Canopy Trail di TNGGP. (Foto: Damar Fery Ardiyan)

KBR, Jakarta – Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) menyimpan segala, mulai dari pohon Rasamala (Altingia excelsa) raksasa, puluhan jenis anggrek, berbagai satwa liar; burung pemangsa, katak darah, kesemuanya saling berinteraksi dalam ekosistem.

Sayang, pada Kamis 3 Maret itu, kami hanya punya waktu sehari. Itupun dipotong perjalanan 100 kilometer Jakarta – Cibodas yang lebih banyak tersendat dibanding lancar. Sehingga waktu untuk bermain di balik rapatnya hutan terbasah di Jawa tersebut kian sempit. Belum lagi, perjalanan kami diterjang hujan.

Di kawasan seluas hampir 23 ribu hektar ini, fasilitas wisata ditambatkan demi mendongkrak jumlah kunjungan. Canopy Trail, adalah salah satunya. Bersepatu pantofel hitam, Kepala Resort Cibodas TNGGP, Nur menuntun kami ke fasilitas wisata yang jaraknya sekitar 1 kilometer dari gerbang utama.

“SELAMAT DATANG. Kita akan menuju jembatan gantung canopy trail dan air terjun Ciwalen,” ajaknya ramah. TNGGP mencatat, tahun lalu 170.285 orang mampir. Dengan memperbanyak fasilitas macam ini, harapannya angka itu bisa naik.

Tak lebih dari 30 menit, kami dipertemukan dengan jembatan gantung yang membelah jurang sedalam 40 meter. Rimbun dedaunan menyerupai atap, menjadi pelindung saat berdiri di atas jembatan sepanjang 130 meter tersebut.

Kami mulai menjajal canopy trail. Kepada empat pohon Rasamala purba, kawat seling sudah disematkan sejak 2010. Pohon berdiameter sekitar 3 meter itu dikenal kuat. Maka pantas jika Rasamala kerap digunakan sebagai bahan pembuat jembatan, bantalan kereta api hingga perahu.

Meski pohon penopangnya kuat, tetap saja saat melalui jembatan, gemeretak besi penahan beban lantang terdengar. Pengunjung pun seketika mendapati sensasi terbang, diguncang ke kanan dan ke kiri.

“Gantian ya, 5 orang saja yang melintas,” singkat Nur melangkah di atas jembatan berbobot 1 ton tersebut.

Selama melewati jembatan itu, kicauan burung tak pernah lepas dari telinga. Suaranya begitu dekat.

Belum juga sampai ujung, langkah Nur terhenti. Lelaki yang menemani perjalanan kami itu tampak menghela napas. Ia mendapati lima bocah ber-selfie riuh di atas jembatan gantung jalur interpretasi Ciwalen, PTN Mandalawangi. "Kalian sudah izin belum? Naik ti (dari—Red) mana?" hentak Nur yang berdiri 5 meter dari rombongan itu.

Lima bocah saling pandang, berharap ada kawan yang menjawab. "Ma-af belum kang, kami gak dari pos," kata salah seorang di antaranya terbata. Sementara seorang lain, merambat mundur agar tak terlibat perdebatan kecil itu.

Angga, bocah yang menjawab tadi, mengaku menjejaki kawasan Ciwalen dari Kebun Raya Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), yang memang berbatasan dengan TNGGP. Nur kemudian meminta kawanan itu turun. Tak lupa, nama mereka dicatat.

Nur mengungkapkan, setidaknya memang ada 4 jalur ilegal menuju canopy trail. “Sudah kami antisipasi, dipagari, pasang kawat berduri. Tetapi ada saja yang menjebol, terutama masyarakat sekitar. Maklum ABG,” ujarnya terkekeh.

Saat bercerita, Nur terlihat gemas, sambil sesekali tangannya memegang kawat seling bercat hijau. Ia pun melanjutkan, sebagian pengunjung kerap melakukan aksi vandalisme. Entah itu ngopi di atas jembatan, atau kadang jingkrak-jingkrak. “Kami khawatir jembatan rusak karena kelebihan muatan dan jatuh,” ucapnya serius.

Itu sebab, pengunjung wajib ditemani petugas atau sahabat Taman Nasional untuk mengakses fasilitas ini. Biaya pendampingan sebesar Rp 50 ribu per kelompok. “Ya ini untuk sahabat Taman Nasional yang menemani,” ujar Nur.

Para relawan itu, menurut Nur, sangat membantu tugas Balai Besar TNGGP. Mereka awasi pendaki, membersihkan sampah dan melakukan kegiatan search and rescue (SAR), juga memadamkan api kebakaran hutan.

Lewat canopy trail, pengelola TNGGP menawarkan kemudahan menikmati bentang alam. Namun sudah selayaknya pula, penyediaan fasilitas wisata ini tak abai terhadap keberlanjutan ekologis di kawasan.

(Nurika Manan)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!