Spanduk acara

KBR, Jakarta– Seiring berjalannya waktu, permainan-permainan fisik yang dulu sering dilakukan anak-anak makin jarang dilakoni. Sebut saja petak umpet, congklak, egrang, lompat tali, ular naga, dan permainan "jadul" lainnya.  Permainan-permainan itu yang dulunya membuat orangtua harus begitu aktif memanggil anaknya yang terlampau asyik main di luar rumah hingga lupa pulang ke rumah.

Sekarang, orangtua harus memanggil anaknya supaya berhenti main gadget atau gawai. Mulai dari game online, game di PC maupun berselancar di media sosial. Anak memang ada di rumah, tapi sibuk "menunduk" dan terpaku pada gawainya.

Konsekuensinya, anak kurang melakukan komunikasi verbal dengan orang di sekitarnya. Menurut psikolog perkembangan anak, Ratih Ibrahim, ini sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak. Apalagi, orangtua secara tak sadar mengenalkan gawai sejak dini kepada anaknya.

“Bahkan sejak dalam Rahim, dia (anak) sering di-posting sama ibunya. Gadget menjadi wajar karena sudah dibiasakan oleh orangtuanya. Anak-anak mengikuti perlakuan yang dikondisikan orangtuanya,” kata dia dalam program Ruang Publik, Kamis (7/4/2016).

“Ketika anak merasa dia bukan siapa-siapa tanpa gadgetnya, di situ kemudian menjadi tidak wajar,” kata Ratih.

Apakah lantas anak perlu meninggalkan gawai sepenuhnya? Tak perlu, kata Ratih. “Yang penting diawasi orangtua.”

Ratih juga menyarankan keseimbangan antara kehidupan nyata dengan penggunaan gawai. Misalnya dengan membatasi jam anak menggunakan gawai, juga aktif mengajak anak berinteraksi dengan orang sekitar. “Orangtua harus konsisten dengan batasan itu. Lakukan aktivitas riil, pijat-pijatan, guling-gulingan, cuci baju bersama atau masak bareng. Itu menyenangkan lho!”

One Day Without Gadget

Bertolak dari banyaknya anak yang terlalu asik sendiri dengan gawai, Sekolah Alam Indonesia akan menggelar program Springfest 2016 “One Day Without Gadget”. Acara ini digawangi oleh sejumlah orangtua dan walimurid sekolah tersebut sebagai upaya untuk membatasi penggunaan gawai anak. Acara ini akan digelar di Sanggar Betawie Ahmad Yusuf, Jagakarsa, Jakarta Selatan pada Minggu (10/4/2016).

Salah satu panitia acara, Mitzi Maharani mengatakan, acara ini terbuka untuk umum, tapi ditargetkan untuk anak usia pre-school sampai SMP sederajat.

“Bisa nggak sih liburan tidak dihabiskan dengan main gadget? Kami ingin ilmu anak-anak bertambah tanpa gadget,” kata Mitzi. Agenda ini juga dalam rangka mendukung siswa Sekolah Alam yang akan belajar bebatuan di Kebumen, Jawa Tengah.

Di acara ini, Sekolah Alam menawarkan serangkaian kegiatan menarik yang edukatif. Misalnya ada workshop membuat kamera lubang jarum hingga kelas memasak. Ini diharapkan membuat anak, juga orangtua beraktivitas bersama anak dan benar-benar bebas dari gawai mereka meski hanya sejenak. Acara ini akan berlangsung dari jam 9 pagi sampai 4 sore. Berminat ikutan?

Editor: Citra Dyah Prastuti

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!