sate Brebes, sate Brebes Pamulang, sate Brebes empuk, sate enak

Sate Tegal, sate Madura, sate Solo? Ah, semua biasa. Bahkan sate berjudul balibu (di bawah lima bulan) pun lewat dengan sate satu ini.

Dari aspek tampilan bumbu dan cara bakar, barangkali sate Brebes pak Kursin ini tak beda dengan sate lainnya. Ada bumbu kacang, ada bumbu kecap.

Tapi tunggu dulu. Begitu sate matang sudah tersaji dan potongan-potongan daging kambing itu masuk ke mulut, Anda bakal merasakan sensasi yang berbeda dengan sate kebanyakan.

Ya, di sinilah letak keistimewaan sate kambing yang warungnya terletak di dekat Universitas Pamulang ini. Tekstur daging kambingnya murni, tanpa urat, tanpa lemak menempel. Tak heran begitu potongan daging yang sudah dibakar ini masuk ke mulut, kita tak perlu susah payah mengunyah. Begitu lembut, empuk, seolah lumer mengikuti gerak gerigi kita.

"Daging muda pun, kalau hanya dipotong-potong biasa, ya pasti ada alotnya. Digigit sini, lari ke sana," kata Kursin. Kelebihan sate bikinan tiyang Brebes ini memang terletak pada cara memotong daging kambing. Dari paha-paha kambing yang digantung, ia menyayat dan tidak segera memotongnya menjadi potongan kecil seperti biasa kita lihat di warung-warung sate lainnya.

Duduk di kursi, gagang pisau tajam itu ia taruh di perutnya. Ujung pisau yang tajam menempel di papan kayu di depannya. Bilah tajam menghadap ke atas. Lantas dengan kedua tangannya, ia pegang potongan daging paha yang sudah disayat. Kursin pun mulai memilah-milah, bagian urat dan lemak -- berwarna putih -- ia lepaskan satu per satu dengan menggunakan gagang pisau yang terus menempel di perutnya. Jadi berbeda dengan kita waktu memotong daging. Bukan pisau yang mengarah daging, melainkan sebaliknya, daging yang mengarah ke pisau. Seolah dengan begitu, daging bisa dipotong sesuai teksturnya.


Dengan telaten ia bersihkan seluruh bagian daging yang hendak dijadikan sate. Benar-benar tanpa urat sedikit pun. Hasilnya memang tak sebanyak kalau bagian urat dan lemak dijadikan satu. "Itu sebab harga sate di sini berbeda dengan sate-sate lainnya," kata Kursin.

Hasilnya, ya itu tadi, bagian daging yang terpisah sempurna dari urat dan lemak. Tanpa rasa alot atau kenyal sedikit pun. Meleleh ketika dikunyah -- seempuk daging presto.

Harganya, seperti yang ia bilang, memang beda. Satu porsi (10 tusuk) tanpa lemak ia bandrol Rp 50 ribu. Sedangkan sate campur lemak satu porsi Rp 40 ribu. Jangan lupa pesan gulai kambingnya juga. Potongan dagingnya besar-besar dan empuk. Harganya Rp 20 ribu.

Tak suka daging kambing? Jangan khawatir, warung pak Kursin pun menyediakan sate ayam.

Jam buka warung ini jam 13.00 dan tutup hingga sekitar pukul 21.00 -- tergantung persediaan satenya sudah habis atau belum.

Tertarik?

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!