Perjalanan liburan Imlek membawa kami ke “Pulau garam”, mengenal Madura yang ada dalam pikiran saya adalah Sate Madura. Wajah kota Pamekasan masih terlelap ketika kami melanjutkan perjalanan dari rumah mbak Arris tempat kami bermalam menuju desa Tanjung kecamatan Pademawu. Sengaja pagi-pagi buta kami datang ke desa Tanjung untuk memotret sunrise Pantai Jumiang. Ditemani secangkir kopi dengan sabar kami menunggu datangnya sunrise. Sepertinya cuaca mendung, suasana di Jumiang sudah terang tapi sunrise yang indah tak juga terlihat.

Dua jam berada di pantai rasa lapar mulai kami rasakan, mbak Arris mengajak kami sarapan Campur Lorjuk yang letaknya tak jauh dari Jumiang, dekat pasar Mongging desa Tanjung.

“Yuk kita sarapan campur lorjuk,” ajak mbak Arris dengan semangat.

Tanpa bertanya-tanya kami ikut saja ajakan mbak Arris, sepanjang jalan yang kami temui suasana pedesaan yang masih asri, di kiri dan kanan jalan di antara rumah penduduk terlihat sawah menghijau. Tak lama sampailah mobil yang membawa kami di halaman sebuah warung makan sederhana di pinggir jalan.

Di dapur terlihat dua orang perempuan sibuk menggoreng dan menyiapkan menu, tak terlihat ada pengunjung selain rombongan kami. Di luar ada dua bangku atau bale-bale bambu yang cukup lebar, muat untuk menampung rombongan kami. Di dinding tertempel sebuah papan nama sederhana dengan cat warna merah tulisan “Kuliner Campur Lorjuk Depahla”.

Rasa penasaran saya datang sebenarnya kami ini akan sarapan apa, saya pun bertanya kepada mbak Arris.

“Mbak Arris lorjuk itu makanan apa?”  tanya saya penasaran.

“Lorjuk itu sejenis kerang-kerangan,” jelas mbak Arris kepada saya.

Tak berapa lama datanglah semangkuk Campur Lorjuk, dengan seketika kami langsung mendekat. Rasa penasaran saya terjawab sudah, tersisa 15 mangkuk lagi pesanan kami yang belum datang. Sambil menunggu pesanan datang kami diperbolehkan masuk ke dapur melihat lorjuk yang masih mentah, bentuknya menyerupai kerang bambu, panjangnya kurang lebih 3 sentimeter. Lorjuk hidup di pantai berpasir atau berlumpur, banyak ditemui ketika air pantai surut.

Tidak sampai 30 menit satu per satu pesanan kami datang siap disantap. Campur Lorjuk terdiri dari potongan lontong, soun, tauge, peyek dan tentunya lorjuk itu sendiri. Kuahnya terbuat dari kaldu rebusan lorjuk dengan racikan bumbu-bumbu bawang merang, bawang putih, pala, jahe, merica, cabe merah dan garam, ditambah potongan daun bawang.

Tampilannya seperti soto, aroma dan rasanya gurih. Apalagi disantap dengan suasana pedesaan yang asri sambil memandang hijaunya sawah di seberang warung makan.


Pengunjung mulai berdatangan untuk sarapan Campur Lorjuk, sedangkan kami siap melanjutkan perjalanan setelah membayar per mangkuk Campur Lorjuk seharga Rp. 7.000.

Bagikan berita ini :

Komentar

Beri Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!