Peneliti London Rancang Sistem Pelacak Isu Palsu di Internet

Sebuah detektor kebohongan untuk jejaring sosial sedang dibangun untuk memastikan benar-tidaknya isu yang ada di dunia maya. Hal ini sekaligus untuk mengetahui soal keberadaan akun pada jejaring sosial yang kerap untuk menyebar informasi palsu.

Kamis, 20 Feb 2014 21:50 WIB

Peneliti London, Pelacak Isu Palsu, di Internet

KBR68H - Sebuah detektor kebohongan untuk jejaring sosial sedang dibangun untuk memastikan benar-tidaknya isu yang ada di dunia maya. Hal ini sekaligus untuk mengetahui soal keberadaan akun pada jejaring sosial yang kerap untuk menyebar informasi palsu.
 
Tujuan detektor ini untuk membantu organisasi, termasuk pemerintah dan pelayanan darurat, untuk merespon secara efektif sebuah peristiwa. Proyek ini berawal dari penelitian yang didasarkan pada penggunaan media sosial dalam kerusuhan di London pada 2011 lalu.
 
“Ada saran setelah kerusuhan 2011 bahwa jejaring sosial semestinya dihapuskan, untuk mencegah para pelaku kerusuhan menggunakannya untuk melancarkan tujuannya,” kata Peneliti utama proyek ini di University of Sheffield, Dr. Kalina Bontcheva.
 
Tidak dapat dipungkiri, jejaring sosial juga menyediakan informasi yang bermanfaat, tetapi tidak ada yang tahu info tersebut benar atau tidak.
 
“Jejaring sosial juga menyediakan informasi yang bermanfaat. Masalahnya itu semua terjadi begitu cepat dan kita tidak dapat dengan cepat memilah kebenaran dan kebohongan,” ujar Dr Bontcheva.
 
Sistem, kata ia, akan mengkategorikan sumber-sumber informasi yang sesuai dengan ketentuan. Misalnya, menilai otoritas penyebab informasi seperti kantor berita, ahli, saksi mata, anggota masyarakat dan akun anonim di jejaring sosial. Sayangnya, sistem ini tidak akan menganalisis sebuah gambar.
 
 “Kami tidak akan menganalisis sebuah gambar, terlalu sulit secara teknis untuk mencari apakah foto tersebut telah diubah,” ungkapnya.
 
Para peneliti mengatakan bahwa isu dunia maya akan di klasifikasikan dalam 4 jenis:

1. Spekulasi – seperti suku bunga yang akan naik
2. Kontroversi – seperti sesuatu yang mirip tetapi bertentangan
3. Informasi yang keliru – sesuatu yang tidak benar tersebar dan tanpa disadari
4  Disinformasi – informasi palsu disebarkan dengan niat jahat

Sumber: BBC
Editor: Anto Sidharta

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Dirjen AHU Freddy Harris soal Pencabutan Badan Hukum Ormas HTI

  • Bagi-Bagi Kopi di Filosofi Kopi 2
  • (Wawancara) Batal Temui Luhut, Senator Australia Kecewa
  • PDIP: Jika Tak Kompak Dukung Pemerintah, Silakan PAN Keluar Dari Koalisi
  • Indonesia Turki Sepakati Perangi Terorisme Lintas Negara
  • Alasan Polisi Hentikan Kasus Kaesang

Permintaan PAN Mundur Dari Kabinet Bisa Jadi Masukan Presiden

  • Dua Eksekutor Penembak Gajah di Aceh Tengah Ditangkap
  • Diduga terkait Terorisme, Kuwait Usir Duta Besar Iran
  • Marcos Rojo Terancam Absen sampai 2018

Perkawinan anak dibawah usia minimal, menjadi hal memprihatinkan yang seharusnya menjadi perhatian dari pemerintah apabila benar-benar ingin melindungi anak-anak sebagai generasi penerus Bangsa.