KBR, Ikat, songket, lurik atau Buna merupakan sedikit dari nama-nama tenun yang dipunya Indonesia. Setidaknya 29 propinsi di Indonesia memiliki tenun sebagai kain tradisional. Beberapa wilayah Indonesia yang masih memiliki tradisi kuat dalam menenun adalah Toraja, Sintang, Jepara, Lombok, Sumbawa, Sumba, Flores, Timor, Tanggenan dan Karangsam, Bali. Menenun tidak hanya sekadar tradisi namun menjadi bagian hidup dari tiap suku yang masih melestarikannya.

Dalam tenun, motif bukanlah sebuah simbol belaka. Dibalik motif terdapat cerita dan sejarah tentang suku, wilayah bahkan asal muasal kehidupan mereka. “Misalnya orang-orang yang hidupnya di sekitar pantai, motifnya lebih seperti binatang laut. Kemudian kalau orang-orang Jogja, motifnya tentang kraton. Dari kegunaan, tenun juga punya identitas sendiri, ada yang khusus untuk upacara kematian atau pernikahan,” jelas Fitriani Kembar Pusparini dari Dreamdelion kepada KBR, Kamis (17/3/2016).


Dreamdelion adalah satu satu lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menginisiasi Weaving for Live (Tenun untuk Kehidupan). Bersama beberapa LSM lainnya yaitu Lawe, Jelajah komunikasi, dan Terasmitra dengan dukungan penuh dari Global Environtment Facility – Small Grant Programme (GEF-SGP Indonesia), Weaving for Life bergerak mendukung keberlangsungan usaha pelestarian dan pengembangan kain tradisional tenun. Sekaligus membantu peningkatan ekonomi, pendidikan, dan pengetahuan para penenun.

Perjuangan masyarakat Tiga Batu Tungku, yaitu Suku Molo, Amanatun dan Amanuban, di Kabupaten Timor Tengah Selatan, NTT menginsipirasi kampanye Weaving for Life. “Mereka menggunakan tenun tradisional untuk melawan dan mengusir tambang marmer dari wilayah mereka. Tenun menjadi perlawanan mereka melawan tambang yang nyaris merusak sebagian besar wilayah keramat masyarakat Tiga Batu Tungku, yaitu Anjaf dan Nausus,” Ujar Fitriani.

Tidak hanya di NTT, tenun juga memiliki arti tersendiri bagi masyarakat Yogjakarta, terutama bagi masyarakat di sepanjang Sungai Progo. Fetriana Kembar Pusparini dari Dreamdelion menambahkan tenun menjadi jalan untuk meningkatkan penghasilan warga sekitar dan meninggalkan pekerjaan mereka sebagai penambangan pasir yang merusak lingkungan.


Sayangnya, kata Ana, kedasaran kaum anak muda masih kurang terhadap keberadaan dan pelestarian kain tenun. “Banyak yang masih belum memahami bahwa dalam selembar tenun terdapat cerita dan nilai yang melebihi panjangnya proses dan benang yang ditenun menjadi selembar kain” kata Fitriani.

Untuk itu, Weaving for Life akan membuka desa Wisata Tenun Pewarna Alam (Rainbow Village) di Sejati Desa, Sumberarum, Moyudan, Sleman. Selain dapat mengembangkan potensi tenun sebagai sumber ekonomi masyarakat, Rainbow Village diharapkan menjadi alternatif solusi dari tantangan kerusakan lingkungan melalui penanaman bibit-bibit tanaman pewarna alami.

https://ssl.gstatic.com/ui/v1/icons/mail/images/cleardot.gif

Editor: Malika

#Ruang Publik KBR Senin-Jumat pukul 09.00 WIB di radio jaringan KBR atau Streaming kbr.id

Anda bisa terlibat dalam perbincangan melaklui sms/WA: 0812 118 8181, telepon bebas pulsa: 0800 140 3131 atau twitter: @halokbr. Usulkan tema yang menurut Anda menarik dan penting untuk dibahas dengan hastag HaloKBR 

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!