Siang ini hari kedua aku berada di Pulau Tidung. Makan siang kali ini lumayan tepat waktu, tidak seperti hari sebelumnya yang telat dua jam karena dapur masak massal buat para pengunjung kerepotan melayani wisatawan dari Jakarta yang membludak--belakangan ini setiap akhir pekan pulau Tidung kebanjiran pelancong. Rombongan kami dapat kiriman terakhir. Di teras rumah pak Ropii, aku melahap nasi berlauk ikan kembung goreng rakus sekali. Rupanya Surti tak mau kalah di seberang sana. Ia memamerkan lauk yang sama dan gaya makan yang tak kalah heboh. Sementara adiknya yang baru bisa berjalan seperti terpaku oleh rasa ingin tahu melihat tingkah kakaknya.

 

Snorkling hari ini memang cukup melelahkan. Beberapa spot terumbu karang yang kami hampiri jaraknya cukup jauh. Mulai dari spot di Pulau Air yang tanpa terumbu karang, Pulau Karang Beras, hingga kembali ke tepian Pulau Tidung Kecil. Aku kira ada seratus orang, termasuk rombongan kami, nyemplung bareng di spot terakhir trip snorkling hari ini. Pelampung orange tampak bertebaran di sepanjang gugusan karang yang mengelilingi sisi luar pulau ini. Sungguh ini membuatku tertegun, seperti melihat keriuhan Ancol pindah ke pesisir pulau yang sempat dijuluki Maladewa di utara Jakarta.

Surti memang tidak pernah berenang sejauh ini. Ia hanya bermain-main di tepian pantai, di pasir putih yang masih lumayan bersih. Heran juga masih ada pasir putih di jarak 3 jam perjalanan kapal penumpang dari Muara Angke, Jakarta Utara. Adiknya tak mau jauh-jauh darinya. Tidak ada ombak di pantai ini, karena gosong pulau membentengi pulau ini dari ombak laut. Mereka menikmati anugerah keindahan alam yang menjadi kemewahan buat kebanyakan orang di Jakarta. Surti benar-benar anak pantai yang beruntung.

Aku mengayuh fins meluncur menerobos kerumunan orang yang asyik menikmati pemandangan gugusan karang dan ikan di bawah sana. Tak sengaja kujumpai seekor penyu yang gundah, ia cepat menghilang begitu melihatku. Aku kecewa dan mencoba mencarinya. Sesekali melakukan duck dive untuk melihat lebih dekat keindahan rumpun-rumpun karang di bawah ku. Tapi, sedih melihat kondisi karang yang ada. Tidak sedikit karang yang patah di sana-sini. Ini patahan baru. Sepertinya belum lama, kudengar cerita seorang teman yang sempat snorkling di sini, tentang betapa gugusan karang yang ia jumpai nyaris belum terjamah. Mungkin memang begitu tahun lalu, tapi tidak di medio Mei ini.

Beberapa orang nampak berdiri tanpa rasa bersalah di atas karang-karang itu. Puluhan pasang kaki katak yang mereka kenakan juga seringkali menghantam terumbu karang yang ada di bawah mereka. Jelas saja remuk. Beberapa jenis karang perlu waktu setahun untuk tumbuh 1 cm saja. Serpihan karang yang kulihat bertebaran tak kurang dari 10 - 15 cm. Artinya perlu 10-15 tahun untuk memulihkan serpihan itu. Surti mungkin tak tahu ada yang merusak area yang kelak menjadi halaman bermainnya.

Penyu seukuran batal itu ternyata muncul dari ujung lain seperti kebingungan mencari tempat berlindung. Puluhan manusia sedang menyerbu rumahnya. Ia tampak tak suka, tapi tentu saja tak bisa protes. Aku mengurungkan niat mendekatinya lagi, tak perlu menambahkan tekanan pada mahluk lucu itu.

Surti kira-kira baru tujuh tahun umurnya. Adiknya yang mungil belum lancar bicara. Bersama teman-temannya, mereka berlarian menikmati hujan yang turun deras siang itu. Berebut mandi dari curahan talang air yang segar. Maklum, air tanah Pulau Tidung berasa payau. Kami serombongan juga tak ketinggalan, mandi-keramas membasuh sisa-sisa air laut yang menempel di badan selepas snorkling tadi. Jalanan sempit di perkampungan itu menjadi kamar mandi kita semua.

Biasanya di jalan sempit berconblock ini berseliweran sepeda. Para wisatawan bisa menyewa sepeda untuk berkeliling pulau. Sangat asyik. Namun yang membuat kami tidak habis pikir, seringkali sepeda motor tak sudi menurunkan kecepatan lajunya, terburu-buru, seolah mengejar janji meeting dengan klien super penting. Di pulau ini, waktu tak lagi berhenti. Setidaknya buat para pengendara motor ini. Padahal pulau Tidung bermakna pulau tidur. Di pulau yang luasnya kurang dari 2 km persegi, rasanya tak perlu ngebut dengan motor. Polusi suara sudah banyak dikeluhkan warga, belum lagi bahaya keserempet pengendara yang ugal-ugalan. Tak kurang dari 300an sepeda motor di pulau yang dulunya dijuluki surga damai di dekat Jakarta itu.

