Bersama sepeda kesayangan yang ia beri nama Karma, Neil tak hanya berpetualang tetapi juga menghibur siapa saja yang ia jumpai di persinggahannya. Bermodal perkakas sulap a la badut profesional, Neil yang dibantu oleh kawan-kawan baru di negara yang dijejakinya, menggelar atraksi badut sulap tanpa suara. Atraksi tanpa suara bukan tanpa alasan. Selain karena memang ia tak cukup menguasai bahasa nasional setiap negara, Neil meyakini tawa adalah bahasa universal, mengalahkan bahasa tubuh. Bahkan Neil mengaku dirinya terlahir dengan tertawa yang memecah sunyi, bukan tangisan seperti kebanyakan bayi yang baru lahir. Neil adalah sosok yang memang tak pernah ambil pusing menanggapi setiap kesulitan dalam hidupnya.

Perjalanan Neil sang badut bersepeda di Indonesia akan berlangsung hingga 2010 nanti. Setelah puas tracking di perbukitan Sumatera dan menjelajahi Jakarta, yang menurutnya tingkat polusinya sangat tinggi, Neil akan melanjutkan petualangannya ke Jawa Tengah, Timor Leste dan Sulawesi. Setelah itu beranjak ke Filipina. Namun sebelum meninggalkan Jakarta, Neil secara khusus datang ke pengungsian sementara korban situ Gintung di Kertamukti pada hari minggu kemarin untuk menghibur ratusan anak dan pengungsi lainnya.

Secara khusus Green Radio menyajikan perbincangan bersama Alvaro Neil dalam Green Talk edisi Jumat, 31 Juli 2009 dan laporan on air pertunjukannya di Situ Gintung untuk Sahabat Green, berikut petikannya.

Green Radio (GR): Mengapa Anda memilih bersepeda sebagai badut?

Alavaro Neil (AN): karena di saat semua bayi lahir dengan tangisan, saya lahir dengan tertawa. dan saya ingin mati pun dalam keadaan tertawa. jadi tak ada salahnya bukan jika selama hidup saya selalu tertawa, well.. setidaknya tersenyum dan membuat orang lain ikut tertawa?

GR: Motivasi apa yang membuat anda memilih berkeliling dunia dengan sepeda?

AN: Sudah 1725 kali pertanyaan ini dilontarkan. Tapi sungguh, sekalipun saya tak punya jawabannya. Saya melakukannya hanya karena saya merasa ingin melakukannya dan bahagia saat melakukannya.

GR: Anda pernah kuliah di fakultas hukum selama 5 tahun dan bekerja sebagai notaris 5 tahun dengan kehidupan yang mapan. Tapi tiba2 anda meninggalkannya begitu saja, mengapa?

AN: Benar. Saya punya kehidupan yang mapan dan pacar yang sempurna. Tapi saya punya alasan sederhana, saya selalu merasa bosan saat harus kuliah 9 jam perhari selama 5 tahun dan setelah lulus saya harus bekerja 9 jam lagi setiap harinya selama 5 tahun. Tidakkah itu terlalu membosankan? Saya mapan finansial tapi tak bahagia, buat apa?

GR: Apa reaksi orang-orang terdekat Anda atas keputusan Anda ini?

AN: Semua orang bilang saya gila, tapi saya menyebut diri saya petualang. Bahkan ibu saya bilang kalau saya mustahil berkeliling dunia dengan sepeda karena saya terlalu pemalas. Kakak saya juga pikir saya gila. sementara bekas pacar saya bilang kalau saya kembali ke Spanyol maka saya tidak boleh menemuinya kembali. Saya gila? Hahaha...

GR: Apa menariknya bersepeda mengelilingi dunia? Mengapa tidak dengan mobil atau apalah?

