Taman Nasional Baluran ini menyediakan penginapan persis di depan savanna dan berada 12 kilometer dari pintu masuk Taman Nasional dan 3 kilometer dari savanna adalah pantai bama yang diapit oleh hutan bakau di kiri dan kanannya.

Hari pertama kami diawasi oleh tiga ekor rusa jantan yang bersembunyi di balik rerumputan tak jauh dari penginapan. Mereka seolah mengawasi apakah kami manusia berbahaya atau bukan. Juga oleh puluhan makaka atau monyet ekor panjang yang mengitari rumah. Entah sekadar mengawasi atau malah tertarik pada mie instan yang kami masak. Betul, makaka ini sudah terkontaminasi selera makannya oleh para pengunjung yang memberi makan sembarangan dan buang sisa makanan sekenanya. Mereka jadi kecanduan MSG (monosodium glutamat) dari bungkus mie instan yang dibuang pengunjung.

Subuh sekitar pukul 4.45 pagi, kami terbirit-birit keluar penginapan. Sekumpulan hewan besar melintas di padang rumput. Dalam gelap kami sangat yakin mereka adalah Banteng yang kami cari. Sibuk menerka ciri tubuh yang mestinya ada pada banteng yaitu putih pada bokong dan keempat kakinya seperti pakai kaos kaki, berbadan tegap dan tanduk langsing yang mengarah ke atas seolah bertemu tanduk kiri dan kanan.

Sayangnya kami melihat dalam gelap, tak terlihat jelas, kecuali dua hewan besar ini memandang ke arah kami, bersuara seolah peringatan tanda bahaya lalu kawanan ini lari terbirit birit masuk ke dalam hutan.

Gagal menangkap hewan ini lewat lensa kamera kami teruskan perburuan dengan memantau aktivitas hewan sekitar melalui menara di atas bukit sambil mengejar sang mentari terbit. Terpantaulah belasan elang buteo dan elang ular terbang melayang mencari makan ataupun yang bertengger diatas pohon Pilang, pohon yang mirip sekali seperti pohon dalam film Avatar. Merak jantan yang berbuntut indah, makaka mencari makan dan lutung yang pindah dari satu pohon ke pohon lain serta tak terhitung ratusan jenis burung kecil.

Jelang malam dipandu oleh Hendrik, polisi hutan Taman Nasional Baluran, kami bersafari. Safari belum lagi mulai ketika Hendrik mendengar bunyi khas dari rusa yang terancam bahaya... NGUIK lalu dia mengambil senter dan berkata ada rusa diserang Ajag. Betul saja, di samping penginapan, senter menyoroti belasan Ajag, sejenis srigala hutan dengan buntut surai berwarna hitam, badan berwarna coklat dan mata merah sedang menarik rusa yang sudah terkulai tak berdaya. Kami mendekat dan ajag bubar tak jauh dari kami. Rusa betina itu digigit persis di nadi leher dan bagian bokong. Melihat mereka menyeret korban, mencabik dan memakan isi perut rusa ini sungguh mengerikan. Tapi tenang Ajag takut pada manusia, belum pernah ada catatan mereka menyerang pengunjung maupun petugas Taman Nasional.

Usai melihat adegan mengerikan itu, safari berlanjut menuju kubangan tempat kerbau mandi dan minum air. Kerbau dan Banteng tak pernah bersaing berebut air atau makanan. Mereka berbagi kubangan. Biasanya Banteng datang ke kubangan setelah kerbau. Mereka menunggu lumpur mengendap dan air kembali bersih, baru Banteng minum. Sayangnya kami sekali lagi gagal menemukan Banteng di safari malam.

Banteng adalah makhluk pemalu, jarang berkelompok lebih dari tiga ekor. Hasil survey 2007 menyebutkan mereka tinggal 30 ekor di Taman Nasional Baluran padahal Banteng adalah ciri khas dari tempat ini. Beberapa sebab jumlah Banteng menyusut adalah perburuan liar terhadap tanduknya. Belum lagi areal rumput menyusut akibat invasi dari pohon Akasia yang mematikan rumput sekitarnya. Sekarang akasia menguasai hampir 10 persen dari seluruh areal Taman Nasional.

Kekeringan dan menyusutnya air juga bisa jadi penyebab berikutnya. Untuk menyelamatkan Banteng dan seluruh hewan di Taman Nasional Baluran ini, petugas menyediakan tandon-tandon air yang siap mengisi kubangan tempat Banteng dan Kerbau serta rusa mencari minum. Hendrik bilang Adalah tugas kami memastikan hewan ini tak mati kehausan dan kelaparan, dari merekalah gaji kami berasal.

Sepanjang hari di Baluran kami disajikan sungguhan alam menakjubkan ketika ratusan rusa berlarian menuju kubangan air, merak jantan ngegol alias melebarkan buntutnya untuk menarik perhatian merak betina, puluhan kerbau yang besar sangat, belasan elang mencari makan, lutung dan makaka. Belum lagi pepohonan khas Baluran yang baru kami kenal seperti Gebang yang mirip pohon pinang dan berbuah sekali seumur hidup sebanyak 1 ton lalu mati. Pohon Pilang yang berbatang putih dan rimbun mirip pohon Avatar serta pohon idola kami Bekol yang rindang mirip beringin penuh dengan nuansa magis.

Perjalanan dilanjutkan ke pantai lewat hutan yang sudah dipenuhi oleh Akasia sejauh 3 kilometer. Pantai ini kecil dan masih perawan kalau boleh dibilang begitu. Pengunjungnya paling banyak 200 orang di hari libur sekolah yang berasal dari sekitar Banyuwangi. Pantai ini berada di selat Bali dengan air tenang dan dangkal, sampai 300 meter dari bibir pantai hanya sedalam pinggang saya ya, sekitar satu meter. Kiri dan kanan pantai dipenuhi hutan bakau. Di Pantai Bama ini ada pohon Bidada terbesar di Asia dalam pelukan 6 orang dewasa. Di Bama pengunjung bisa menikmati suasana pantai yang indah, snorkeling melihat terumbu karang dan ikan serta olahraga air seperti kano.

Taman Nasional Baluran ini kaya dalam keanekaragaman hayati dan perlu mendapat perhatian untuk dijaga keberadaannya. Tugas berat Taman Nasional untuk mempertahankan keberadaan Banteng dan padang rumput atau savanna yang menjadi keunikan tempat ini. Satu lagi, memberikan pendidikan dasar bagi pengunjung untuk tak membuang sampah sembarangan di lokasi wisata. Entah apa yang harus dilakukan terhadap Makaka atau monyet ekor panjang yang sudah kadung ketagihan MSG dari sisa sampah makanan pengunjung.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!