Pulau Tidung adalah pusat Kecamatan Kepulauan Seribu Selatan yang membawahi tiga kelurahan; Kelurahan Pulau Pari, Pulau Untung Jawa dan Kelurahan Pulau Tidung. Gugusan pulau Tidung sendiri terdiri dari Pulau Tidung besar yang berpenghuni sekitar 4000an jiwa, dan Tidung Kecil yang tidak berpenghuni. Kedua pulau ini terpisah oleh selat dangkal gosong pulau berpasir putih, dihubungkan oleh jembatan kayu dari pohon kelapa sepanjang lebih kurang 1 km. Sungguh cantik. Air jernihnya tampak kebiruan memamerkan gugusan-gugusan karang yang menyebar acak. Sangat menggoda buat terjun dan berenang di sana. Jembatan ini disebut jembatan Cinta, karena seringkali dijadikan tempat memadu kasih muda-mudi pulau ini. Surti mungkin suatu saat nanti juga akan memanfaatkan jembatan ini untuk menikmati sunset yang romantis.

Sore itu jembatan Cinta riuh oleh kerumunan pengunjung. Surti tak hendak mengajak adiknya berjalan-jalan di sepanjang jajaran kayu gelugu itu. Terlalu ramai. Tak seperti tahun lalu, lengang dan damai. Sekarang sampah plastik bertebaran dimana-mana, kotor, dan sangat mencemaskan. Selain tak tersedia tempat sampah di lokasi strategis, juga mental idiot pelancong yang tak sudi bertanggung jawab pada sampahnya sendiri. Membuang bungkus plastik makanan ringan ke laut adalah wujud kebodohan sebagian manusia zaman modern ini.

Pak Adang, begitu dia kupanggil, seorang tukang perahu yang sempat kami ajak ngobrol, bertutur kalau perahunya bisa dipakai melaut hingga Bangka Belitong. Sudah sulit menangkap ikan di laut sekitar Kepulauan Seribu. Ikan sudah tidak ada. Para nelayan, yang pulang setiap tiga bulan sekali itu, agar bisa menjaring ikan mesti melaut ke perairan Bangka Belitong. Bisa dimaklumi. Jika karang dan rumpun bakau mesti hancur dibekap sampah, tak ada lagi tempat bagi ikan untuk bertelur dan berkembang biak.

Problem sampah yang tak terkendali di Pulau Tidung juga membuat gerah komunitas pecinta laut. Sebut saja Akbar Syahputra anggota milis marinebuddies ini mengeluhkan banyaknya sampah dan ketidakpedulian masyarakat setempat pada lingkungan mereka sendiri, tapi hanya mengutamakan pendapatan dari pariwisata. Kelihatannya para penduduk kurang peduli pada lingkungan mereka sendiri, ujar Akbar. Keluhan ini banyak diamini oleh anggota milis lainnya. Tapi memang pengunjung juga punya peran besar dalam penghancuran pulau ini. Yang pasti pulau ini belum dikelola secara bijak.

Seandainya saja ada bank sampah di pulau ini. Tiba-tiba aku teringat pada ide kreatif Nanang Suwardi seorang ketua RW di kelurahan Semper Barat, Jakarta Utara. Ia bisa mengubah persepsi masyarakat pada sampah. Tak sekadar barang sisa tanpa guna, tapi justru bisa menjadi sumber pendapatan tambahan. Ini membuat sampah terkelola dengan baik sejak dari sumbernya.

Surti menggandeng adiknya menjauhi jembatan Cinta. Menyusuri pasir pantai putih dan serakan sampah plastik di sana-sini. Ia masih ceria, karena tak menyadari perubahan lingkungan tempat tinggalnya tak bisa dipulihkan dengan mudah dan cepat. Pemulihan lingkungan yang hancur selalu adu cepat dengan keputusasaan yang kerap makin kencang berlari.

Suatu hari Surti akan berkisah kepada adiknya, betapa sang adik tak seberuntung dirinya; yang sempat menikmati keindahan dan keasrian pulau ini. Pantai yang bersih dengan kerumunan anak-anak ikan yang bergerombol di sepanjang pantai, suasana yang tenang dan damai, tempat bermain yang luas dan menyenangkan. Surti akan berkisah, sebentar lagi, hanya menunggu sang adik lancar bicara, dan pulau yang kian merana, tercabik-cabik diperkosa keegoisan pelancong dan penyedia layanan wisata yang hanya mengambil kemurnian alam demi kesenangan, tanpa merasa perlu menjaganya. Kita mesti berbuat sesuatu, sebelum terlambat, demi adik Surti, untuk kisah yang lebih baik.

 

 

 

Foto Lainnya:

{gallery}foto_pulau_tidung{/gallery}

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!