Kantong Plastik Berbayar, Mulai Diterapkan Hari Ini

Menurut survey, 80 persen koreponden menghendaki harga plastik berbayar berkisar antara Rp500 sampai Rp1500. Namun karena ini baru uji coba, jadi diterapkan dulu Rp200.

Minggu, 21 Feb 2016 19:00 WIB

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, saat meluncurkan Program Kantong Plastik Berbayar di Kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Minggu (21/02/2106)

KBR, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK, Minggu (21/02/2016) meluncurkan program kantong plastik berbayar. Peluncuran ini bertepatan dengan puncak Hari Peduli Sampah Nasional 2016 di mana deklarasi Indonesia Bergerak untuk Bebas Sampah 2020 dicanangkan di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta.

Deklarasi ini serentak dilaksanakan di 34 provinsi dan ratusan kota di Indonesia.  Sekitar 800 komunitas di nusantara ikut mendukung program ini.  Di Jakarta sendiri ada 35 komunitas yang mendukung, salah satunya Komunitas Backpaker Care Indonesia dan Komunitas Peduli Sampah.

Menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan KLHK, Siti Nurbaya, program ini untuk mendorong perilaku masyarakat agar lebih bijak menggunakan kantong plastik. Jika berhasil, maka akan dijadikan peraturan menteri atau Permen.

Uji coba penerapan ini diberlakukan pada ritel modern atau pasar swalayan yang merupakan anggota Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), per hari ini. Jika berhasil, program ini akan dikembangkan pada pasar tradisional.

Harga minimal yang diterapkan secara nasional adalah Rp 200 per kantong plastik. “Menurut survey, 80 persen koreponden menghendaki harga plastik berbayar berkisar antara Rp500 sampai Rp1500. Namun karena ini baru uji coba, jadi diterapkan dulu Rp200. Tapi, di Makassar, misalnya, mereka rencananya akan menerapkan harga kantong plastik  Rp4500,” ujar Siti Nurbaya.

Untuk melihat apakah ada perubahan pola prilaku konsumen terhadap pengurangan penggunaan kantong plastik ini, pemerintah akan mengevaluasi tiga hingga enam bulan ke depan. Selain di Jakarta, program plastik berbayar ini akan dilakukan di 22 kabupaten/kota di Indonesia.

Usai acara peluncuran program kantong plastik berbayar, KBR mengecek program ini melalui berbelanja di pasar swalayan modern yang berada di kawasan Jalan Gajah Mada, Jakarta. Tampak kasir mulai menerapkan dan menyosialisasikan program plastik berbayar ini. “Mau pakai kantong atau tidak, Pak? Kalau pakai kantong kena Rp 200 mulai hari ini,” ujar kasir kepada pelanggan.

Esensi Kantong Plastik Berbayar

Menurut  Kepala Biro Hubungan Masyarakat KLHK, Novrizal, program kantong plastik berbayar ini bukan soal pungutan Rupiah. “Esensinya adalah kalau menghasilkan sampah ada beban ekonomi atau disinsentif ekonomi. Kita bukan menarik dari nilai Rupiahnya. Tetapi diharapkan dengan program ini prilaku masyarakat bisa berubah, misalnya dengan membawa kantong sendiri dari rumah,” ujar Noprizal.

Esensi lainnya adalah untuk mendorong spririt pengurangan sampah, yang dalam hal ini adalah sampah plastik. Menurutnya, jika sampah yang dihasilkan berkurang karena dipilah dan didaur ulang di masing masing rumah, maka tak ada ada sampah yang sampai di TPA.

Data dari Dirjen Pengelolaan Sampah, Limbah, dan B3 Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), rata-rata setiap hari orang berbelanja membawa pulang tiga kantong plastik yang hanya akan menjadi sampah dalam hitungan setengah jam. Setiap toko rata-rata melakukan 100 transaksi per hari dan mengedarkan 300 kantong plastik. Artinya hanya untuk 100 toko saja, sudah ada 30.000 kantong plastik per hari atau sekitar 10.95 juta per tahun.

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Ikhtiar Membentengi Anak-anak Muda Dari Radikalisme

  • Kepala Korps Brimob soal Penganiayaan Anggota Brimob Terhadap Wartawan LKBN Antara
  • Wakil Ketua KPK Laode M Syarief Soal Sikap KPK Terhadap Pansus Angket KPK Di DPR
  • Mendikbud Muhajir Effendy Soal Penerapan Sekolah Lima Hari Sepekan
  • Jadi Kepala UKP Pembinaan Pancasila, Yudi Latif Jelaskan Perbedaan dengan BP7
  • Siti Nurbaya: Lestarikan Lingkungan Perlu Kejujuran

Stasiun Bogor Kebanjiran Wisatawan Lokal

  • Libur Lebaran, Puncak Macet 6 KM
  • Muncul ke Publik, Duterte Sebut Sepupunya Tewas di Marawi
  • Inter Lepas Penyerang Masa Depan Brasil, Gabigol

Mudik seakan menjadi rutinitas tahunan dalam menyambut Hari Raya Idul Fitri. Bagaimana kesiapan fasilitas sarana dan prasarana mudik tahun ini? Apakah sudah siap pakai untuk perjalanan pemudik?