Kompaknya Melanie Subono dan Kojek Tolak Reklamasi Pantai Utara Jakarta

"Lu ambil dua ember pasir, lu uruk aja tuh (akuarium), tar jadi daratan. Tapi ikan lu mati, yang indah itu jadi rusak,"

Jumat, 11 Mar 2016 15:11 WIB

Melanie Subono dan Kojek di Ruang Publik KBR pagi tadi. (Foto : KBR)

KBR, Jakarta- Suasana program "Ruang Publik" KBR Jumat pagi  sedikit berbeda. Diawali dengan live performance Kojek, si Rapper Betawi dengan lagu remix "Ondel-ondel"-nya Benyamin S. Lagu itu, menurut Kojek, menggambarkan suasana Jakarta dan kehidupan di dalamnya. Termasuk ruang-ruang publik di Jakarta yang kini hanya segelintir masih tersisa untuk  sepenuhnya dinikmati masyarakat. Ruang publik di ibukota sudah tergerus komersialisasi. Padahal harusnya tidak demikian.

"Dulu gue main bola di tanah lapang masih bisa. Kalau sekarang bisa juga sih, tapi bayar. Rumputnya juga udah jadi karpet," ujar Kojek.

Ini dibenarkan oleh musisi sekaligus aktivis peduli lingkungan, Melanie Subono yang juga hadir dalam Ruang Publik KBR. Ia mempertanyakan proyek pembangunan pemerintah semisal reklamasi Pantai Utara Jakarta, karena menurutnya, hanya untuk kepentingan kelompok tertentu saja.

"Yang akan dibangun apa sih? Hanya mall, perumahan yang menikmati hanya segelintir orang. Sementara yang tergusur juga, masyarakat. Belum tentu nelayan, atau orang yang tergusur itu bisa menikmati," kata dia.

Kojek dan Melanie juga sepakat   tak seharusnya ruang publik semisal pantai untuk berbayar. Namun, mereka tak menampik, dalam upaya menolak reklamasi Pantai Jakarta misalnya, adalah tantangan tersendiri mengajak warga Jakarta untuk turut berpartisipasi. Menurutnya, masyarakat belum sadar sepenuhnya akan dampak reklamasi yang sudah mulai berjalan sekarang ini. Pemerintah, lanjutnya, seakan tak mau ambil pusing dengan dampak yang akan dihadapi jika reklamasi terus berjalan.

"Sangat tidak berharap, tapi kalau begini cara pandang pemerintah, bahkan gue kemarin bilang ke temen-temen biar siap-siap ambil sertifikasi diving. Gak usah mikirin Jakarta, bakal tenggelam dikit lagi. Beneran," ujar Melanie.

Kojek pun kemudian menimpali dengan metafora akuarium.

"Lu ambil dua ember pasir, lu uruk aja tuh (akuarium), tar jadi daratan. Tapi ikan lu mati, yang indah itu jadi rusak," ujarnya. Oleh karena itu, kedua musisi itu tak henti-hentinya menyuarakan penolakan atas reklamasi Teluk Jakarta.

Oleh karena itu, untuk menggalang dukungan tolak reklamasi, Kojek mengajak suporter Persija Jakarta, Jakmania sambil gencar melontarkan cuitan di media sosial secara rutin. Sementara, tak hanya mengawal proyek reklamasi Pantai Utara Jakarta, Melanie Subono juga masih setia menggaungkan penolakan reklamasi di Teluk Benoa, Bali. Lewat media sosial dan beragam aksi rutin, diharapkan kepedulian publik untuk merebut kembali ruang-ruang milik publik yang hilang bisa semakin terdongkrak.

Kojek pun mengakhiri perbincangan dengan lagu andalannya "Enjoy Jakarte".

"Cintai alam kita, kalau mau dicintai balik oleh alam kita," tutupnya. 


Editor: Rony Sitanggang

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kapolri: 2018 Indonesia Banyak Agenda, Mesin Makin Panas

  • Jokowi: Masa Sudah 3-4 Tahun Masih Bawa-bawa Urusan Pilpres
  • SPDP Pemimpin KPK, Jokowi Minta Tak Gaduh
  • Wiranto: Jual Saja Lapas Cipinang untuk Bangun Lapas di Pulau Terpencil

Kepala KSP Moeldoko Tepis Anggapan Miring

  • Izin Impor Beras Dialihkan, PT PPI Tak Keberatan
  • BNPB Siapkan Anggaran Rp 166 Miliar untuk Perbaiki Rumah Korban Banjir Bima
  • PS TNI Gagal Menang Melawan 10 Pemain Persebaya

Memberdayakan masyarakat bisa dilakukan dengan banyak cara. Salah satunya seperti apa yang dilakukan anak-anak muda asal Yogyakarta ini melalu platform digital yang mereka namai IWAK.