AN: Dengan sepeda, saya tidak perlu menambah polusi. Dengan sepeda juga saya lebih banyak disapa dan menyapa orang ketimbang dengan mobil yang serba tertutup. Dengan sepeda juga seringkali orang merasa iba dan memberikan saya banyak pertolongan hingga tanpa sadar, selain zero waste saya juga zero budget (dengan senyum lebar paling manisnya).

GR: Apa yang Anda lakukan saat singgah dari satu tempat ke tempat lainnya?

AN: Menghibur sebagai badut profesional. Main sulap dan tentunya membuat orang tertawa. Saya juga punya misi pribadi Miles of Smiles yang secara singkat saya artikan menebarkan senyum dengan pertunjukan saya di setiap mil yang saya tempuh. Oya, bukunya juga sudah terbit lho!

GR: Anda sudah menjejaki 54 negara, negara mana yang paling menarik dari seluruh negara yang telah anda kunjungi?

AN: Bhutan. Di sana segala sesuatunya serba mahal. Untuk visa saja seharinya saya dikenai 200 dolar AS (sudah termasuk makan, hotel, dll). Tapi setelah memohon-mohon pada petugas imigrasi dengan wajah iba, saya meminta dibuatkan visa gratis tanpa perlu makan ataupun hotel. And it works! Saya dapat visa gratisan dan toh saya tetap punya banyak kawan baru yang memberi saya makan dan tumpangan tempat tinggal di sana, hahaha...

Selain Bhutan yang menarik adalah India dan Ethiopia. India karena ternyata hampir semua penduduknya tak ramah dan berlaku curang dalam urusan jual beli. Jadi lebih baik anda tanya dulu harga sebuah barang sebelum membelinya. Saya sendiri lebih banyak bertemu orang-orang baik di luar India. Sedangkan Ethiopia, nyawa saya nyaris melayang. Berkali-kali saya dilempari batu oleh anak-anak di sana. Sampai-sampai saya pikir, melempar batu adalah olahraga nasional di sana, hahaha...

GR: Lantas bagaimana Indonesia di mata anda?

AN: Menarik, indah tapi sayang terlalu banyak sampah di sini khususnya Jakarta. Semua orang lebih suka berkendaraan pribadi yang polutif. Satu sama lain seperti saling membunuh dengan asap kendaraan mereka. Buat saya orang yang polutif dan buang sampah di kali adalah orang paling bodoh. Karena mereka sama saja membunuh istri dan anak mereka sendiri. Hal menarik lainnya dari Indonesia adalah polisinya. Betapa tidak? di Indonesia, kalau ada kendaraan yang ditilang, maka yang diminta bukanlah SIM-nya melainkan uang "damai"nya terlebih dahulu. Saya pikir menarik juga karena ternyata polisi dan masyarakatnya begitu kooperatif (dengan nada menyindir dan suara "poop" yang dikeluarkan dari mulutnya).

GR: Dalam perjalanan Anda, apakah Anda mendapatkan bantuan dari pihak lain?

AN : Secara Khusus tidak ada. Paling saya hanya menerima donasi yang terkumpul dari orang-orang yang ingin membantu saya mewujudkan misi Miles of Smiles. Saya juga dibantu oleh Red Cross Spanyol yang berjejaring dengan Red Cross Internasional yang bercabang di seluruh dunia. Sisanya, saya justru dibantu oleh orang-orang yang baru saya temui di manapun saya berada.

GR: Apa arti hidup bagi seorang alvaro?

AN: Saya suka pertanyaan ini. Buat saya hidup harus dijalani dengan keras. Istilahnya seperti ditempa kehidupan karena dengan cara seperti ini maka kita akan semakin kuat dan indah. Dan, bila kita menemukan kebaikan dalam hidup maka kebaikan-kebaikan yang terhimpun itu tentu akan menjadi bagian yang sangat spesial dalam hidup hingga akhirnya kita lupa betapa kerasnya hidup kita. Semakin banyak berbagi kebaikan dan tawa, maka percayalah kita juga akan selalu mendapat banyak kebaikan dan tawa dari sesama.



Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!