KBR68H - Bandung, kota sejuk yang bisa ditempuh hanya dalam dua setengah jam dari Jakarta. Berganti suasana dan udara juga wisata kuliner dan belanja bukan barang aneh buat warga Jakarta yang memadati Bandung saban akhir pekan.Tapi kali ini saya tidak mengundang anda untuk wisata belanja atau ngafe di Bandung. Saya memilih wisata murah meriah tapi penuh cerita, museum.

Museum Geologi Bandung terletak di Jl Diponegoro No.57, tapi kalau ditanya dekat mana? Sebut saja di seberangnya ada Taman Lanjut Usia dan kawasan kuliner terkenal Cisangkuy. Museum ini dibangun 16 Mei 1928 dan sempat direnovasi sebelum dibuka kembali pada 23 Agustus 2000. Dalam Museum ini, tersimpan dan dikelola materi geologi yang berlimpah seperti fosil, batuan, mineral yang dikumpulkan selama kerja lapangan di Indonesia sejak 1850.

Saban kali ke Bandung, Museum ini mencuri perhatian saya karena selalu ramai kunjungan anak-anak dengan seragam sekolah. Ternyata selain kaya informasi, museum ini gratis, kita hanya perlu menulis di buku tamu lalu dibekali Peta Petunjuk.

Ada petugas keamanan yang mengatur lalu lintas pengunjung, ada guide yang bisa kita minta khusus untuk mendampingi. Saya memilih berkeliling saja untuk melihat koleksi yang ada.

Di bagian lobi museum terpampang beberapa koleksi fosil kayu yang sudah dilapisi cat mengkilap, tapi tanpa dilindungi apa pun. Tak terbayang kalau suatu saat rombongan anak-anak itu menyenggol fosil kayu dan patah.

Ke sebelah kanan dari pintu masuk Museum adalah bagian Sejarah Kehidupan dari masa Paleozoikum, Mesozoikum, Kenozolkum Zaman Kuarter dan Kenozolkum Zaman Tersier. Saya bukan ahli geologi atau biologi tapi datang kemari karena merasa tercolek oleh ilmu pengetahuan yang pernah saya dapat waktu SD dulu. Di bagian sebelah kanan inilah ada rangka mamalia purba Indonesia termasuk kerangka fosil Tyrannosaurus yang didatangkan dari daratan Amerika, bukan asli Indonesia.

Yang menarik buat saya adalah sejarah Danau Purba Bandung, bagaimana Bandung adalah cekungan danau yang kering sejak 130 juta tahun lalu di atas ketinggian 750mdpl dan di kelilingi sejumlah gunung berapi. Bandung purba kaya dengan sejumlah mamalia termasuk gajah dan badak bercula satu yang sekarang kabarnya hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon.

Bergeser ke ruangan Manusia Purba maka akan bertemu dengan replica fosil Homo Erectus yang dikenal di seluruh dunia dengan sebutan Java Man. Fosil ini ditemukan di Trinil, Sangiran, Sambung macan maupun di sepanjang aliran Bengawan Solo.

Keluar dari sisi kanan, saya bergerak ke arah kiri, bangunan untuk koleksi Geologi Indonesia. Ada materi tentang asal mula bumi, Geologi Papua, Maluku, Sulawesi, Jawa, Kalimantan dan Sumatera. Tapi yang menggelitik buat saya adalah papan materi tentang geologi Papua yang masih bertuliskan IRIAN JAYA serasa sejarah berhenti di sini. Kenapa tidak diperbaharui?

Begitu pula dengan papangan gambar pemerintah Indonesia menandatangani kesepakatan eksplorasi tambang oleh Freeport di Papua tahun 1967, seolah menjadi kebanggaan bangsa ini sementara kenyataannya tidak sama sekali.

Di salah satu bagian tentang Tsunami juga tidak ada pembaharuan data karena masih menggunakan contoh tsunami di Flores 1992, padahal kejadian terbaru yang memilukan terjadi di Aceh 2004. Selayang pandang data tahun yang terkumpul di Museum Geologi Bandung ini tidak ada di atas 2000, kenapa?

Untuk sebuah Museum yang gratisan, kondisi kebersihan Museum Geologi Bandung patut diacungi jempol, saya tidak menemukan sampah di sana sini. Tapi riuhnya pengunjung anak-anak tidak dibarengi dengan upaya penyelamatan asset. Anak-anak ini bisa duduk di atas batas besi yang pendek untuk foto-foto bersama replica fosil mamalia purba dan Tyrex Dinosaurus. Di bagian Geologi Jawa, saya menemukan papan informasi yang dicorat-coret.

Dalam Peta Petunjuk dijelaskan aturan main dalam Museum, salah satunya dilarang memotret kecuali dengan izin. Saya bersama pengunjung lain bebas memotret tanpa ada teguran, tegur dong. Tapi secara keseluruhan saya puas dengan apa yang saya temui di sini, seperti dikorek lagi ilmu pengetahuan yang saya lupa bertahun-tahun silam.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!