Ilustrasi Flux

Lewat goresan tangan dan ide cemerlang, miliaran rupiah pun mengalir ke kantong. Itulah yang kini dicapai Yohanes Auri, pemilik usaha desain grafis berbendera PT Flux Asia Solusindo atau biasa disebut Flux Desain.

Berkat tangan dinginnya, kreatifitasnya berkembang menjadi desain grafis yang mahal dan  diperhitungkan. Tak sebatas gambar, tapi juga mendesain website, logo, company profile, brosur, kalender, laporan tahunan, dan masih banyak lagi.

“Desain itu tak sebatas gambar, tapi kita juga mikirin konsep dan warna. Warna itu juga punya banyak makna,” ujarnya saat berbincang bersama KBR pada program Obrolan Ekonomi, Jumat (1/5/2015).

Untuk menumpahkan segala ide dalam satu pembuatan logo, maka pria berusia 31 tahun melakukan riset yang terlebih dahulu. Auri sendiri menyukai desain logo, karena lebih menarik dan bayarannya mahal. Desain yang ia pilih pun minimalis dan simple. Ada white space dan tidak ramai.

Pembuatan logo pun, tidaklah sembarangan. Menurut Auri, logo yang bagus, mencerminkan image perusahaan itu sendiri. Begitu juga dengan warna logo dan jenis tulisan, berpengaruh terhadap kepercayaan orang pada sebuah perusahaan. Misal, warna biru, terkesan stabil dan terpercaya. Ide untuk mengembangkan kreasi ini, bisa berasal dari internet dengan melihat website desain.

Untuk  pengerjaan job, Auri mengaku, bisa memakan waktu 2-3 bulan. Kisaran biaya untuk satu desain website misalnya, mencapai Rp100 juta. Saat jelang akhir tahun, biasanya pemesanan kalender dari perusahaan  akan membludak. Jika pihaknya merasa tak terkejar, ia akan menolaknya. Baginya, lebih baik sedikit, tapi klien puas, dari pada banyak job, tapi klien kecewa.

Sampai sekarang, meski sudah menjadi boss, jika ada klien, Auri turun langsung menemui sang klien. Itu dilakukannya agar bisa menangkap apa maunya klien. Kini, 11 tahun bisnis ini berjalan, ia optimis, usahanya akan maju dan semakin berkembang, apalagi, setiap tahun bertambah banyak perusahaan yang tumbuh.

“Salah satu bisnis yang tak akan mati, adalah desain. Selama masih banyak perusahaan yang berdiri, mereka pasti butuh desain, butuh logo, butuh company profile, butuh brosur buat jual produk dan kalender buat customernya. Menurut saya, ini gak ada matinya,” jelasnya.

Ia pun tak menyangka, usaha yang ia jalani sejak duduk di bangku kuliah Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Bina Nusantara, pada 2004 lalu, kini dipercaya oleh perusahaan besar untuk menggunakan jasanya. Dari bank besar hingga production house ternama. Padahal, waktu awal merintis, Auri mengaku sempat menjadi “Superman”, yang mengerjakan semuanya sendiri.

“Dulu, saya seperti superman. Apapun, saya lakukan  sendiri, mulai dari desainer, finance, marketing, hingga kurir. Saat itu, saya merasa belum mampu untuk membayar orang agar membantu tugas saya. Kalau ditanya modalnya apa? Ya, modal nekad, apa yang ada ditangan, saya maksimalkan. Misalnya bekerja dengan komputer jadul apa adanya, dan corat coret pelampiasan desain di kamar sendiri," kata Auri.

Dengan modal awal 20 juta rupiah, kini, ia sudah mempunyai 20 orang karyawan dengan gedung kantor berlantai dua di Jl. Hawai 2 No. 08C, Puri Mansion, Lingkar Luar Barat - Puri Kembangan, Jakarta Barat. Rumah pribadi pun sudah ia tempati, berkat hasil kerja kerasnya.

Meski begitu, ia mengakui, salah satu tantangan bisnis ini adalah susahnya mencari desainer yang satu taste atau sama selera dengan desain yang sudah menjadi khas dari perusahaannya.

“Kita menawarkan servis yang bagus, ketika klien puas sama kita, apa yang mereka minta kita kasih, timeline tepat waktu, maka mereka  akan balik lagi ke kita. Target ke depan, kami ingin menembus pangsa pasar internasional,” pungkasnya.

Nah, ingin tau seperti apa saja desain dari Flux Desain, silahkan intip websitenya  http://flux-design.us


Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!