upacara potong gigi bali, potong gigi bali

Kehidupan seorang manusia keturunan Hindu Bali tak pernah lepas dari upacara adat dan keagamaan, sejak ia dilahirkan hingga akhir hayatnya. Berbagai ritual keagamaan yang digelar oleh masyarakat Bali, diperuntukan sebagai penyeimbang, baik kehidupan manusia dengan Sang Khalik, manusia dengan alam dan kehidupan sesama manusia. 


Salah satu upacara keagamaan yang masih dijalankan masyarakat Bali adalah tradisi potong gigi. Dalam bahasa lokal, ini disebut dengan Metatah atau Mepandes atau Masangih. Tradisi Mepandes ini digelar saat seorang anak sudah menginjak usia dewasa – yaitu menstruasi untuk perempuan dan membesarnya suara untuk laki-laki. 


Dalam kepercayaan masyarakat Hindu Bali, upacara adat Mepandes adalah salah satu rangkaian kegiatan ritual keagamaan yang diniatkan untuk mengendalikan enam sifat buruk dalam diri manusia. Keenam sifat buruk manusia itu disebut dengan Sad Ripu:  Hawanafsu, keserakahan, kemarahan, mabuk membutakan pikiran, perasaan bingung, dan Iri hati.


Upacara


Beberapa waktu lalu Ni Putu Adelia Kesumanigsari menjalani upacara potong gigi yang dihelat ayahnya, I Ketut Sukarya. Upacara digelar di rumah mereka di Banjar Baru, Kecamatan Megwi, Kabupaten Mangupra. 


Sebagai cucu ke-7, Adelia akhirnya melakukan upacara ini pada usia 20 tahun. 


“Saat itu 3 Juli 2012,” katanya. 


Menurut Adel, hanya orang yang sudah menginjak usia dewasa saja yang boleh melaksanakan upacara ini. 


“Di keluarga kecilku, aku anak pertama. Adikku ikut juga dalam upacara ini, karena kami sudah mengalami menstruasi, artinya sudah masuk fase lajang,” katanya. 


Adel menambahkan, Upacara Mepandes ini adalah kewajiban dari orangtua kepada anak-anaknya. Alasannya, sudah sepantasnya  orangtua memberikan petuah  yang baik agar sifat-sifat jelek yang ada  pada anak-anaknya bisa dikendalikan. 


Tidak seram 


Upacara potong gigi di Bali tidak seseram namanya. 


Di upacara ini gigi tidak betul-betul dipotong tetapi sebatas dikikir. Yang dikikir adalah enam gigi pada rahang atas, yaitu empat gigi seri serta dua taring kiri  dan kanan. Jika gigi ini dihilangkan, warga percaya kalau enam sikap buruk yang melekat itu bisa dihilangkan. 


Prosesnya-pun sangat panjang. Keluarga besar melakukan persiapannya selama 3 bulan untuk upacara Mepandes. Oleh sebab itu, umumnya acara tradisi unik ini dirangkai dengan upacara keagamaan lainya, seperti Ngaben atau Pernikahan  


“Sehari sebelumnya aku harus berjalan beriringan berkeliling desa atau istilahnya Meleladan, salah satunya. Dan pada hari H-nya kami dirias dan harus bangun jam 4 pagi.”


Selain persiapan waktu yang tidak sebentar, Adel menjelaskan, upacara Mepandes membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sebab ada banyak perlengkapan sesajen yang diperlukan, juga seabrek sanak saudara yang diundang.  


Masyarakat Bali menyiasatinya dengan melakukan metatah secara beramai-ramai atau digabungkan dengan rangkaian upacara adat lainnya 


“Untuk menghemat biaya,” kata Adel. 


Menurut dia, keluarga besarnya sepakat mengadakan upacara ini bersama-sama. Soalnya budget upacara ini besar sekali, mencapai ratusan juta” tegas perempuan berparas cantik ini.  


Adel yang tercatat sebagai mahasiswi Psikologi Universitas Udayana, sangat merasakan pentingnya makna dari upacara Metatah ini dalam pembentukan identitas dirinya. Secara psikologis, setelah mengikuti tradisi potong gigi, ia merasa lebih tenang dan seperti terlahir kembali. 


“Dengan melakukan upacara metatah, aku menjadi lebih siap untuk menjalani kehidupan sebagai manusia dewasa,” jelas Adel. 


Bagi remaja Bali, upacara ini sangat penting dalam pembentukan identitas diri, budaya, dan spiritual.” 


Karena itu sejak kecil pergaulan remaja di Bali diberikan sesuai ajaran Ida Sang Hyang Widhi Wasa (Tuhan). Penelitian yang dilakukan oleh Center for Indigenous and Health Psychology Udayana, pusat studi psikologi kesehatan dan kearifan lokal di Bali, juga menunjukkan hasil serupa. Penelitian menunjukkan bahwa Mepandes dimaknai bukan saja sebagai ritual keagamaan, Mepandes juga dianggap sebagai sarana pembentukan identitas diri.


Wisata 


Upacara berlangsung dengan khidmat, meski panjang. Upacara berlangsung sakral dan panjang. 


Mepandes sesungguhnya berpotensi untuk menjadi daya tarik wisata sebagaimana Ngaben. Namun, kesakralan upacara ini membuat wisatawan tidak leluasa. Untuk menjaga kesucian, pengunjung harus digendong untuk masuk kepelataran rumah. Bahkan, keluar rumah juga memberi  kesempatan bagi hal-hal buruk yang tidak kasat untuk menyerang. 


Di sekitar bale tempat menunggu-pun hanya ada pandita sebagai pemimpin upacara keagamaan, sangging yang bertugas mengasah gigi, dan ibu kandung yang akan menjemput sebelum sangih dilakukan. Meski demikian, tidak seluruh keluarga menganggap upacara ini harus sedemikian tertutup dan sakral.


Bali memiliki banyak berbagai warisan budaya leluhur yang masih tertanam dan melekat erat di tengah masyarakat. Masyarakat, kita semua bertekad mempertahankan tradisi supaya tidak tergilas atau bergeser karena pengaruh dunia modern. Walaupun zaman sudah berkembang, namun ritual terus dijaga. 


“Mereka tetap menjalankan ritual keagamaan. Itu salah satunya, potong gigi,” pungkas Ade. 


Editor: Citra Dyah Prastuti

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!