Menyaksikan Gerhana Matahari Total. (Foto: Muji Lestari)

KBR, Jakarta - Hari itu Sabtu, 11 Juni 1983. Suasana mencekam. Pintu dan jendela bangunan tertutup rapat. Orang-orang diam di rumah. Pemerintah lewat Menteri Penerangan Harmoko mengumumkan, akan terjadi Gerhana Matahari Total. Dan, fenomena alam ini menurut pemerintahan Soeharto, berbahaya. Menyebabkan kebutaan bagi siapa saja yang melihat dengan atau tanpa alat bantu. Serentaklah para menteri lain menggaungkan informasi serupa.

Pemerintah, saat itu melengkapi larangan menyaksikan gerhana matahari total tersebut dengan sejumlah data (Kompas, 16 Mei 1983). Menurut data tersebut, di Australia terjadi 3.500 kasus kebutaan saat gerhana matahari total 1912.

Pratiwi, perempuan asal Semarang itu tak pernah lupa kesan menakutkan yang dibangun lewat peristiwa Gerhana Matahari Total. "Waktu itu gelap sekali. Kami semua takut, semua jendela dan pintu rumah ditutupi dengan koran. Saya disuruh orang tua saya untuk bersembunyi", cerita Pratiwi kepada KBR di kawasan Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Rabu (09 Maret 2016).

Larangan keluar rumah saat Gerhana Matahari Total ditandai dengan bunyi kentongan atau bebunyian lain.

Melalui satu-satunya media informasi, TVRI dan RRI, pemerintah gencar menyampaikan pesan akan bahaya gerhana matahari total. Jika tetap ingin menyaksikan, masyarakat bisa menonton lewat siaran TVRI. Atau cara amannya, menyaksikan bayangan gerhana di lantai setelah sinar melalui celah-celah bangunan.

Padahal tahun itu, Pulau Jawa menjadi lokasi terbaik untuk pengamatan gerhana. Dan, posisi terbaik itu baru akan didapatkan lagi pada 2100. Beberapa sumber menyebut, sejak 1981 sebetulnya sejumlah daerah telah menyiapkan kegiatan untuk mengamati fenomena ini. Namun pada Februari 1983, propaganda pemerintah soal bahaya gerhana matahari total mulai digencarkan.

“Saya baru diperbolehkan keluar dari persembunyian di kamar oleh orang tua setelah mendengar bunyi kentongan dari warga sekitar,” kenang Pratiwi.

Hari ini Rabu, 09 September 2016. Gerhana Matahari Total (GMT) kembali terjadi. Berbeda dengan 33 tahun silam, ini kali pemerintah tak melarang. Kentongan tak lagi berbunyi. Orang malah berbondong-bondong keluar rumah, mendatangi daerah yang dilewati gerhana matahari total.

Bertahun-tahun setelah imbauan Suharto tentang bahaya gerhana matahari total, informasi tentang fenomena ini berangsur terbuka. Kelompok pegiat astronomi menyatakan, memang berbahaya melihat langsung gerhana matahari dengan mata telanjang. Sebab sinar gerhana matahari bisa membakar retina dan menyebabkan kebutaan. Tapi tak lantas kita melewatkan keindahan peristiwa ini.

Cara aman menyaksikan peristiwa sejajarnya tiga benda angkasa—bumi, matahari dan bulan—ini adalah dengan menggunakan alat bantu. Alat bantu itu bisa berupa teleskop yang dilengkapi filter atau plastik film hitam putih (klise) untuk fotografi.

Tahun ini, ada 12 Provinsi yang dilewati gerhana matahari. Di Jakarta, ratusan orang berduyun-duyun ke Planetarium, Kawasan Cikini, Jakarta. Bahkan ada yang menunggu sejak pukul 02.00 WIB dini hari untuk menyaksikan fenomena langka ini. Planetarium membagikan gratis 4700 kacamata gerhana, menyiapkan 8 teleskop dan 1 teleskop proyeksi. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat secara seksama pergerakan matahari hingga terjadi gerhana.

Dari Bekasi, Pratiwi berangkat pukul 06.00 WIB pagi. Tiba di Planetarium, ia dan anaknya kehabisan kacamata. "Saya dari rumah jam 6 pagi, dan suasana sudah ramai. Sebenarnya saya tidak membayangkan sebelumnya kalau suasananya akan seramai ini disini. Semalam anak saya searching di internet kalau disini ada acara nonton gerhana," ungkapnya.

Meski begitu, ia masih bisa menikmati fenomena ini dengan saling meminjam kacamata 3D. “Dengan begini masyarakat bisa kumpul tanpa memedulikan latarbelakang apapun. Beberapa pengunjung ada yang bergantian menggunakan kacamata 3D, karena kan tidak semua pengunjung bisa mendapatkan kacamata tersebut dari penyelenggara,” kata dia.

Pratiwi berujar, peristiwa ini patut disyukuri oleh masyarakat. “Sekarang ini semua masyarakat bisa bebas menyaksikan fenomena tersebut tanpa larangan. Bahkan, bisa memperkaya ilmu pengetahuan anak dan semakin mengakui soal keagungan tuhan,” pungkasnya.

(Nurika Manan)

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!