Kang Dudu Sarongge

Kang Dudu, salah satu petani Sarongge (Foto: KBR)

Namanya Kang Dudu Duroni. Umurnya mungkin 30-40an tahun. Kulitnya legam, tubuhnya kecil.


“Meskipun Bu Menteri nggak datang, saya mau bacakan ini,” kata Kang Dudu. Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya memang semestinya datang di acara Ngaruwat Bumi yang diselenggarakan di Sarongge, Cianjur, Jawa Barat. Acara penanaman pohon ini dilangsungkan dalam rangka ulang tahun ke-16 KBR.


Kang Dudu lantas mengeluarkan kertas dari kantong celananya. Ia membawa pesan untuk Bu Menteri. Pertama, apakah program penanaman pohon buah-buahan ini bisa diteruskan. Kedua, apakah mereka boleh menanam kopi di sebagian desa mereka serta untuk eko wisata.


Kang Dudu adalah salah satu petani pertama di Sarongge yang bersedia turun dari kebun sayurnya yang masuk wilayah Taman Nasional Gunung Gede Pangrango. Program yang diinisiasi KBR dan Green Radio itu bermaksud untuk menghutankan kembali Taman Nasional. Sebagai gantinya, Kang Dudu dan teman-temannya diajarkan keterampilan lain – mulai dari bertanam sayur organik di luar Taman Nasional sampai beternak kelinci dan kambing. Hasilnya sedikit demi sedikit mulai terlihat.


Setelah menaklukkan Sarongge, kini Kang Dudu bergeser ke Desa Tunggilis, yang letaknya dekat Sarongge. Sawah membentang, juga kebun sayur di mana-mana. Tapi tak ada tanaman keras di sana. Solusinya adalah menghidupkan kembali talun – yaitu konsep lahan campuran antara hutan dan kebun. Kang Dudu mengajak warga Tunggilis untuk menanam pohon buah di antara kebun-kebun sayur warga. Akar pohon buah-buahan lebih bisa mengikat air sehingga tanah tidak longsor. Kata Kang Dudu, dengan pohon buah-buahan, warga bisa mendapatkan manfaat panen buah secara teratur. Artinya: ini pemasukan baru bagi warga. 


Kang Dudu berharap, keberhasilan Sarongge menghutankan kembali kebun sayur bisa juga ditularkan ke Tunggilis. Sembari membuka peluang pendapatan baru bagi petani setempat. 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!