegiat lingkungan. Namun jika pembuatan papan selancar berbahan alami ini berhasil dilakukan maka olah raga ini menjadi lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Ide "hijau" ini datang dari sekelompok mahasiswa jurusan kimia dan biologi di University of California San Diego (UCSD), bekerjasama dengan sebuah perusahaan bioteknologi alga dan produsen papan selancar. Pemimpin proyek ini adalah Stephen Mayfield, seorang ahli genetika ganggang dan profesor biologi di UCSD, yang juga seorang pecandu selancar. Tim mahasiswa, bersama dengan profesor biokimia Michael Burkart dan instruktur kimia Robert Pomeroy, memulai percobaan dengan mengambil minyak alga dari ganggang yang telah dikembangkan di laboratorium dan dengan campuran bahan kimia mengubahnya menjadi berbagai jenis polyol, bahan pembentuk busa. Ini adalah sebuah tantangan membuat pengganti ini busa papan selancar yang secara tradisional berasal dari produk turunan minyak bumi tersebut. 

Papan selancar yang inovatif ini diresmikan sebelum Hari Bumi bulan lalu dan dipresentasikan kepada Walikota San Diego, Kevin Faulconer. Untuk saat ini papan selancar berkelanjutan ini masih menggunakan campuran fiberglass, namun tidak menutup kemungkinan bahwa ke depannya nanti papan selancar yang 100 persen ramah lingkungan bisa diciptakan dengan beberapa penelitian tambahan dan inovasi. (Treehugger)

 
Editor: Quinawaty Pasaribu

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!