Tugu Monas berbalut cahaya bewarna biru, menyimbolkan peringatan Hari Peduli Autisme Sedunia, pada 2015 lalu. (Foto : ANTARA)

KBR, Jakarta- Setiap tanggal 2 April diperingati sebagai Hari Peduli Autisme Sedunia. Salah satu bentuk kampanyenya adalah Light It Up Blue (LIUB). Peringatan ini merupakan ekspresi penerimaan masyarakat kepada individu dengan autisme dan tanda simpati serta penghargaan kepada keluarga yang telah mendampingi individu dengan autisme. Di Jakarta misalnya, sepanjang April ini kita bisa menyaksikan Tugu Monas akan berwarna biru sebagai tanda solidaritas kepada individu dengan autisme di seluruh dunia.

Tak hanya di Jakarta, aksi peduli autisme yang digagas Yayasan Autisme Indonesia (YAI) itu akan diadakan di daerah lain seperti Bandung, dan Pontianak. 

Dalam perbincangan di program Ruang Publik KBR, Jumat (04/01), relawan YAI, Lusiana bercerita orangtua harus bisa menerima anak dengan lapang dada sehingga bisa mengambil langkah yang tepat. Karena kondisi autisme tiap anak berbeda-beda tergantung tingkatan gangguan neurologis anak. Hal itu juga yang dia terapkan kepada anaknya yang autis.

"Carilah informasi yang tepat. Jadi kita mengedukasi diri kita sendiri, baru mencari para ahlinya. Nanti kita dapatkan jenis intervensi apa yang tepat untuk anak," ujarnya.

Bahkan, agar lebih valid, Lusiana mendokumentasikan aktivitas anaknya melalui video sehingga dokter atau psikolog lebih mudah mendiagnosa kondisi dan perkembangan terapi anak. Perempuan yang kerap disapa Lusi ini juga menjelaskan selain terapi, cara lain yang sangat membantu adalah diet. Khususnya penyandang autis dengan gangguan metabolisme.

"Emosi jadi naik turun, susah tidur, tertawa tidak jelas. Anak harus menghindari makanan yang mengandung gluten dan kasein," lanjut Lusi. Tak ada pilihan, diet pun harus dilakukan. 

Alasan itu juga yang kemudian jadi pemicu seorang ibu dengan anak autistik lainnya, Christien Ismuranty untuk membuat makanan yang sehat dan enak untuk anak berkebutuhan khusus seperti autisme. Berawal dari kesulitan menemukan makanan di supermarket, akhirnya ia berinisiatif berkreasi dengan masakan sendiri agar Kay, anaknya, mau makan. "Dulu saya sering down. Dari masuk supermarket hingga keluar keranjang saya kosong." Hingga akhirnya muncullah brand Kainara, berbagai cemilan ringan, mie, hingga kue ulang tahun pada 2010 hingga sekarang.

Kainara dibuat sesuai permintaan pemesannya. Tak hanya itu, Kainara terbuat dari bahan-bahan baku alami seperti bekatul, sorgum, tepung beras, dll.  Christien mengaku, anaknya sangat terbantu setelah menjalani diet. "Sebelum diet, Kay hampir tiap bulan ada saja sakitnya. Tapi sejak diet dia jarang banget sakit. Bahkan di sekolah, ketika teman-temannya jatuh sakit, dia tetap sekolah."

Meski masih menghadapi tantangan mendampingi anak-anaknya, baik Christien dan Lusi, tetap bersyukur dengan kondisi yang mereka alami. "A blessing in disguise. Anak dengan autis membuat orang tua jadi lebih kreatif," tutup Christien.

Editor: Dimas Rizky


Ruang Publik hadir setiap Senin - Jumat, pukul 9 pagi  

Anda bisa mengusulkan tema untuk dibahas dalam Ruang Publik melalui sms/wa di 08121188181. Fotmat: Nama (spasi) Usia (spasi) Kota (spasi) usulan tema Ruang Publik.  


 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!