mie lampung

KBR68H, Tanjung Karang - Kalau anda jalan-jalan ke Lampung, tidak ada salahnya untuk mampir ke Rumah Makan Mie Lampung II. Lokasinya di jalan Raden Intan no 99, sekitar 50 meter dari seberang Apotik Enggal. Rumah makan ini tidak terlalu besar. Hanya ada sembilan meja yang tiap meja terdiri dari empat bangku. Tidak ada pendingin ruangan, hanya kipas angin. Namun, rumah makan Mie Lampung II tidak pernah sepi dari pengunjung.

Menu utamanya sudah pasti mie. Namun, ada juga menu selain mie yaitu bihun ayam, kwetiau ayam dan nasi tim. Saya memesan semangkuk mie ayam yang porsinya lumayan banyak. Ditambah bakso sapi, pangsit rebus dan ayam rebus. Nah, yang membedakan mie lampung dengan rumah makan mie lainnya adalah menu ayam rebusnya.

Ayam rebus dipotong kecil-kecil dan disajikan di piring kecil juga. Ada cabai khusus untuk menu ini dan beda dengan cabai yang disediakan untuk mie. Yang pertama saya cicipi tentu saja mie yang berwarna kuning dan lurus-lurus ini. Rasanya gurih, apalagi setelah dicampur potongan ayam rebus serta pangsit rebus dan ditambah cabai untuk ayam rebus. Pedasnya benar-benar menohok lidah dan juga kerongkongan. Bagi anda yang suka pedas, campuran mie ayam dengan cabai yang ditabur wijen ini terasa pas sekali.

Tekstur mie yang masih terasa ketika digigit serta ayam rebus yang lembut membuat saya lahap menyantap hidangan Mie Lampung ini. Apalagi, pangsit rebusnya yang lunak dan berisi daging ayam di tengahnya, jadi paduan yang pas dalam menyantap Mie Lampung.

Mie Lampung di Tanjung Karang ada tiga yaitu Mie Lampung I, Mie Lampung II dan Mie Lampung III. Ketiganya merupakan bisnis keluarga yang sudah dimulai sejak 1969. Tempat yang saya datangi yaitu Mie Lampung II dikelola oleh Rudi Kurniawan. Dia meneruskan bisnis keluarga ini sejak memutuskan berhenti bekerja pada 2003.

"Yang membedakan Mie Lampung dengan mie lain adalah kaldu ayam yang digunakan yaitu menggunakan ayam kampung asli. Biasanya, rumah makan mie lain menggunakan ayam negeri untuk kaldunya. Selain itu, mie yang kita buat juga tidak pakai zat kimia seperti pengawet. Warna kuning di mie juga bukan dari zat pewarna tapi dari kuning telur,"kata Rudi kepada Portalkbr.com.

Sejak pertama kali berdiri, Mie Lampung selalu buka sejak pagi. Mie Lampung I dan III sudah buka sejak pukul 6 pagi sedangkan Mie Lampung II baru buka pukul 7.30 pagi. Karena buka lebih awal, Mie Lampung I dan III juga tutup lebih awal yaitu 14.30. Sedangkan Mie Lampung II baru tutup pada 16.30.

"Menu khas Mie Lampung adalah ayam rebus yang dipotong kecil. Itu ayam kampung asli, bumbunya rahasia keluarga, ada teknik sendiri jadi rasanya enak. Kalau di Jakarta itu nasi Hainam. Ayamnya hampir sama tapi beda rasa, karena kami pakai ayam kampung,"jelas Rudi.

Rudi juga selalu setia menemani pelanggan yang datan ke rumah makan Mie Lampung II sejak buka hingga tutup. Ternyatan ada alasan khusus kenapa Rudi menemani karyawannya dari pagi hingga sore.

"Mie Lampung sejak dulu selalu ditunggui pemiliknya. Pemilik berperan aktif karena harus menjaga mutu, itu merupakan bekal kesinambungan rumah makan ini sejak pertama kali berdiri,"ungkapnya.

Ada trik lain yang diterapkan untuk memanjakan lidah konsumennya. Selain tidak menggunakan zat kimia seperti pengawet, mie Lampung juga selalu dibuat segar. Semua mie yang dihidangkan dibuat pagi hari dengan alasan untuk menjaga kesegaran.

Satu mangkuk Mie Lampung dijual dengan harga Rp 16.000. Apabila anda tidak kuat untuk menghabiskan semangkuk mie, bisa pesan setengah porsi dengan harga Rp 14.000. Sedangkan pangsit rebus yang semangkuk berisi lima dijual dengan harga Rp 11.000, ayam kampung rebus potong kecil-kecil Rp 27.500 dan semangkuk bakso sapi Rp 8.500.

Bisnis Mie Lampung ini juga membawa rezeki yang lumayan untuk Rudi dan keluarganya. Rata-rata omset yang didapatnya sekitar Rp 3 juta per hari. Penasaran ingin mencicipi nikmatnya sarapan pagi atau makan siang dengan Mie Lampung, silakan mampir ke Rumah Makan Mie Lampung II. Anda juga bisa ngobrol langsung dengan sang pemilik, Rudi Kurniawan yang tiap hari menjadi kasir rumah makan itu.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!